Angkasa Pura 2

Masih Ada Calo Berkeliaran di Terminal Bus Tirtonadi

KoridorThursday, 26 January 2017

JAKARTA (beritatrans.com) – Terminal Tirtonadi Surakarta, Jawa Tengah, ditahbiskan sebagai terminal bus penumpang percontohan yang mengikuti standard pelayanan minimum (SPM) Penyelenggaraan Terminal Penumpang yang dibuat Kementerian Perhubungan (Kemhub) tahun 2015. Sayangnya di terminal berstandar nasional yang belum lama diresmikan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi itu masih ada praktik percaloan yang meresahkan calon penumpang.

Kejadian ini dialami oleh Ny. Rosita Setiawati, salah seorang penumpang yang memanfaatkan pelayanan terminal yang kabarnyaa telah menggunakan sistem zonasi tersebut, pada Selasa (24/1/2017) lalu.

Kepada beritatrans.com dan Tabloid Mingguan Berita Trans, Ny. Rosita menuturkan kejadian yang sempat membuat dia bertengkar dan melabrak calo tersebut.

“Kita ditarik dan dipaksa naik bus yang nggak jelas. Terus dimintai uangnya duluan. Katanya dia (calo) yang mau beliin tiketnya dengan harga yang gak masuk akal,” kata Ny. Rosita melalui pesan elektronik.

Saat itu, Ny. Rosita hendak menuju ke Madiun dengan menggunakan jasa bus dari Terminal Tirtonadi. Ia mengaku tujuan sebenarnya adalah ke Ponorogo untuk mengunjungi putranya yang sedang belajar di Pondok Modern Gontor dan dikabarkan sedang dirawat karena sakit.

Ia sengaja bertransportasi dengan cara seperti itu karena ingin sampai ke tujuan pada hari itu juga. Sebelumnya dari Jakarta dia menggunakan pesawat terbang ke Bandara Adisumarmo, Solo, karena hanya bandara itulah yang dia tahu jaraknya paling dekat ke Ponorogo. Dari Bandara Adisumarmo kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan transportasi darat, yakni bus dari Terminal Tirtonadi via Madiun.

“Oleh calo disuruh bayar Rp90 ribu per orang dan dipaksa suruh bayar ke dia,” katanya.

Prilaku calo yang membuat dia kesal dan balik melawan dengan kemarahan itu juga karena barang-barang bawaanya dilempar begitu saja ke dalam bus bagian belakang.

“Lah (kursi bagian depan) busnya kosong, masa kita dan barang-barang digiring ke belakang bus, terus dipepet suruh bayar ke dia. Ya saya lawan lah,” ujarnya.

Ia meminta pengelola dan pihak-pihak terkait, termasuk Kementerian Perhubungan agar menertibkan dan membersihkan praktik percaloan yang sudah mengarah ke tindak kriminal di terminal itu. Tindakan calo tersebut sangat meresahkan dan menciptakan rasa tidak aman bagi calon penumpang, apalagi bagi para perempuan.

“Terminalnya sih keren. Tapi tetep saja kalau calo-calo liar dan edan dibiarin menjamur, sama juga bohong,” ketusnya.

Beruntung dia kemudian berhasil mendapatkan bus dengan tujuan ke Madiun dengan harga tiket yang sangat jauh dari harga yang diminta oleh calo tersebut.

Seperti diberitakan sebelumnya, Terminal Bus Tirtonadi menjadi standar pelayanan terminal penumpang bus di Indonesia.

Di terminal ini terdapat beberapa zona antara lain, zona 1 untuk penumpang bertiket, zona 2 untuk zona penumpang belum bertiket, zona 3 sebagai zona perpindahan penumpang serta zona 4 sebagai zona pengendapan kendaraan.

“Zona-zona tersebut menyerupai konsep pelayanan yang telah dilaksanakan di Bandar Udara dan Stasiun Kereta Api saat ini,” kata Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi saat meresmikan operasional terminal tersebut akhir Desember 2016 lalu. (aliy)