Angkasa Pura 2

Prof. Josaphat Tetuko Pencipta Radar Satelit Itu Pernah Terancam Dikeluarkan Dari SD

Figur Kokpit SDMSelasa, 17 Januari 2017
Josaphat-Tetuko-Sri-Sumantyo-1

TANGERANG (Beritatrans.com) – Prof Josaphat Tetuko Sri Sumantyo PhD lahir di Pangkalan Udara (Lanud) Atang Sulaiman, Bandung, Jawa Barat. Pada usai 5 tahun, ia pindah ke Lanud Panasan Solo, yang sekarang bernama Bandara Adi Sumarno, Surakarta.

Di Kota Budaya inilah, Jos, sapaan akrab dia memulai pendidikan dari SD sampai SMA I Surakarta. Sebagai anak kolong, putra seorang anggota TNI dan tinggal di asrama- Jos kecil memang suka berantem. Pulang ke rumah, lebam-lebam dan kotor usai berantem itu sudah biasa.

Sampai kelas III SD, nilainya sangat jelek, bahkan sempat akan dikeluarkan dari sekolah. Hal itu terjadi karena nilai raportnya merah semua dan memang saat itu belum bisa membaca dan menulis

Bermula dari kasus itu, bahkan ibunya sampai menangis karena dipanggil pihak sekolah dan diminta mencari sekolah lain. “Sesampainya di rumah, diakaget, dan mengapa ibu mengangis,” katanya saat itu.

“Ibu pun menjawab semua ini karena kamu, nilai kamu jelek semua. Akhirnya, Ibu diminta mencari sekolah lain. Sejak itulah saya bangkit dan belajar keras. Dari semula ranking ke-23, akhirnya berbalik menjadi ranking 1. Begitu selanjutnya saat di SMA dan SMA Negeri I Surakarta,” katanya sambil tertawa saat memberikan Kuliah Umum di Kampus STPI Curug Sekasa (17/1/2017).

Berkat keberhasilannya itulah, akhirnya ia bersama ribuan putra berprestasi zaman Pak BJ Habibie menjadi mensristek/Kepala BPPPT menjaring putra terbaik dan memberikan beasiswa ke berbagai negara maju. “Saya lolos dan akhirnya melanjutkan sekolah ke Shina University Jepang,” jelas Jos.

Sejak awal, dia memang ingin membuat radar. Itu semata-mata terinspirasi tugas dan tanggung jawab ayah, anggita Paskhas TNI-AU. Indonesia sebagai negara besar, tapi semua alat-alat utama persenjaraan (alutsista) buatan asing.

“Mengapa kita tidak membuat sendiri? Sejak saat itulah saya belajar dan berjuang, bagaimana membuar radar untuk meringakan tugas manusia sekaligus ikut enjaga dan mengamana NKRI,” papar Jos.

IMG-20170117-WA0083

Banyak Radar Ciptaannya

Prof Kos, kini telah melahirkan sejumlah antena tipis mikrostrip untuk keperluan mobile satellite communications masa depan yang telah diuji dengan menggunakan Japan Engineering Test Satellite (ETS-VIII).

Setelah menunjut ilmu di Negeri Sakura, akhirnya cita-cita Jos bisa terwujud, melalui kerja keras dan hasil penelitiannya, akhirnya ia berhasil mencipatakan radar, mulai Radar Bawah Permukaan, Radar Satelit dan lainnya.

Karya terbarunya adalah circularly polarized synthetic aperture radar (CP-SAR) sensor yang bisa dipasang pada pesawat tanpa awak bernama Josaphat Experimental Aircraft JX-1 dan microsatellite untuk monitoring permukaan bumi di masa depan.

Rencananya produk ini akan diluncurkan lima tahun mendatang. Sensor CP-SAR ini mengatasi kelemahan-kelemahan sensor observasi bumi atau penginderaan jarak jauh pendahulunya. Selain itu, sensor ini mampu menembus awan, kabut, asap, bahkan kelebatan hutan, serta tidak terganggu oleh pengaruh Faraday rotation di lapisan ionosfer dan perubahan posisi platform satellite.

Penelitian terbaru lainnya berupa teknologi untuk membuat antena dengan ukuran dua mikron untuk keperluan alat komunikasi dan medis masa depan, seperti radar yang sangat kecil, robot mikro, serta array antenna untuk pemindaian partikel darah dan pergerakan otot.

Pria kelahiran Bandung, 25 Juni 1970, ini sedang mengembangkan GPS SAR atau sistem radar imaging dengan menggunakan sinyal GPS untuk keperluan pemetaan permukaan bumi hingga pelacakan pesawat dan kapal siluman (stealth). Yang mencengangkan, karya-karyanya selama ini sudah terekam dalam bentuk paten di 118 negara, misalnya antena untuk pesawat, bullet train, roket dan smart car masa depan.

Selain mengajar di alamamternya, Shiba University, Jos juga menjadi visiting professor, adjunct professor dan head division di Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Padjajaran, Universitas Hasanuddin dan Universitas Gadjah Mada.(helmi/berbagai sumber)