Angkasa Pura 2

Forum Rektor: Dosen Perguruan Tinggi Sebaiknya 40% Praktisi

SDMMinggu, 12 Februari 2017
IMG-20170207-WA0058

JAKARTA (Beritatrans.com) – Ketua Forum Rektor Indonesia Prof. Dr. Suyatno, M.Pd mengusulkan, kurikulum pendidikan tinggi di Indonesia sedikit diubah dengan muatan praktik yang lebih besar. Kurikulum pendidikan tinggi disesuaikan dengan kebutuhan pasar yaitu industri yang akan menjadi enduser atau pengguna lulusan perguruan tinggi di Tanah Air.

“Muatan dan materi kurikulum pendidikan tinggi disesuaikan dengan kebutuhan industri. Sebaiknya 40% dosen perguruan tinggi kita dari kalangan praktisi. Jadi, konsep link and match itu lebih diaktualkan,” kata Prof. Suyatno yang juga Rektor UHAMKA Jakarta saat dikonfirmasi Beritatrans.com di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, dosen atau pengajar perguruan tinggi di Indonesia sebaiknya lebih banyak mengakomodir para praktisi industri, sehingga bisa memberikan penguatan khususnya pengetahuan dan pengalaman praktis di lapangan.

“Dosen di perguruan tinggi, sebaiknya yang dari kalangan akademisi cukup 60%. Selebihnya diisi dari kalangan praktisi, tapi yang benar-benar professional dan ahli di bidangnya. Dengan begitu, lulusan perguruan tinggi kita lebih siap bekerja dengan porsi praktik lebih besar minimal 40% muatan kurikulum pendidikan yang ada,” jelas Prof. Suyatno.

Menurut Bendahara Umum PP Muhammadiyah itu, lulusan pendidikan tinggi di Indonesia baru dalam posisi siap latih, tapi belum siap bekerja. Tidak aneh jika mereka banyak yang belum diterima di tempat kerja, atau masih harus diberikan pelatihan lagi di tempat kerjanya.

Lulusan perguruan tinggi kita, menurut dia, masih harus dididik dan dilatih untuk siap bekerja meski mereka belajar sesuai prodi ada di perguruan tinggi tersebut. “Ke depan, kasus seperti itu harus dikurangi dengan memperbanyak konten praktis saat kuliah di kampus,” papar Prof. Suyatno.

Yang menjadi masalah sekarang, menurut dia, sesuai UU Guru dan Dosen, untuk menjadi dosen di perguruan tinggi minimal harus S-2. Ini masalah, karena tidak semua praktisi di industri sudah menempuh pendidikan ke jenjang S-2. Tapi, mereka sangat menguasai masalah teknis di lapangan.

“Perlu kebijakan lebih lanjut agar praktisi di industri bisa mengajar dan memberikan pencerahan kepada mahasiswa di perguruan tinggi Indonesia. Pada intinya, perlu perubahan muatan kurikulum pendidikan tinggi Indonesia pada ranah praktik bukan hanya teori yang bisa dihafal. Mereka perlu praktik ke lapangan sehingga saat kerja bisa langsung siap kerja di tempatnya,” kilah Prof. Suyatno.

Menghadapai persaingan global mendatang, tambah Prof. Suyatno, mahasiswa dan sarjana kita harus dibekali dengan pengalaman praktis dan siap bekerja di lapangan. “Mereka bisa langsung kerja, bukan harus berlatih dalam waktu yang lama dan kalah bersaing dengan tenaga kerja asing yang akan segera masuk ke pasar Indonesia,” tegas Prof. Suyatno.(helmi)