Angkasa Pura 2

Badan Litbang Diskusikan Penyusunan Naskah Akademik RUU Sistranas

Another News LitbangSabtu, 5 Agustus 2017
IMG_20170805_125854

JAKARTA (beritatrans.com) – Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kementerian Perhubungan mengumpulkan sejumlah pakar dan akademisi di bidang transportasi untuk mendiskusikan Sistem Transportasi Nasional (Sistranas) sekaligus mencari masukan sebagai bahan penyusunan naskah akademik Rancangan Undang-Undang (RUU) Sistranas.

Kegiatan dalam bentuk Focuss Group Doscussion (FGD) ini berlangsung di Ruang Rapat Garuda Badan Litbang Perhubungan, Jakarta pada Jumat kemarin (4/8/2017).

Adapun tema FGD yang diusung adalah “Arah Kebijakan Pengebangan Transportasi dalam Rangka Penyusunan Naskah Akademis Sistem Transportasi Nasional (Sistranas).”

Pembicara yang dihadirkan adalah Pakar Transportasi Antarmoda, Dr. Ir. L. Denny Siahaan, Ms.Tr., dengan topik bahasan tentang “Kebijakan Pelayanan Transportasi di Masa yang Akan Datang dalam Perapektif Sistranas.” Kemudian Staf Ahli Bidang Hukum dan Reformasi Birokrasi Perhubungan, Dr. Umar Aris, SH, MH, MM., dengan membawakan topik bahasan tentang “Kebutuhan Pengaturan di Bidang Transportasi di Masa yang Akan Datang dalam Perspektif Sistranas. Pembicara lainnya adalah Guru Besar Universitas Tarumanegara, Prof. K. Martono, SH, LLM., yang membawakan topik bahasan tentang “Kebutuhan Pengaturan di Bidang Transportasi di Masa yang Akan Datang dalam Perspektif Sistranas.”

Materi diskusi yang disampaikan oleh tiga pakar tersebut ditanggapi oleh para pembahas dari berbagai instansi, akademisi, dan pengamat. Para pembahas itu diantaranya adalah: Ketua STMT Trisakti Dr. Ir. Tjuk Sukardiman, Darmaningtyas (MTI), Capt. Nababan (Pakar Transportasi Udara), Ir. Ellen Tangkudung, M.S., (UI), Ir. Harun Al Rasyid (ITB), Djoko Setjowarno (Unika Soegijapranata, Semarang), Prof. Yamin Jinca (Unhas), dan Dr. Ek. Ranendra (ITB).

Kegiatan Focuss Group Discussion itu sendiri dibuka langsung oleh Kepala Badan Litbang Perhubungan Ir. Umiyatun Hayati Triastuti, M.Sc., dan moderator Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Antarmoda Badan Litbanh Perhubungan Ir. Imran Rasyid, MBA.

IMG_20170805_130451

Dalam paparannya, Staf Ahli Menteri Perhubungan Bidang Hukum dan Reformasi Birokrasi Kementerian Perhubungan, Dr. Umar Aris, SH, MH, MM., menyampaikan bahwa Sistranas adalah sebuah tatanan transportasi yang terorganisasi secara kesisteman terdiri dari transportasi jalan, transportasi kereta api, transportasi sungai dan danau, transportasi penyeberangan, transportasi laut, transportasi udara serta transportasi pipa yang masing-masing terdiri dari sarana dan prasarana (kecuali pipa) yang saling berinteraksi membentuk sistem pelayanan jasa transportasi yang efektif dan efisien, terpadu dan harmonis, berkembang secara dinamis.

“Tujuan Sistranas adalah terwujudnya transportasi yang efektif, efisien, keterpaduan dalam menunjang dan sekaligus menggerakkan dinamika pembangunan, meningkatkan mobilitas manusia, barang dan jasa, membantu terciptanya pola distribusi nasional yang mantap dan dinamis, serta mendukung pengembangan wilayah, dan lebih memantapkan perkembangan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara dalam rangka perwujudan wawasan nusantara dan peningkatan hubungan internasional,” kata Umar Aris.

Menurut Umar Aris, Sistranas diperlukan karena pengelolaan tranposrtasi oleh banyak institusi, baik yang sifatnya transportasi publik maupun privat. Juga berbagai karakteristik moda transportasi yang berbeda-beda, seperti bus, kereta api, kapal, dan pesawat.

Meskipun Sistranas diperlukan, tetapi Umar Aris mengatakan bahwa ada beberapa kendala atau hambatan dalam mengimplementasikannya. Beberapa hambatan tersebut adalah:

1. Kurang keterpaduan antar dan intramoda;
2. Rendahnya kinerja transportasi;
3. Tingginya biaya (perawatan dan perawatan sarana transports);
4. Usia armada terlalu tua (kapal, pesawat, bus/truk, gerbong/lokomotif);
5. Cepatnya pertumbuhan kota dan kota-kota sekitar;
6. Pencemaran lingk hidup (polusi udara, bising);
7. Keterbatasan dana pemerintah dan sumber energi;
8. Terbatasnya kapasitas sarana dan prasarana;
9. Perbedaan kepentingan pihak-pihak.

Umar Aris berkesimpulan, Sistranas yang diproyeksikan menjadi Undang-Undang bertujuan untuk menjadi payung hukum semua UU Transportasi seperti UU 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), UU 1/2009 tentang Penerbangan, UU 23/2007 tentang Perkeretaapian, dan UU 17/2008 tentang Pelayaran.

RUU Sistranas juga harus mengakomodasi semua kemajuan dan perkembangan sistem transportasi nasional, termasuk kemajuan teknologi untuk transportasi.

“RUU Sistranas harus menjawab dan mengantisipasi permasalahan masa depan,” kata Umar.

Selain itu, RUU Sistranas perlu dimasukkan integrasi antarmoda. Masyarakat tidak boleh dipersulit mengakses antarmoda transportasi dengan simbol terpisah-pisah.

“Kalau ini sudah masuk, bisa memajukan sistem transportasi,” ujarnya.

Pemerintah juga harus menyematkan sistem teknologi dan informasi (TI) dalam perkembangan transportasi nasional. Tidak hanya fisik, tapi data dasar transportasi bisa diinformasikan dalam sistem TI. Pengawasan dapat dilakukan baik, seperti penyelenggaraan uji KIR atau jembatan timbang. (aliy)

loading...