Angkasa Pura 2

Kemhub Ingatkan Kewaspadan Cuaca Ekstrim di Perairan Sepekan Kedepan

DermagaSelasa, 14 Februari 2017
IMG-20170211-WA0048

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Direktur Jenderal Perhubungan Laut, A. Tonny Budiono, mengeluarkan Maklumat Pelayaran No. 21/II/DN.17 tertanggal 13 Februari 2017, menginstruksikan kepada seluruh jajaran Direktorat Jenderal Perhubungan Laut terutama para Kepala Syahbandar dan para Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) agar tetap mewaspadai adanya cuaca ekstrim dan gelombang tinggi yang masih terjadi di sebagian wilayah perairan Indonesia.

Maklumat Pelayaran ini menurut Tonny, dikeluarkan menyusul peringatan dini dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofosika (BMKG) yang memperkirakan pada 12 hingga 18 Februari 2017 akan terjadi cuaca ekstrim.

“Diperkirakan dengan gelombang setinggi 2,5-4 meter serta hujan lebat disertai angin kencang dan petir pada beberapa wilayah perairan,” ujar Tonny di Jakarta, Selasa (14/2/2017).

Adapun perairan yang diperkirakan dengan gelombang tinggi, diantaranya :

1. Perairan Sabang, Perairan Bengkulu dan Pulau Enggano, Perairan Barat Lampung, Perairan Timur Kep.Riau dan Lingga, Laut Natuna, Perairan Kep.Natuna dan Anambas, Selat Sunda Bagian Selatan, Perairan Selatan Pulau Jawa, dan Perairan Kep. Sangihe-Talaud.

2. Perairan Bitung-Manado, Perairan Kep. Halmahera, Laut Arafura, Laut Timor, Perairan Sorong, Perairan Manokwari, dan Perairan Kep.Sula.

“Hal ini, sebagai upaya peningkatan keselamatan pelayaran, Dirjen Hubla mengingatkan kembali kepada seluruh Syahbandar untuk melakukan pemantauan ulang kondisi cuaca setiap hari melalui situs BMKG serta menyebarluaskan hasil pemantauan tersebut kepada pengguna jasa dengan memampangkannya di terminal atau tempat embarkasi/debarkasi penumpang,” urai Tonny.

Bila kondisi cuaca membahayakan keselamatan kapal, maka Syahbandar harus menunda pemberian Surat Persetujuan Berlayar (SPB), hingga kondisi cuaca di sepanjang perairan yang akan dilayari benar-benar aman.

Selain itu, kepada seluruh operator kapal khususnya para nakhoda agar melakukan pemantauan kondisi cuaca sekurang-kurangnya enam jam sebelum kapal berlayar dan melaporkan hasilnya kepada Syahbandar saat mengajukan permohonan SPB.

“Nakhoda juga melaporkannya kepada Stasiun Radio Pantai (SROP) terdekat,” imbuhnya. (omy)