Angkasa Pura 2

GMF Aero Asia Investasi Rp2,66 Triliun Bangun Fasilitas Perbaikan Pesawat Di Australia, China & Uni Emirat Arab

KokpitKamis, 20 Juli 2017
images (5)

TANGERANG (BeritaTrans.com) – Manajemen PT Garuda Maintenance Facility (GMF) Aero Asia akan membangun empat fasilitas perawatan pesawat atau maintenance, repair, overhaul (MRO).

Fasilitas itu dengan investasi senilai USD200 juta atau Rp2,66 triliun (kurs Rp13.323 per USD).

Pembangunan pertama dari fasilitas tersebut akan dilakukan di Kota Batam pada tahun depan. Selanjutnya GMF berencana ekspansi dengan membangun fasilitas MRO baru di luar negeri, yakni di Australia, China, dan Uni Emirat Arab (UEA).

Direktur Utama GMF Aero Asia Iwan Joeniarto mengatakan, keempat fasilitas yang bakal dibangun GMF diproyeksikan bisa berjalan hingga 2021 guna melayani pasar global.

“Lokasi-lokasi yang kami pilih itu, memang belum terlalu banyak MRO yang berkembang. Karenanya, kami lihat di tempat itu jumlah pesawat sangat tinggi di lokasi-lokasi tersebut. Contoh di Australia, SDM cukup mahal, makanya kita pakai SDM sendiri. Jadi, kemungkinan kami masuk ke negara-negara tersebut,” kata Iwan di hanggar GMF, Cengkareng, Banten.

Dia menjelaskan, rencana paling awal yang akan direalisasikan adalah pembangunan fasilitas MRO di Batam tahun depan. GMF akan menggandeng rekanan, selain Otorita Batam selaku pengelola lahan. Rekanan yang dipilih akan melalui proses seleksi sesuai dengan semangat brand GMF.

“Yang akan kami pilih adalah mitra yang bisa mengangkat nilai dan citra GMF. Investasinya juga masih kami hitung. Namun, dengan Otorita Batam sudah ada perjanjian. Masalah-masalah teknis dan sebagainya masih terus kami bicarakan,” ungkapnya.

Iwan memastikan, apa yang dilakukan GMF di Batam, berdasarkan besarnya potensi pasar perawatan pesawat. Menurut dia, di pasar global, pasar MRO masih terbuka lebar sehingga GMF harus menjadi pemain utama di negeri sendiri. Selain GMF, di Batam sebelumnya sudah beroperasi MRO yang dikelola oleh Lion Air Group.

Kehadiran pemain lain di bisnis MRO, ujar Iwan, tidak akan menjadi masalah bagi perseroan karena Lion memiliki pasar tersendiri.

“Ini penghasil devisa. Adanya Lion di sana saya rasa tidak ada masalah karena pasarnya ada sendiri dari grupnya, sedangkan kami akan menarik pasar dari luar masuk ke Indonesia,” lanjut Iwan.

Dia menambahkan, GMF telah meneken perjanjian dan nota kesepahaman bersama pihak lain terkait rencana pembangunan fasilitas MRO di sejumlah tempat.

Namun, GMF terus melakukan pematangan kajian, seperti di Australia yang saat ini ada dua kota yang tengah dipertimbangkan, yaitu Sydney dan Melbourne.

“Di Uni Emirat Arab, kami berencana membangun fasilitas MRO di Kota Dubai,” ujarnya.

Iwan menambahkan, sebagian kebutuhan dana pembangunan keempat fasilitas MRO anyar bakal memanfaatkan dana yang diperoleh melalui initial public offering (IPO). Adapun rencana IPO akan dilakukan pada September tahun ini.

Dihubungi terpisah, pengamat penerbangan Arista Admadjati mengatakan, langkah GMF melebarkan bisnis MRO merupakan langkah tepat dan sudah seharusnya dilakukan sejak ramainya maskapai asing ke Indonesia.

Namun begitu, untuk melakukan ekspansi dibutuhkan dana yang besar. “Kita tahu fasilitas MRO itu sarat dengan teknologi.

Praktis membutuhkan dana yang besar. Namun, dengan pengalaman GMF memberikan layanan kepada maskapai asing saya kira cukup mudah mendapatkan kepercayaan investor,” kata founder Arista Indonesia Aviation Center itu.

Arista menambahkan, secara bisnis sektor MRO memang sangat menjanjikan. Salah satu yang membuat bisnis ini berpotensi karena pembayarannya dilakukan dengan mata uang dolar.

“Mau tidak mau supaya efisien GMF akan mengutamakan teknisi dalam negeri sehingga berpengaruh juga pada tingkat kesejahteraan masyarakat. Tentu citra dunia penerbangan Indonesia lebih baik karena dinilai bisa menjaga level safety dan security ,” pungkas dia. (omy).

Sumber: okezone.com.

loading...