Angkasa Pura 2

Perlu Aturan Investigasi Black Box Untuk Kepentingan Internal Operator

KokpitSelasa, 28 Maret 2017
IMG_20160303_114003_edit

JAKARTA (beritatrans.com) – Pengoperasian black box atau flight recorder dalam penerbangan tidak hanya berfungsi untuk investigasi kecelakaan pesawat, black box juga bermanfaat untuk pencegahan kecelakaan.

Menurut Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) DR. Ir. Soerjanto Tjahjono, maskapai penerbangan bisa saja melakukan investigasi black box secara internal. Investigasi semacam ini untuk mengetahui kondisi dan kinerja awak kabin, terutama pilot dan kopilot, ketika mereka sedang bertugas.

“Sehingga pencegahan kecelakaan dapat dilakukan secara dini oleh setiap operator,” ujar Soerjanto seperti dirilis dalam keterangan pers yang diterima beritatrans.com dan Tabloid Mingguan Berita Trans di Jakarta, Selasa (28/3/2017).

Meskipun demikian, Soerjanto melihat, hingga saat ini belum ada regulasi yang spesifik mengatur soal investigasi black box secara internal perusahaan.

Untuk itu, KNKT memandang perlu regulator membuat kebijakan terkait dengan pelaksanaan investigasi internal melalui pengoperasian flight recorder oleh setiap operator penerbangan.

Soerjanto menjelaskan, apabila investigasi black box digunakan untuk pencegahan kecelakaan, maka data yang terdapat pada flight recorder ini harus diunduh menggunakan program yang dinamakan dengan FOQA (Flight Operation Quality Assurance).

Setelah data diunduh, operator penerbangan dapat menganalisa sehingga dapat diketahui bagaimana para pilotnya mengoperasikan pesawat.

“Termasuk memitigasi fuel consumption dalam proses renewal insurance,” ujarnya. (aliy)