Angkasa Pura 2

3 Negara Pantai Sepakat Tingkatkan Keselamatan Pelayaran

DermagaSabtu, 15 Juli 2017
IMG-20170715-WA0002

SINGAPURA (BeritaTrans.com) – Tiga negara pantai (littoral state) yakni Indonesia, Malaysia dan Singapura menyepakati peningkatan keselamatan pelayaran di Selat Malaka dan Selat Singapura dalam sidang the 10th Marine Electronic Highway Working Group (MEHWG) dan the 6th Hydrographic Survey Technical Working Group (HSTWG) yang digelar di Singapura (12-14/7/2017).

Kepala Distrik Navigasi Tanjung Pinang, Raymond Sianturi sebagai Ketua Delegasi (Head of Delegation) Indonesia mengungkapkan, peningkatan keselamatan pelayaran dilakukan melalui penguatan kembali peran dan pelayanan Marine Electronic Highway (MEH) Data Center Batam yang mengintegrasikan berbagai data meteorologi, hidrografi dan oceanografi.

“Dari masing-masing MEH Station ke-3 Negara Pantai itu, terhubung dengan sejumlah sensor dan perangkat surveillance di sepanjang Traffic Separation Scheme (TSS) Selat Malaka dan Selat Singapura,” jelas Raymon, dalam keterangan resmi, Sabtu (15/7/2017).

Raymond menyebutkan bahwa penguatan pelayanan ini dilakukan melalui sejumlah langkah strategis. Diantaranya, perumusan konsep MEH masa depan terkait dengan perkembangan teknologi, standar serta regulasi di bidang keselamatan pelayaran, mendorong partisipasi lalulintas/industri pelayaran dan asosiasi perkapalan.

Selain itu, menggalang dukungan International Maritime Organization (IMO), negara pengguna dan para pengguna Selat Malaka dan Selat Singapura dengan memanfaatkan sidang Cooperation Forum (CF) dan Tripartite Technical Experts Group (TTEG) for Safety Navigation & Environment Protection in the Straits of Malacca & Singapore.

“MEH merupakan hasil kerja sama IMO dan Indonesia guna meningkatkan perlindungan lingkungan maritim melalui pelayanan lalu lintas pelayaran. MEH Data Center sebagai pusat penyimpanan serta distribusi data dan informasi berada di lokasi Vessel Traffic Services (VTS) Batam,” ujar Raymond.

MEH di Indonesia secara resmi diserahterimakan kepada Direktorat Jenderal Perhubungan Laut pada tahun 2011 oleh Sekretaris Jenderal IMO, Koji Sekimizu saat itu yang merupakan sebuah terobosan di bidang keselamatan pelayaran untuk pertama kali di dunia diterapkan di Selat Malaka & Selat Singapura dalam kerangka kerja sama ke-3 negara pantai.

Raymond menuturkan, sejak tahun 2014 melalui forum TTEG di Langkawi Malaysia, Indonesia telah menggagas pandangan tentang masa depan pelayanan MEH.

“Melanjutkan gagasan tersebut, ketiga negara pantai berhasil mencapai kesepakatan dalam the 10th MEHWG tahun ini, mengenai langkah-langkah strategis yang akan dilakukan. Hal ini merupakan capaian yang sangat baik,” ujarnya. (omy)