Angkasa Pura 2

Penerapan ‘Go Digital’ Tingkatkan Pelayanan AP II di Bandara

BandaraSelasa, 18 April 2017
IMG-20170418-WA0015

TANGERANG (BeritaTrans.com) – Penerapan sistem ‘Go Digital’ pada seluruh bandara kelolaan PT Angkasa Pura (II) ditekankan sebagai bentuk peningkatan pelayanan bagi pengguna jasa.

Hal itu disampaikan Presiden Direktur AP II M. Awaluddin saat menerima kunjungan Menteri Pariwisata Arief Yahya di kantornya, Tangerang, Senin (17/4/2017).

“Kita sudah meluncurkan aplikasi Indonesia Airport dan akan terus disempurnakan fitur-fiturnya. Karena ini tidak hanya AP II, tapi juga bergantung pada kesiapan institusi lain, seperti Airlines dan Air Navigation. Awal Semester 2 Kami targetkan lengkap, sehingga go digital di AP II berjalan sesuai rencana,” jelasnya.

Program ‘Go Digital’ mempercepat dan memberikan pelayanan bagi para penumpang, baik saat melakukan check in hingga mengetahui estimasi kedatangan barang dari bagasi yang sering menjadi keluhan penumpang.

Dia mengungkapkan, dalam menangani 100 juta pengguna jasa transportasi udara di terminal AP II, harus beda dengan ketika masih puluhan ribu orang. Beda pendekatan, beda cara, dan beda strategi.

“Tidak mungkin tanpa digital,” tuturnya.

Pengguna jasa memang mungkin tidak peduli, bandara dikelola dengan cara apapun, mau menjadi smart airport, digital airport, atau apapun. Mereka maunya nyaman, cepat, mudah, menunggu bagasi tidak boleh lebih 10 menit.

“Karena itu, AP II pun harus turun tangan membantu ground handling seperti bagasi,” katanya.

Awaluddin berharap, dengan program ‘Go Digital’ AP II melalui mobile apps-nya Indonesia Airport, akan memberikan rasa aman dan nyaman bagi penumpang yang ada di bandara. Itu juga meminimalisasi kesalahan pada saat menggunakan jasa transportasi udara.

Bahkan soal delay time, kata Awal, AP II juga harus ikut memikirkan solusi sistemiknya, sehingga bisa meminimalisasi berbagai alasan penundaan.

“Apakah kita bisa? Jawabannya harus bisa! Buat mereka sederhana, mereka ingin nyaman di bandara, ontime, bagasi cepat, nyaman dan tidak ribet. Apakah kita mampu mengelola jutaan orang jika tidak menggunakan digital?” tutup Awaluddin. (omy)