Angkasa Pura 2

Ini Dia Gaya Rocker Suriawan Wakan Taruna STPI Zaman Baheula

Figur SDMRabu, 8 Februari 2017
2017-02-08 23.21.51

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Di luar penampilan rapi dan jalan tegap sebagai taruna Sekolah Tinggi Ilmu Penerbangan (STPI), ternyata mereka tetap dibetot naluri anak muda.

Sebagai taruna, yang belum lama lulus dari SMA, emosi ingin eksistensinya diakui dan jiwa ‘pemberontak’ sulit untuk disingkirkan di tengah ketatnya pengasuhan di asrama Lembaga pendidikan di kawasan Curuq, Tangerang, Banten, tersebut.

Suriawan Wakan salah satunya. Menjadi taruna STPI tahun 1989, dia menilai hasrat hendak diakui oleh ‘dunia’ dan ‘pemberontakan’ terhadap tradisi konservatif di dalam asrama yang baru dijalani, harus diharmonikan dengan damai.

IMG-20170208-WA0010

Kanal terbaik melampiaskannya adalah dengan membuat grup band. “Beberapa taruna jurusan kelistrikan bandara sepakat melampiaskan emosi melalui musik dan lagu. Kebetulan ada peralatan lengkap band di asrama. Jadilah kita bikin aliran rock, kalau sekarang istilahnya metal,” ujar Suriawan, yang kini menjadi Senior General Manager Bandara Soekarno-Hatta.

Pilihan mengusung genre hard rock akhirnya menghadirkan ruh White Lion, grup musik hard rock/heavy metal yang berasal dari Amerika Serikat/Denmark dan dibentuk di New York City pada tahun 1983 oleh Mike Tramp dan Vito Bratta.

Band yang aktif pada tahun 1980-an dan awal 1990-an ini menerima status double platinum dengan lagu ke-8 “Wait” dan lagu ke-3 “When the Children Cry” dari album kedua mereka Pride.

“Lagu When the Children Cry itu yang favorit kami mainkan dan nyanyikan. Kebetulan saya yang menjadi vokalisnya,” tutur Suriawan Wakan, Rabu (8/2/2017).

IMG-20170208-WA0009

images

Walhasil, musik cadas pun sering bergema di tengah jeda belajar di asrama. Tak hanya musik dan lagu, kostum pun disesuaikan bak rocker sungguhan yang kerap tampil di depan ribuan penonton.

Kaos buntung dipadu celana yang ujung bawahnya dimasukkan ke sepatu lars sudah terasa xukup mereprentasikan seorang rocker, walapun sesungguhnya pekerja bangunan juga tak jarang berpenampilan seperti itu.

Terserah apa kata dunia, yang pasti anak-anak muda di asrama ini tetap keukeuh untuk terus bermusik cadas dalam mengisi waktu luang.

Performansi mereka juga tak mengecewakan. Setidaknya beberapa kali diminta tampil di acara di dalam asrama. Dan mereka semangat mereka semakin terpompa ketika memyaksikan sejumlah pemonton ikut jingkrak-jingkrakan.

Waktu juga yang akhirnya menyudahi kebersamaan mereka dalam bermusik. Masa studi harus berakhir. Saat acara perpisahan dicanangkan sebagai hari pamungkas penampilan mereka.

“Kami berlatih lebih baik lagi. Soalnya saat perpisahan akan ditonton ribuan orang, terutama orangtua dan keluarga. Makanya, kami harus habis-habisan beraksi,” ujar Suriawan Wakan.

Lalu sukses seperti penampilan saat itu dan bagaimana respon penonton?

“Semuanya berantakan. Saat kami akan tampil di acara perpisahan itu, listrik mati. Ya nggak mungkin tampil. Nasib…nasib..” cetus Suriawan sambil tertawa. (dien).