Angkasa Pura 2

Begini Salat Jumat Di Masjid Niu Jie Beijing

DestinasiSenin, 10 April 2017
beijing2

BEIJING (BeritaTrans.com) – Rombongan muhibah ormas Islam ke Tiongkok memperolah pengalaman unik ketika mengikuti shalat Jumat di Masjid Niu Jie, Beijing, Tiongkok, Jumat (7/4) siang. Masjid Niu Jie adalah masjid tertua dan terbesar di Beijing. Nama masjid diambil dari nama Jalan Niu Jie, tempat komunitas Muslim terbesar di Ibukota Tiongkok itu.

Meski mayoritas anggota rombongan adalah para kyai atau ustadz yang berasal dari Muhammadiyah dan NU, tapi mereka merasa asing dengan rangkaian ibadah di masjid tertua dan terbesar di Kota Beijing itu. Bahkan, ada yang merasa ‘tertipu’. Berikut laporan wartawan pwmu.co yang ikut dalam rombongan.

Tepat pukul 11.45 suara adzan berkumandang. Feeling saya, oh pasti Jumatan di Beijing ini akan mengikuti ‘gaya’ NU di Indonesia, yang menggunakan dua kali adzan. Sebab jika ‘gaya’ Muhammadiyah, adzan cukup sekali dan didahului oleh salam sang khatib.

Setelah adzan, para jamaah biasanya melakukan shalat sunah qabliyah. Itu pula yang saya duga akan terjadi di Masjid Niu Jie. Tetapi tidak. Jamaah tetap duduk di tempatnya. Apa yang terjadi?

Setelah adzan berkumandang, ternyata 7 pria berbaju semi jas hitam agak panjang berpadu dengan celana warna gelap dan surban putih di kepala, tiba-tiba datang dari belakang menuju tempat pengimaman. Saya mengira, setelah itu salah satu dari mereka akan naik mimbar. Ternyata dugaan saya melesat.

Tujuh ulama kharismatik itu justru berbalik arah mengadap jamaah. Lalu mereka membaca Alquran secara bergiliran. Saya sempat mencatat, surat dan ayat yang mereka baca, yaitu berturut-turut adalah: Alfatihah, Ayat Kursy, Atthariq, Al-a’la, Adhdhuha, Alqadr, Alzazalah, Attakasur, Alasyr, Alfil, Alqurays, Almaun, Alkautsar, Alkafirun, Annasr, Al-lahab, Al-ikhlas (3x), Alfalaq, Annas, Alfatihah, dan Albaqarah sampai ayat 5. Lalu ditutup dengan doa.

Pembacaan Alquran setelah adzan ini, tentu saja sesuatu yang baru bagi jamaah asal Indosensia. Tapi keterkejutan tidak berhenti di situ. Setelah doa selesai dibacakan, salah seorang dari 7 ulama itu maju ke depan. Yang saya heran, kenapa dia tidak berada di mimbar Jumat yang disediakan lengkap dengan tongkat. Tapi dia maju di meja yang disulap sebagai podium, yang terletak di sebelah kanan mimbar Jumat.

Dengan bahasa China, ulama muda itu membacakan 5 lembar naskah. Tidak selalu dibaca memang. Dia padukan teks dengan narasi di luar kepala. Waktu 40 menit yang digunakan, terasa cukup lama. Mungkin karena saya tidak paham bahasanya. Tapi saya bisa menebak bahwa dia sedang menjelaskan makna isra mikraj karena mengutip ayat pertama surat Al-isra dan menjelaskan bagian per bagian. Apalagi saat ini adalah bulan Rajab.

Tapi yang menjadi kejutan bukan soal itu. Turun dari podium. Dia maju ke tempat pengimaman. Hati saya semakin bertanya-tanya: itu tadi berarti khutbah Jumat ya? Tapi keraguan lain datang, mengapa tak ada khutbah keduanya. Tiba-tiba keraguan itu terjawab, ketika jamaah secara serentak menata barisan mengikuti 7 ulama di depan yang berdiri, pertanda shalat Jumat dimulai.

Kami takbir bersama mengikuti 1 dari 7 ulama itu yang berada di posisi paling depan sebagai imam. Tapi, muncul pertanyaan lagi, kok lama tidak ada suara jahr (keras) bacaan imam lazimnya imam shalat Jumat. Belum terjawab soal itu, tiba-tiba terlihat jamaah rukuk sendiri-sendiri. Oh, berarti ini masih shalat sunah (qabliyah). Saya yang semula berniat shalat Jumat, lalu ‘megubah haluan niat’ menjadi shalat sunah (bagaimana ya hukumnya?).

Saya baru sadar, ternyata yang ceramah 40 menit tadi bukan khutbah. Benar. Setelah selesai shalat sunah, 2 dari 7 ulama itu maju ke mimbar Jumat. Yang terlihat senior naik mimbar dan satunya mengumandangkan adzan ‘sederhana’, tanpa lagu.

Khutbah yang berlangsung sekitar 10 menit dan menggunakan bahasa Arab itu tak ubahnya seperti yang dilakukan di Indonesia. Ada dua khutbah dan ada doa penutupnya. Selesai khutbah, imam pun memimpin shalat, dengan tata cara yang sama di Indonesia. Hanya yang agak beda, dalam iqamat teksnya seperti adzan, bedanya hanya ada kalimat iqamat.

Selesai shalat, ternyata pengalaman Jumatan unik itu menjadi perbincangan rombongan. “Saya merasa ‘tertipu’,” seloroh Nadjib Hamid, Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim, yang juga seorang ustdaz dan sering memberi khutbah Jumat.

beijing3

Nadjib mengaku banyak ‘ketidaklaziman’ dalam pelaksanaan shalat Jumat. Dan yang paling ‘spektakuler’ adalah ceramah sebelum khutbah serta shalat sunah setelahnya.

“Saya kira itu tadi sudah khutbah. Dan setelah itu shalat Jumat. Eh, ternyata bukan,” katanya sambil menduga mengapa ada semacam pengajian sebelum khutbah Jumat. “Mungkin karena sulit mengumpulkan jamaah yang tempat tinggalnya terpencar itu. Sehingga kesempatan Jumat ini dimanfaatkan untuk membina umat,” ujar Nadjib.

Bukan hanya Nadjib. Sejawatnya dari Muhammadiyah juga mengemukakan perasaan masing-masing, termasuk Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim M Saad Ibrahim. Para kyai NU yang ikut rombongan pun sama. Intinya mereka kaget dan tak menduga dengan tata-caranya, karena berbeda dengan kalaziman Jumatan di Indonesia.

Keterkejutan juga dialami Arif, wisatawan asal Yogyakarta, yang ikut Jumatan di Niu Jie. “Beda caranya di Indonesia. Mungkin ini soal faktor bahasa sehingga kita salah sangka, ceramah kita anggap khutbah,” katanya. Pegawai sebuah BUMN itu datang ke Beijing bersama istri, yang juga ikut Jumatan tapi ditempatkan secara terpisah di komplek masjid itu.

Tak ayal, pengalaman shalat Jumat itu menjadi perbicangan seru setelah Jumatan, bahkan sampai maghrib, saat rombongan menyudahi agenda hari kedua dari mengunjungi TianAnMen Square dan Forbidden City.

Sebelumnya pada Jumat pagi, rombongan bertemu dengan pimpinan China Islamic Association atau MUI-nya Tiongkok. Muhibah ormas Islam Jatim yang terdiri dari MUI, Muhammadiyah, NU, dan Pengurus Masjid Cheng Hoo, akan berlangsung sampai 15 April 2017. (Nurfatoni/pwmu.co)

Foto: Nurfatoni