Angkasa Pura 2

Pemerintah Harus Bijak Sikapi Konflik Angkutan Umum Konvensional dan Angkutan Berbasis Aplikasi Online

Aksi Polisi KoridorKamis, 9 Maret 2017
2017-03-09-16-35-41-1728516207

JAKARTA (Beritatrans.com) – Pemerintah harus bijak menyikapi dinamika yang berkembang di dunia transportasi. Bisnis transportasi termasuk moda darat memang tak mungkin menghidari  penerapan sistem aplikasi online.

Maraknya aksi demontrasi menolak angkutan umum berbasis aplikasi online marak dimana-mana juga harus dicarikan solusinya.  Jangan sampai berkembang liar bahkan menjadi konflik sosial yang tidak diinginkan.

Yang terkini terjadi di Bandung Jawa Barat, Kamis (9/3/2017).  Polda Jawa Barat sampelai mengrahkan kendaraan operasional untuk mengangkut  masyarakat ke tempat kerja, karena angkot di Kota Kembang mogok kerja.

“Pemerintah harus bijak dan memihak semua. Angkutan berbasis aplikasi tetap jalan tapi angkutan umum konvensional juga tidak makin terpinggirkan,”  kata  Kepala Lab Transportasi  Unika Soegijopranoto Semarang Djoko Setijowarno menjawab beritatrans.com di Jakarta, Kamis (9/3/2017).

Untuk mengatasi konflik antara angkutan umum konvensional dengan yang berbasis aplikasi, lanjut Djoko, Pemerintah bisa meniru Kota Solo Jawa Tengah.

Kota Solo Berseri itu relatif bagus dalam mengelola transportasi umum dan tidak ada konflik sosial. “Kota Solo mungkin satu satu kota yang menolak beroperasinya taksi online dan ojek online. Online hanya instrumen pelengkap yang saat ini diperlukan,” kata Djoko lagi.

Patuhi Permebhub No.32/2016

Kementerian Perhubungan (Kemhub) sudah menerbitkan Permenhub No.32/2016. Dalam Permenhub itu sudah mengatur Angkutan Umum yang bergerak tidak dalam trayek. 

“Patuhilah itu maka masalah di lapangan bisa diatasi paling tidak diminimalisir dampaknya,”  papar Djoko.

Jika tidak, menurut Djoko, angkutan  umum berbasis aplikasi harus bekerja sama dengan angkutan umum atau PO yang sudah ada di daerah itu.

“Melalui kerja sama ini, mereka bisa bersinergi dan saling menguatkan dan saling melengkapi. Kehadiran mereka bisa memenuhi  kebutuhan masyarakat sesuai selera dan kondisi yang ada di lapangan,” tandas Djoko.(helmi)

loading...