Angkasa Pura 2

Fajar Doni : Kita Hanya Menginisiasi Terbentuknya CFS Center Di Priok

DermagaKamis, 15 Juni 2017
e525b589-f6c6-4af2-8cc9-03e23c62ba9f-600x400

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Sukses tidaknya pembangunan Container Freight Station (CFS) Center di Pelabuhan Tanjung Priok sangat tergantung pada stake holder terkait (Pelindo II sebagai pemilik lahan dan forwarding yang selama ini telah menangani kargo impor berstatus less than container load- LCL).

Hal itu diungkapkan Kepala Kantor Pelayanan Utama (KPU) Bea dan Cukai Tanjung Priok, Fajar Doni menjawab BeritaTrans.com pada buka puasa bersama di Jakarta, Kamis (15/6/2017) malam.

“Kita hanya menginisiasi agar penimbunan kargo impor berstatus LCL yang selama ini dilakukan pada sekitar 10 Tempat Penimbunan Sementara (TPS) dipusatkan di satu lokasi (CFS) Center,” tambahnya.

Maksudnya bila dipusatkan di satu lokasi (CFS) Center tarif pelayanannya bisa single billing, pengawasan lebih mudah. Selain itu , tambahnya, barang impor LCL di Tanjung Priok ini tidak terlalu banyak hanya sekitar 2500 TEUs perbulan.”Kan lebih baik dipusatkan di satu lokasi”, tambahnya.

CFS adalah fasilitas penyimpanan barang impor berstatus Less than Container Load (LCL) yang masih di bawah pengawasan pabean. Sedangkan kontainer LCL yaitu kontainer impor yang isinya milik lebih dari satu consignee.

“Konsep kita dalam membangun CFS Center bukan untuk mumbunuh aktivitas forwarding yang selama ini sudah menangani barang impor LCL, tapi memindahkan lokasi kegiatan mereka dari TPS ke CFS Center”, tegas Fajar Doni.

Karena itu perlu sinergitas antara Pelindo II dan forwarding agar pelaku usaha yang selama ini telah melakukan pelayanan barang LCL pindah lokasi ke CFS Center, ujar Fajar.

Fajar mengakui tanpa dicapai kesepakatan antara Pelindo II dan Forwarding sulit mendirikan fasilitas CFS Center yang optimal.

Seperti diketahui Pelindo II siapkan lahan Pergudangan Cargo Distribution Center (CDC) Banda untuk fasilitas CFS Center.

Menurut Fajar kargo impor LCL memberikan pengaruh terhadap dwelling time cukup tinggi. Karena itu perlu didukung dengan Tempat Penimbunan Pabean (TPP) untuk penimbunan barang long stay yang belum melunasi kewajibannya dan Buffer Area (lahan penyangga) tempat penimbunan barang long stay yang sudah melunasi kewajibannya. (wilam)

Terbaru
Terpopuler
Terkomentari