Angkasa Pura 2

Bisnis SPBU Terbuka dan Tak Ada Monopoli

Ekonomi & Bisnis Energi KoridorKamis, 13 Juli 2017
SPBU Shell

JAKARTA (Beritatrans.com) – Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) memang merupakan sarana untuk mendistribusikan atau tepatnya menjual bahan bakar minyak untuk umum. Jika ada yang mengatakan bahwa SPBU bersifat pelayan publik, itu pendapat yang tidak seluruhnya benar.

“Kata Umum yang dimaksud, tentunya adalah masyarakat atau lebih cocok dinyatakan sebagai konsumen” kata Direktur Puskepi Sofyano Zakaria di Jakarta, Rabu (12/7/2017) malam.

Dikatakan, pembeli BBM dari SPBU adalah masyarakat umum atau konsumen pengguna BBM di tanah Air. Keberadaan SPBU sudah nyaris serupa dengan badan usaha lain seperti pedagang beras, gula , minyak goreng dan lain lain.

Jika fungsi dan keberadaan SPBU dinilai sebagai pelayanan publik dalam pengertian operasionalnya mengemban misi pemerintah, maka ini tidak cocok dinyatakan dalam kondisi sekarang. “Saat ini, ternyata distribusi BBM di negeri ini sudah tidak lagi dimonopoli oleh SPBU milik BUMN Pertamina,” jelas Sofyano lagi.

Sejak lahirnya UU Migas, bisnis penjualan BBM kepada umum sudah terbuka dan telah dijalankan pula oleh swasta asing dan swasta nasional lainnya.
Contoh ada SPBU milik Shell, Total atau AKR.

Ketika ini sudah terjadi, maka fungsi SPBU adalah sarana bisnis. Dalam pelaksanaannya tentu harus mengutamakan perolehan keuntungan. “Ini jelas terbukti dengan hanya dijualnya BBM sejenis Pertamax atau non Premium oleh SPBU asing atau SPBU swasta nasional pada SPBU mereka,” jelas Sofyano.

Ketika SPBU Pertamina yang pada dasarnya dominan milik swasta yang bermitra dengan Pertamina, tidak mau menjual BBM jenis tertentu seperti Premium atau solar atau mereka mengurangi atau lebih memilih menjual BBM non Premium, maka ini harus dipahami merupakan pilihan bisnis yang harus dan wajib dimengerti.

“Dalam berbisnis termasuk penjualan BBM, pelaku usaha tentu ingin mencari profit yang terbaik. Jika konsumennya ada, apapun akan dijual. Sebaliknya jika animo konsumen berkurang tentu mereka akan mengurangi bahkan tidak mau menjualn produk BBM tersebut,” tandas Sofyano.(helmi)