Angkasa Pura 2

Cris Kuntadi: Diperlukan Safety Risk Assesment

IMG-20170521-WA0000

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Memerhatikan berbagai musibah transportasi yang tiada henti, seperti yang masih sangat hangat yakni kereta api Argo Bromo Anggrek relasi Surabaya-Jakarta yang ditemper minibus di perlintasan Grobogan, Jawa Tengah, kemarin (20/5/2017) dan kebakaran kapal KM Mutiara Sentosa I pada Jumat (19/5/2017), menjadi keprihatinan mendalam atas masalah transportasi yang selalu dihadapkan pada berbagai tantangan.

Untuk itu, Staf Ahli Menteri Perhubungan Bidang Logistik, Multimoda, dan Keselamatan Transportasi Cris Kuntadi mengungkapkan bahwa sangat diperlukan mewujudkan safety risk assesment (asesmen risiko gangguan keselamatan).

“Ada empat langkah dalam melakukan safety risk assesment ini,” ujar Cris kepada BeritaTrans.com, Ahad (21/5/2017).

Pertama, kata dia, menggali potensi-potensi gangguan keselamatan demgan diurutkan potensi terjadinya dan dampak terbesar hingga yang paling kecil.

Dengan pemetaan itu, maka akan diketahui mana yang yang paling berisiko dan dampaknya.

“Kedua, mengukur pengendalian yang sudah ada melalui program pemerintah, kepedulian masyarakat, dan law enforcement,” tutur Cris.

Setelah dilakukan pengukuran, maka akan dapat disimpulkan dan dicarikan solusi tepat untuk meningkatkan atau mengubah cara yang sudah dilakukan selama ini.

Langkah ketiga, lanjutnya, adalah sisa risiko kecelakaan yang masih mungkin timbul meskipun telah ada pengendalian. Sisa risiko yang terbesar ini, harus menjadi perubahan utama untuk dimitigasi (diselesaikan).

“Dan terakhir (keempat) adalah memitigasi potensi kecelakaan. Memitigasi (mengatasi) risiko kecelakaan menjadi alat utama untuk mencegah terjadinya kecelakaan fatal yang massif atau sering terjadi,” ujarnya.

Cris menambahkan, dalam mewujudkan keselamatan transportasi juga dibutuhkan kesadaran semua pihak. Baik pengguna jasa, operator, dan pengelola jasa.

“Semoga para korban dan keluarga korban (kecelakaan) senantiasa tabah dan kita bisa menjalankan tugas kita masing-masing dengan baik, sehingga keselamatan transportasi benar-benar menjadi yang utama,” pungkas Cris. (omy)