Angkasa Pura 2

Ribuan Penumpang Batal Berlayar Dari Pelabuhan Kalianget

DermagaMinggu, 29 Januari 2017
berita_283527_800x600_Kapal_Perintis

SUMENEP (BeritaTrans.com) – Tak seperti biasa. Yang terlihat hanya perahu-perahu besar terparkir di sekitar dermaga. Begitupula dengan perahu kecil. Ya, terhitung sejak Jumat (27/1) jasa pelayanan transportasi Kepulauan Kalianget, Sumenep, lumpuh total.

Penyeberangan menuju sejumlah kepulauan tidak ada layanan. Seperti ke Pulau Kangean dan Masalembu. Pemberhentian aktivitas penyeberangan itu seiring terbitnya surat imbauan dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG).

Isinya tentang gelombang tinggi yang mencapai 3 meter. Demi keselamatan, layanan penyeberangan sementara dihentikan.

Bagian Lalu Lintas, Angkutan Laut, dan Usaha Kepelabuhanan Syahbandar Kalianget, Sumenep, Edi Sucipto menuturkan, BMKG melarang kapal-kapal skala kecil, sedang, dan besar untuk melaut.

”Larangan itu karena diprediksi ada gelombang tinggi hingga 3 meter,” katanya kepada wartawan Jawa Pos Radar Madura Sabtu (28/1/2017).

Akibat larangan itu, ratusan hingga ribuan warga yang hendak menyeberang ke sejumlah kepulauan harus gigit jari. Seperti yang terjadi pada Jumat (27/1). Warga dari Kepulauan Raas, tertahan di Pelabuhan Kalinget.

Sebab, saat itu bersamaan dengan waktu penetapan larangan BMKG. Mereka harus kembali menuju penginapan. Sebagian besar kembali ke rumah kerabat.

Edi mengungkapkan, kapal-kapal menuju dua kepulauan itu distop. Penyetopan sesuai dengan surat edaran yang berlaku pada 27–30 Januari 2017.

Berdasarkan perkiraan BMKG, tinggi gelombang di wilayah Kepulauan Kangean pada Jumat (27/1) yakni 0,8–2,5 meter. Sedangkan pada Sabtu (28/1), tinggi gelombang 0,8–3 meter. ”Besok (hari ini, Red) tinggi gelombang diperkirakan 0,8–3 meter, lalu Senin (30/1) tinggi gelombang diprediksi 0,8–2,5 meter,” katanya.

”Insya Allah Senin (30/1) kami berikan keleluasaan supaya layanan kembali dilakukan. Berani atau tidak untuk berangkat, itu kami kembalikan kepada nahkoda,” jelasnya seperti dikutip jawapos.

Lebih lanjut Edi mengatakan, selain wilayah Kangean, gelombang tinggi juga terjadi di wilayah Masalaembu. Tinggi gelombang di wilayah itu setinggi 0,8–2 meter. Pada Sabtu (28/1) tingginya 1–2,5 meter. Minggu (29/1) setinggi 1–2,5 meter, dan Senin (30/1) setinggi 0,8–2 meter.

”Kalau Raas dan Sapudi bisa dilalui 2–3 jam. Kapal besar insya Allah masih bisa,” tegasnya.

Hal itu karena dua pulau itu tergolong dekat dan tidak tercantum di BMKG. Penuturan dia, sejak ada surat edaran dari BMKG, pemilik kapal dan nakhoda tidak berani melaut. ”Mereka tidak berani, karena cuaca memang tidak memungkinkan,” katanya.

Sementara itu, Inayah, 31, salah satu penumpang asal Kepulauan Kangean mengaku, dia dan keluarga masih tertahan di Kota Sumenep. Sebab, tidak ada satu pun kapal yang berani berangkat menuju pulau yang dia tuju.

”Jumat lalu sampai ramai karena kapal menuju Pulau Raas mendadak tidak ada yang mau berangkat,” ujarnya.

”Kapalnya tiba-tiba tidak bisa datang. Kapal yang biasa dari Jangkar, katanya tidak berani karena ombak besar,” pungkas dia. (ray).

loading...