Angkasa Pura 2

Metri Desa dan Reog Turangga Seto, Salah Satu Agenda Wisata Kab Semarang

Another News DestinasiRabu, 12 Juli 2017
IMG-20170712-WA0014

IMG-20170712-WA0021

SEMARANG (Beritatrans.com) – Kemasyhuran Reog Ponorogo bukan hanya terjadi di pesisir selatan Jawa Timur. Daerah Salatiga dan Kabupaten Semarang misalnya, kesenioan Reog dan Warok begitu kental di masyarakat. Seni Reog itu dikolaborasikan dengan kesenian khas lain termasuk pentas Dangdut dan Drumbleck dari anggota karang taruna desa setempat.

Banyak perkumpulan atau paguyuban warga desa setempat yang peduli dan mau mengembangkan serta melestarian kesenian khas Ponorogo tersebut. Kesenian reog itu biasa ditampilkan dalam berbagai acara dan hajatan warga setempat. Saat hajatan Memetri (Metri) Desa (Selamatan Desa) khususnya di Kelurahan Tawang, Kab. Semarang seni Reog, dan Warok Ponorogo selalu tampil memeriahkan acara pesta warga desa itu.

IMG-20170712-WA0015

Kini, Metri Desa Tawang sudah masuk agenda Pariwisata Kab. Semarang, Jawa Tengah. Metri Desa merupakan pesta pasca panen sekaligus wujud syukur kepada Allah Swt atas keberhasilan dan hasil panen yang melimpah tahun itu.

Metri Desa biasanya digelar antara bulan Juli-Agustus yang dilaksanakan pada hari Jumat Legi. Penetapan tanggal dan tempatnya akan dibahas dan disepakati bersama para sesepuh desa bersama aparat setempat.

Grup Reog Turanga Seto, salah satu paguyuban kesenian yang dikembangkan komunitas tertentu di Desa Tawang selalu tampil dalam berbagai acara di tingkat desa bahkan kecematan setempat.

Seni Reog ini bahkan dikolaborasikan dengan kesenian modern seperti drumb band, musik dangdut termasuk kesenin drumblek yang diawaki para karang taruna Desa Tawang tampil memeriahkan pesta rekyat sekaligus menyambut kedatangan Tim Muspida Kab Semarang yang dipimpin Bupati Dr. H. Mundjirin tersebut.

IMG-20170712-WA0020

Gambar eksklusif yang diperoleh Beritarrans.com, beberapa Gunungan lainnya ada yang diarak oleh kesenian Drum Band MTsN Walen, Simo, Drumblek Karang Taruna Desa Tawang, sampai kesenian modern seperti Dungdut sampai Orgen Tunggal yang dikobariasikan dengan berbagai kesenian tradisonal khas Jawa itu.

Selanjutnya, mereka tampil menghibur warga Tawang dan para tamu yang hadir di lapangan desa setempat, tak jauh dari Balai Desa sebagai pusat acara Metri Desa itu. Metri Desa benar-benar menjadi pesta rakyat yang diusahakan, dibiayai dan ditonton oleh seluruh warga desa tersebut.

IMG-20170712-WA0019

Reog Turangga Seto

Seri Reog Turangga Seto, Desa Tawang, biasa tampil mengiringi salah satu Gunungan, yang berisi aneka hasil pertanian baik sayuran dan buah-buahan sebagai wujud rasa syukur pada Allah Swt dan didoakan oleh sesepuh yang juga perangkat desa yang dipusatkan di Balai Desa Tawang, Kec. Susukan Kab. Semarang tersebut.

Grup Reog Turangga Seto dimainkan empat orang penunggang kuda kepang lengkap dengan “pawang” serta Dadak Merak yang dimainkan dengan apik dan serasi sesuai musik gamelan yang dimainkan secara dinamis.

Satu hal yang ditunggu-tunggu oleh warga dan penonton yang hadir adalah saat pemain reog itu mabuk atau kesurupan. Mereka bisa makan genting, gabah, janur atau daun kelapa muda serta barang-barang lain yang tidak layak dikonsumsi langsung oleh manusia.

Anehnya, pemain pemain reog itu bisa melakukan tanpa halangan sama sekali. Saat ada pemain reog mabuk, dia bisa melompati pagar tinggi dan harus dikejar-kejar dan dipegangi beberapa orang dan selanjutnya dikembali ke arena permainan oleh pawangnya masing-masing.

Grup Reog Turangga Seto bukan hanya dimainkan para orang tua tapi sudah dilakukan kalangan generasi muda. Meski diakui, para tetua kampung terutama pembinanya masih diawaki para orang tua dan tokoh desa setempat.

IMG-20170712-WA0115

Sebagai penutup dari rangkaian acara Metri Desa di Desa Tawang, Kec. Susukan, Kab Semarang diadakan pagelaran wayang kulit sehari semalam, dengan mendatangkan Dalang Kliwir dari daerah Solo Jawa Tengah.

Adat budaya Metri Deso dengan penampilan aneka kesenian khas daerah ini sudah ada sejak lama. Meski acara kental bernuansa budaya khas Jawa namun puncak acaranya didibacakan doa dengan cara Islam oleh sesepuh desa setempat.(helmi)