Angkasa Pura 2

Ini Dia Sarah Kopilot Garuda: Pernah Jadi Model & Lulus STPI Tahun 2005

Kokpit SDMRabu, 29 Maret 2017
pilot sarah_widyanti

sarah kopilot garuda

LAMPUNG (BeritaTrans.com) – Sejak kecil, Sarah Widyanti Kusuma (27) bercita-cita menjadi seorang astronot. Namun, jalan hidup mengarahkannya untuk merintis karier sebagai pilot.

Dia menjadi pilot di maskapai penerbangan Garuda Indonesia dan merupakan pilot wanita termuda di Tanah Air. Dia menjadi perempuan tangguh menerbangkan Airbus ke rute menuju Jepang, Korea, Australia, China, Belanda, Uni Emirat Arab, dan Jeddah.

Sarah mengikuti pendidikan pilot di Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Banten, pada tahun 2005 melalui jalur beasiswa.

Sebelum menjadi pilot, Sarah sempat menjalani berbagai macam profesi mulai dari model dan Sales Promotion Girl (SPG). Ia merupakan sosok gadis yang tekun. Ia mengusahakan biaya pendidikannya sendiri karena keadaan ekonomi keluarganya tidak terlalu baik.

Dara kelahiran 3 Maret 1988 ini juga pernah mencuat namanya lantaran mengikuti kontes Indonesian Idol. Meski harus menerima realita kandas di tengah jalan, sepertinya jalan hidup Sarah bukan di dunia hiburan melainkan penerbangan.

Menurut Sarah, seperti dikutip lampung.tribunnnews.com, keputusannya memiliki jadi seorang pilot terjadi saat dirinya masih duduk di bangku kelas 3 SMU.

“Profesi ini buat saya masih jarang untuk wanita. Wanita masih jadi minoritas, makanya saya tertarik. Profesi ini menuntut kita untuk disiplin, selain itu saya juga suka travelling,” ujar Sarah di sela-sela acara Barbie Princess Power di Skenoo Hall Gandaria City, Rabu (6/5/2015).

Bersekolah di STPI Curug yang berbasis semi militer membuat Sarah harus membiasakan diri menjalani latihan fisik. Hal tersebut merupakan tantangan tersendiri bagi Sarah.

Pasalnya, dari satu angkatan dia merupakan satu-satunya siswi dari 34 siswa. Oleh sebab itu, dia pun seringkali harus mengesampingkan sisi femininnya.

Sarah menerbangkan pesawat komersil untuk kali pertama pada tahun 2010 silam. Dia mengenang, kala itu pesawat yang diterbangkannya adalah Boeing 737-300 seri classic, kemudian dia mulai menerbangkan Boeing seri Next Generation dan Airbus. Saat menerbangkan pesawat, Sarah mengaku dirinya merasa mengemban tanggung jawab yang begitu berat.

“Saya merasa bertanggung jawab atas ratusan nyawa. Saya bangga. Kalau sekarang saya merasa lebih enak membawa pesawat sendiri daripada menjadi penumpang karena saya tahu persis kondisinya,” jelas Sarah.

Lalu, adakah pengalaman terburuk yang pernah dialami Sarah saat menerbangkan pesawat? Sarah menjawab, tentu saja ada. Menurutnya, pengalaman saat harus mendarat di cuaca buruk adalah pengalaman yang tak akan dilupakannya. Sebab, dia tidak bisa melihat apapun di landasan karena tertutup hujan lebat.

“Pengalaman saat itu mendarat di Yogyakarta dengan landasan yang jelek dan kondisi hujan dan badai. Radar cuaca di atas sudah mengindikasikan cuaca buruk. Selain itu, landasan di Yogyakarta kecil dan minim fasilitas. Saat itu malam hari,” kenang wanita yang menghabiskan masa kecil di Biak, Papua.

Sarah mengaku dirinya kini sedang mengejar cita-cita menjadi seorang kapten pilot dengan mengikuti pendidikan khusus. Menurut Sarah, menjadi seorang kapten pilot adalah impian terbesarnya sebagai seorang penerbang.

“Saya sekarang lagi sekolah program untuk menjadi kapten. Soalnya goal-nya seorang pilot adalah menjadi kapten. Saya ingin menjadi instruktur untuk menyalurkan ilmu yang saya punya,” tegasnya. (ani/sumber:lampung.tribunnews.com).