Angkasa Pura 2

Begini Hebatnya LRT Metro Kapsul Bandung Buatan Dalam Negeri

EmplasemenJumat, 21 April 2017
metro kapsul

BANDUNG (BeritaTrans.com) – Purwarupa kereta api ringan alias Light Rail Transit (LRT) buatan dalam negeri diperkenalkan di alun-alun Kota Bandung

LRT tipe metro kapsul itu rencananya digunakan pada proyek percontohan di kota Bandung dengan pembangunan tahap pertama di rute sepanjang 6km dari Jalan Kebon Jati, belakang Stasiun Bandung sampai lapangan Tegalega.

Gerbong, atau “kapsul”, yang dipajang di alun-alun diangkut dari fasilitas riset di Gedebage, Bandung. Purwarupa tersebut dikembangkan konsorsium lima perusahaan BUMN dalam negeri: PT PP Infrastruktur, PT Trekka, PT KKM, PT Indoserako Sejahtera, dan PT Metro Putra Perkasa.

Teknologi kereta ini mengandung 95% komponen buatan dalam negeri, kata Leonnardo Fenerri dari PP Infrastruktur.

“Metro kapsul didesain insinyur dari ITB dan beberapa universitas lain. Proses perancangan dilakukan di dalam negeri. Komponennya pun dibuat di dalam negeri, kecuali motor listrik dan baterai,” ungkapnya kepada BBC Indonesia.

Dengan panjang kira-kira 9m, lebar 2m, dan tinggi 4m, satu gerbong Metro Kapsul yang dicat warna “biru Persib” itu bisa memuat 50 penumpang, Leonnardo menambahkan.

metro kapsul1

Pada kesempatan terpisah, Walikota Bandung Ridwan Kamil mengatakan bahwa pemerintah kota berencana membangun rute LRT yang melingkupi seluruh Kota Bandung.

“Total seluruh kota Bandung mungkin 40km. Tapi suatu hari ia akan menghubungkan penumpang ke Jatinangor, ke Soreang, ke mana-mana,” katanya kepada wartawan di Pendopo Kota Bandung, Rabu (05/04).

“Jadi kita tes dulu respon masyarakat apa di 6km dulu … Tapi yang urgen nanti tahap dua, menghubungkan Leuwi Panjang sampai ke terminal kereta api cepat Jakarta-Bandung.”

Pria dengan sapaan akrab ‘Emil’ itu juga menyatakan bahwa proyek LRT dengan produk buatan dalam negeri ini telah disetujui Presiden Joko Widodo. Adapun PP Infrastruktur telah ditunjuk sebagai penanggung jawab proyek melalui Peraturan Presiden (Perpres).

“Perlu Perpres, supaya tidak ada lelang. Yaitu perpres penunjukkan BUMN, seperti yang dilakukan pemerintah dalam menunjuk PT Adikarya untuk (proyek LRT) Jabodetabek. Prosedur hukum yang sama akan dilakukan di Bandung, jadi PT PP Infrastruktur yang diberi penugasan oleh Negara,” kata Emil.
Dipilih karena murah

Lebih lanjut Emil menjelaskan, Pemerintah kota Bandung memilih LRT Metro Kapsul yang dikembangkan PP Infrastruktur karena harganya murah, sekitar sepertiga LRT biasa.

“(Harganya) Rp150 miliar per kilometer. Kalau LRT normal Rp400 sampai Rp500 miliar per kilometer,” tuturnya. Ia menambahkan bahwa anggaran akan sepenuhnya ditanggung oleh pihak swasta.

“Ini mempermudah percepatan investasi karena dengan harga sepertiga dari LRT biasa, tidak perlu banyak subsidi,” kata Emil.

Tauhid Kurniawan, direktur teknik PT PP Infrastruktur, menjelaskan bahwa teknologi Metro Kapsul lebih murah karena berbeda dari perkeretaapian pada umumnyaantara lain tidak beroperasi dalam rangkaian fisik.

“Metro kapsul terangkai secara elektrik atau wireless (nirkabel). Ketika beroperasi di perkotaan konstruksinya elevated, yaitu tidak sebidang dengan jalan raya.

“Dalam konstruksi elevated itu, setiap bentang jembatan, jaraknya 25m, hanya dilewati satu kapsul. Jadi dia beroperasi dalam grup, tapi dia membebani konstruksinya satu per satu. Sehingga konstruksi teknik sipilnya menjadi lebih kecil,” tutur Tauhid ketika ditemui di kantor PP Infrastruktur, Jakarta Timur.

Keunggulan lainnya dari Metro Kapsul, Tauhid menambahkan, adalah bisa membelok seperti mobil. Ini karena Metro Kapsul memiliki delapan ban karet dan desainnya memberikan fleksibilitas sehingga dapat belok dengan radius 15m. Fitur tersebut memungkinkan Metro Kapsul bergerak luwes di jalanan kota dengan banyak tikungan.

“Bahasa gampangnya ini Metro Mini yang dinaikkan ke trek khusus. Bedanya, si sopir ada di stasiun,” kata Tauhid.

Lebih lanjut ia menjabarkan bahwa Metro Kapsul bergerak dengan tenaga listrik dan secara prinsip dikendalikan oleh operator; namun dalam setiap kapsul akan ditempatkan satu petugas yang berperan sebagai pembantu penumpang sekaligus pengemudi darurat.

Di Bandung rencananya akan dipasang 14 gerbong, atau kapsul, plus cadangan; dan sepanjang Jalan Kebon Jati sampai Tegalega akan dibangun tujuh stasiun. Pada jam sibuk, di masing-masing stasiun terdapat dua kapsul yang bergerak bersamaan dengan kecepatan maksimal 30 kilometer per jam.

Buatan Indonesia

Hampir semua komponen Metro Kapsul ini dibuat di dalam negeri, kata Tauhid, kecuali motor listrik dan baterai, yang dirancang di Bandung tapi diproduksi di Eropa. Namun ia mengakui bahwa label made in Indonesia sering menimbulkan persepsi negatif, mengingat bahwa teknologi buatan Indonesia kualitasnya hampir selalu kalah dengan Jerman, Jepang, atau bahkan Cina.

Ia pun meyakinkan bahwa teknologi Metro Kapsul telah memenuhi standar keamanan.

“Kita tidak membuat seperti standar kita sendiri, tetapi nanti akan diketemukan dengan standar yang ditentukan oleh regulator, dalam hal ini Kementerian Perhubungan. Dan mereka dalam menentukan standar juga mengacu kepada standar internasional.

“Jadi sistemnya ini sudah meng-cover aspek safety operational. Itu sudah menjadi bagian dari teknologi yang dikembangkan.”

Langkah keamanan tersebut antara lain dengan memasang redundansi – setiap kapsul dilengkapi empat unit motor listrik dan empat rem. Dalam keadaan darurat, satu motor listrik cukup untuk membawa penumpang ke stasiun selanjutnya. Selain itu juga dipasang baterai dengan kapasitas 20 kWH untuk jaga-jaga jika terjadi mati listrik, kata Tauhid.

Perlu ditinjau ulang

Proyek transportasi umum dengan teknologi buatan dalam negeri memang patut didukung, kata ketua Dewan Pakar Masyarakat Transportasi Indonesia Danang Parikesit. Namun Danang khawatir kalau proyek ini tidak layak secara finansial.

Berdasarkan tinjauan terhadap proyek LRT di kota lain, ia menduga ada penaksiran terlalu tinggi akan jumlah penumpang moda transportasi tersebut.

“Karena sekarang ini kalau kita melihat perjalanan dari LRT Palembang, LRT Jakarta, maupun LRT Jabodetabek itu semuanya mengalami kesulitan keuangan kan. Dari segi finansial itu tidak layak secara komersial sehingga membutuhkan support dari pemerintah,” kata Danang.

Ia juga meminjam contoh kereta api airport link dari Stasiun Medan ke Bandara Kualanamu. “Jumlah penumpang yang menggunakan kereta itu, dibandingkan prediksi awal, hanya 30-50% saja,” tuturnya.

Danang mengatakan, ada dua catatan penting untuk proyek LRT di Bandung. Pertama, pilihan teknologi Metro Kapsul menurutnya perlu dikaji ulang karena teknologi tersebut belum banyak digunakan di seluruh dunia.

Kedua, lanjutnya, perlu dilakukan peninjauan kembali akan kelayakan bisnis proyek LRT ini, terutama yang berkaitan dengan prediksi jumlah penumpang.

“Kalau saya melihat, sebenarnya dengan perjalanan-perjalanan jarak pendek di Bandung, tingkat persaingan dengan sepeda motor misalnya maupun layanan-layanan online, itu menjadi sangat penting untuk dilihat sebagai faktor yang menentukan kelayakan bisnis ini,” tandas Danang.

Betapapun, pemerintah Kota Bandung tampaknya sudah mantap untuk melaksanakan proyek ini. Walikota Bandung Ridwan Kamil berharap konstruksi dapat dimulai pada akhir Mei (“Dua bulan sejak saya posting pengumumannya di Instagram,” kata Emil). Pembangunan rencananya diawali dengan rute sepanjang 3km dari Jalan Kebon Jati ke Jalan Dalem Kaum, alun-alun Bandung.

Mengenai persaingan dengan moda transportasi lain, terutama angkutan kota (angkot) yang merupakan transportasi umum dominan di Kota Bandung, Emil meyakinkan bahwa telah ada rencana untuk itu.

“Di masa depan, angkot itu feeder, LRT itu menjadi tulang punggungnya karena dia tidak melintasi jalan raya, dalam artian bersaing dengan mobil. Jadi orang punya pilihan berpindah ke LRT, nanti masuk kawasan yang jauhnya baru dengan angkot,” tandasnya. (della/su,ber BBC Indonesia).

Foto: BBC Indonesia