Angkasa Pura 2

KNKT: Black Box Helikopter Basarnas Sudah Diserahkan ke TNI AL

Kokpit SDMMinggu, 16 Juli 2017
IMG-20170714-WA0248

JAKARTA (Beritatrans.com) – Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) membantu sepenuhnya upaya TNI AL untuk membaca dan menganalisis black box heliokpter Basarnas yang jatuh di daerah pegunungan Dieng, Wonosobo, Jawa Tengah belum lama ini.

“Black box sudah ditemukan dan dibawa ke Jakarta. Setelah di-downloud terus diserahkan ke TNI AL. Selanjutnya, Mabes TNI AL yang akan membaca dan menganalisis isi black box serta menyimpulkan apa penyebab kecelakaan helikopter tersebut,” kata Ketua KNKT Dr.Ir. Sorjanto Tjahjono di Jakarta, kemarin.

Jika memang dibutuhkan, KNKT siap membantu baik tenaga ahli, fasilitas lab atau hal lain yang dibutuhkan untuk membaca dan menganalisis isi black box helikopter naas tersebut. KNKT tetap komit pada peningkatan keselamatan transportasi di Tanah Air.

Seperti diketahui, kecelakaan helikopter Basarnas itu menewaskan delapan orang awak dan penumpangnya. Para korban sudah berhasil ditemuka dan diidentifikasi serta diserahkan kepada keluarga masing-masing untuk dikebumikan sebagaimana mestinya.

Menurutnya, kasus kecelakaan helikopter Basarnas saat akan meninjau erupsi kawah Sileri, Dieng korbannya ada 4 orang anggita TNI-AL serta 4 personel Basarnas Semarang. Kawah Sileri mengalami erupsi saat seak season Lebaran dan banyak wisatawan yang menjadi korban dan harus dilarikan ke rumah sakit.

“Helikopter itu bukan dioperasikan untuk angkutan umum dan korbannya sebagian besar anggota TNI-AL. Kini kewenangan sepenuhnya ada di TNI-AL untuk mengungkap kasus kecelakaan helikoper maut tersebut,” jelas Soerjanto.

IMG-20170702-WA0011

Mantan pejabat Garuda Indoensia itu tak mau berspekulasi mengenai apa penyabab kecelakaan maut tersebut. “Kini masih dalam proses membaca dan menganalisis percakapan dan isi black box tersebut. Hasilnya nanti menjadi kewenangan sepenuhnya pihak TNI AL,” kilah Soerjanto menjawab Beritatrans.com.

Dia menambahkan, helikopter Basarnas yang jatuh di pegunungan Dieng Wonosobo masih relatih baru. Helikopter itu buatan tahun 2015 dan digunakan untuk mendukung operasi SAR di Tanah Air. Helikopter itu juga masih laik terbang dan digunakan untuk operasi SAR di berbagai daerah di Indonesia.

“Kalau tiba-tiba helikopter jatuh dan menewaskan 8 penumpang dan awaknya itu yang harus dicari apa penyebabnya. Selanjutnya direkomendasikan untuk menghindari kasus itu jangan sampai terulang kembali,” papar Soerjanto.

KNKT dan juga bangsa Indonesia lainnya, sangat menyayangkan kasus helikopter naas milik Basarnas itu sampai terjadi. “Semoga itu menjadi kasus terakhir dan tidak pernah terulang lagi di masa mendatang,” tandas Soerjanto.(helmi)