Angkasa Pura 2

Insiden Melibatkan Garuda & Sriwijaya Di Bandara Soetta Bukan Kali Pertama

BandaraSenin, 19 Juni 2017
2017-06-19 14.12.39

TANGERANG (BeritaTrans.com) – Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia atau AirNav Indonesia tengah menyelidiki insiden yang melibatkan pesawat Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air di landasan pacu Bandara Soekarno-Hatta (Soetta), Minggu (18/06).

Menurut Sekretaris Korporat AirNav Indonesia, Didiet Radityo, insiden bermula ketika pesawat Garuda Indonesia nomor penerbangan GA 425 rute Denpasar-Jakarta akan mendarat di landasan pacu 25R Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten.

Akan tetapi, sesaat sebelum mendarat, pesawat GA 425 tiba-tiba harus mengangkasa lantaran di landasan pacu masih ada pesawat Sriwijaya SJ 580 rute Jakarta-Makassar.

Pesawat SJ 580 itu, kata Didiet, sebenarnya sudah diberikan izin lepas landas oleh petugas di menara pengatur lalu lintas udara Bandara Soekarno-Hatta, namun pesawat bergerak lamban sampai akhirnya pilot SJ 580 menyatakan berhenti dan tidak jadi lepas landas karena alasan teknis.

“Petugas kemudian memberikan go around (memutar balik) kepada GA 425 dengan alasan keselamatan,” kata Didiet kepada BBC Indonesia.

Hal ini, tambahnya, “dilakukan demi menjaga keselamatan penerbangan”.

‘Antara bersyukur dan marah’

Louisa Tuhatu, salah seorang penumpang pesawat GA 425, mengaku dirinya sangat takut ketika pesawat yang dirasakannya bersiap mendarat, tiba-tiba kembali mengudara.

“Saya sudah sempat melihat lampu-lampu di landasan pacu, tapi kemudian tidak kelihatan lagi. Seisi pesawat tiba-tiba sepi, para penumpang lihat-lihatan karena bingung. Baru 10 menit kemudian, pilot mengumumkan bahwa pesawat tidak jadi mendarat karena ada pesawat lain di landasan,” tutur Louisa.

Perempuan itu menyatakan dirinya antara bersyukur dan marah.

“Saya bersyukur karena bukan kerusakan mesin. Sebab bakal parah kalau mesin pesawat rusak. Di sisi lain saya marah. Kok bisa menara pengatur lalu lintas udara tidak mengetahui ada pesawat di landasan dan memberikan izin pesawat lain mendarat? Sebentar lagi musim mudik dan lalu lintas pesawat padat, kalau begini kelakuannya hanya Tuhan yang tahu apa yang akan terjadi,” cetus Louisa.
Bukan insiden pertama

Soal insiden itu, Sekretaris Korporat AirNav Indonesia, Didiet Radityo, meminta maaf kepada seluruh penumpang pesawat. Menurutnya, AirNav telah memastikan ada jarak yang cukup bagi pesawat lepas landas dan mendarat secara bergantian. “Di Soekarno-Hatta itu, ada satu menit pesawat lepas landas dan ada satu menit pesawat mendarat.”

Ditanya soal seberapa dekat kedua pesawat dan pada ketinggian berapa pesawat GA 425 diberi tahu memutar balik, dia mengatakan pihaknya tengah mengumpulkan data.

“Rekaman dan data-data lainnya akan kita periksa untuk mendapatkan informasi lebih detail lagi,” katanya.

Insiden yang melibatkan pesawat Garuda Indonesia dan Sriwijaya Air bukan kali pertama terjadi. Pada April lalu, peristiwa serupa juga berlangsung di Bandara Soekarno-Hatta. Saat itu, petugas menara pengendali lalu lintas udara telah dipindahkan ke posisi administrasi.

Kemudian, pada April 2016, pesawat Batik Air bertabrakan dengan pesawat Transnusa di landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta.

Menurut pengamat, insiden yang terjadi mencerminkan peningkatan jumlah penerbangan yang tidak dibarengi dengan perbaikan infrastruktur. (moy).