Angkasa Pura 2

Iskandar Abubakar: Ketimbang LRT, Investasi Bus Transjakarta Layang Lebih Murah & Kapasitas Lebih Besar

Koridor Rubrik Iskandar AbubakarKamis, 16 Februari 2017
2017-02-16 21.04.24

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Pertengahan tahun ini, Pemda DKI Jakarta akan mengoperasikan jalur Busway Layang pertama di Indonesia di koridor Cileduk-Tandean.

Jalur busway ini melayang sepanjang 9,3 kilometer dari Cileduk melewati Blok M ke Jalan Tandean. Diharapkan jalur Busway ini akan menjadi solusi mengatasi kemacetan lalu lintas di DKI Jakarta.

Jalur ini khusus diperuntukkan untuk bus sehingga akan steril dari sepeda motor dan kendaraan pribadi yang menggunakan jalur busway. Dengan demikian, jalur ini akan benar-benar bebas dari kemacetan.

Permasalahan bisa timbul, kecuali bila ada bus yang mengalami mogok di ruas busway layang, untuk itu perawatan bus yang bersifat preventif akan menjadi kunci penting dalam keberhasilan operasional dari Busway Layang ini. Selain itu, sebaiknya didesain skema contigency plan agar kendaraan yang mengalami gangguan teknik dapat segera diatasi dan tidak mengganggu arus perjalanan bus Transjakarta lainnya.

busway layang

Jalur ini merupakan jalur padat yang sudah pernah direncanakan untuk menjadi rute Light Rail Transit (LRT) pada tahun 1990 dalam Studi Transport Network Plan and Regulation (TNPR) untuk kota Jakarta.

Namun rencana ini tidur sampai diangkat kembali pada tahun 2014-an dalam wujud Busway layang. Investasi busway layang jauh lebih rendah dari LRT, namun kapasitas angkutnya sama atau bahkan bisa lebih besar dari LRT.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta membiayai sendiri proyek ini dengan menggunakan anggaran biaya sebesar Rp 2,3 triliun, yang besarnya kurang lebih 250 Milyar rupiah per kilometer. Biaya ini jauh lebih rendah dari LRT yang biayanya bisa mencapai kurang lebih Rp1 triliun per KM. Masing-masing system memang mempunyai kelebihan dan kekurangan.

Dibandingkan dengan jalur Busway yang bisaa keunggulan Busway layang ini sangat besar karena tidak ada persimpangan yang harus dilalui, sehingga kecepatannya dalam hal ini journey speed akan meningkat secara drastis, dengan demikian kapasitas angkutnya juga akan meningkat.

Berdasarkan pengalaman di kota Guangzhou kapasitas angkut Busway layang mencapai 27 ribu penumpang per jam per arah.

Mari kita tunggu pengoperasian busway ini di pertengahan 2017 dengan harapan dapat menjadi solusi angkutan massal murah yang dibangun oleh Kontraktor lokal Indonesia.

Jalur Busway layang bisa kemudian di kembang luaskan di koridor lainnya di Jakarta maupun kota-kota besar lainnya di Indonesia maupun dunia.

Iskandar Abubaka mantan Dirjen Perhbungan Darat @iskandarabu