Angkasa Pura 2

Ketum ALFI DKI Pesimis CFS Center Pelindo II Bisa Berfungsi Optimal

Another News DermagaTuesday, 11 July 2017

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Ketum Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) DKI Widijanto merasa pesimis fasilitas Container Freight Station (CFS) Center yang dibangun Pelindo II bisa berfungsi secara optimal.

Hal itu diungkapkan Widijanto menanggapi pernyataan Dirut Pelindo II Elvyn G Masassya yang menyebut pembangunan CFS Center di pergudangan Cargo Distribution Center (CDC) Banda, Pelabuhan Tanjung Priok sekarang ini dalam tahap finalisasi.

Widijanto mengatakan tidak mudah menempatkan pebisnis barang impor Less than Container Load ( LCL) dalam satu lokasi (CFS) Center. Apalagi kalau tarifnya single billing.

Menurut Widijanto, bisnis barang impor LCL selama ini ditangani anggota ALFI dengan mengambil tempat di beberapa Tempat Penimbunan Sementara (TPS) milik swasta di Lini 2.

Kalau mau di kumpulkan di satu lokasi (CFS Center) berarti Pelindo II akan mematikan sekitar 10 TPS yang selama ini sudah menangani barang impor LCL.

Selain itu sulit menerapkan tarif single billing karena tarif masing masing forwarder yang menangani impor LCL tidak bisa sama.

Pasalnya, dalam bisnis barang impor LCL ada kewajiban forwarder kita harus membayar ‘rabat’ atau refund kepada partnernya forwarder di luar negeri yang besarnya tdak sama, kata Widijanto.

Sebelumnya, Direktur Utama PT Pelindo II, Elvyn G. Masassya mengatakan ujicoba pengoperasian CFS Center di Pelabuhan Tanjung Priok dalam tahap finalisasi.

“Kita masih perlu bicara lagi dengan berbagai pihak terkait seperti Bea Cukai, Otoritas Pelabuhan (OP) termasuk Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) dan pelaku usaha barang impor berstatus Less than Container Load (LCL),” kata Elvyn belum lama ini.

CFS adalah fasilitas tempat penyimpanan barang impor berstatus Less than Container Load (LCL) yang masih di bawah pengawasan pabean. Sedangkan kontainer LCL yaitu kontainer impor yang isinya milik lebih dari satu consignee.

Pelindo II hanya menyediakan tempat dan fasilitas dengan maksud untuk memperbaiki “business process” agar layanan barang impor LCL lebih cepat, transparan, tarifnya single billing, murah dan pada akhirnya dapat menurunkan biaya logistik, ujar Elvyn. (wilam)