Angkasa Pura 2

Begini Kisah 12 ABK & Nakhoda Saat Kapal Minahasa Tenggelam Di Perairan Masalembo

DermagaSabtu, 5 Agustus 2017
images (8)

TEGAL (BeritaTrans.com) – Meski sudah dua minggu, tapi rasa syok dan pikiran tentang musibah yang sempat dialami masih menghantui perasaan Vian. Pemuda 22 tahun itu hingga kini masih mengalami trauma yang berlebihan.

Siang itu waktu menunjukkan pukul 10.00 WIB. Rumah petak berukuran 3×10 yang berada di Jalan Sangir, RT 09 RW 11, Mintaragen, Tegal Timur, tampak terdengar suara televisi saat Radar Tegal bertandang ke rumah Vian.

Dia adalah salah seorang dari enam korban anak buah kapal (ABK) KM Minahasa yang selamat, setelah kapalnya tenggelam di Perairan Masalembo pada 18 Juli lalu.

”KM Minahasa berangkat dari Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara pada 16 Juli dengan membawa 12 ABK termasuk juga kapten kapal,” terang Vian.

Dia menjelaskan bahwa sebelum kapal terbalik, siang itu tiba-tiba ada ombak besar yang mengguncang kapalnya. Termasuk, hujan dan angin kencang yang menerpa kapalnya hingga kapalnya terbalik.

”Saat kapal terbalik, semua ABK saling menyelamatkan diri. Termasuk berusaha menaiki kondisi kapal yang sudah terbalik,” ungkapnya.

Di saat semuanya sudah berhasil menaiki kapal yang terbalik, ombak besar pun memecah para ABK yang tengah berusaha memegang kuat kapal terbalik. Namun, lagi-lagi semua ABK terpental dan terpisah.

Hingga, enam orang ABK terpisah dan hingga kini hilang entah ke mana. Sementara enam orang lainnya masih bertahan di kapal yang terbalik itu.

”Siang itu, hingga malam saya dan lima orang ABK lain hanya bisa pasrah. Termasuk hanya doa yang diucapkan bersama,” ungkapnya.

Vian mengaku bersama dengan rekan-rekannya tidak bisa tidur. Ini karena kondisinya yang berada di tengah-tengah laut dan hanya berlabuh di atas kapal yang terbalik.

”Hingga waktu pun berganti pagi. Ketika matahari sudah beranjak siang, tampak sebuah kapal ada yang melintas. Otomatis, kami semua berteriak meminta tolong,” ungkapnya.

Akhirnya, dia bersama ABK lain berhasil diselamatkan. ”Enam ABK selamat di antaranya, Toni, warga Depok Martoloyo; Dodo, Iyus, Warno yang semuanya warga Perumnas Nelayan. Termasuk Mustakim, warga Comal dan saya,” aku Vian.

Sedangkan enam ABK yang hilang di antaranya, kapten Wawan asal Prunas Nelayan, Yusuf, Ageng, Eko, dan dua belum diketahui namanya. ”Sampai saat ini rasa trauma juga ada. Termasuk dalam hati saya, menjadi nelayan memang sangat berat. Terlintas ada rasa kapok menjadi nelayan,” ungkapnya.

Sementara orang tua Vian, Tukiyem, saat anaknya pulang langsung membuat selamatan. Dia pun membuat nasi kuning sebagai bentuk rasa syukur, lantaran anaknya selamat.

”Meski anak saya selamat, saya hingga kini juga masih duka. Sebab, keponakan saya, Yusuf, hingga kini belum jelas keberadaannya,” akunya sambil meneteskan air matanya.

Sebagai keluarganya, dia sampai saat ini masih merasa kehilangan. Apalagi ibunya Yusuf, setiap malam tak bisa tidur. Orang tua Yusuf (ABK yang hilang), Meti, tak bisa berkata-kata.

Dia lebih memilih banyak diam tapi air matanya terus mengalir. Sebagai ibu kandungnya, Meti hanya bisa berdoa agar kondisi anaknya bisa selamat.

Meski sudah mendapatkan bantuan dari pemilik kapal, Meti tetap berharap anaknya bisa berkumpul lagi dengan keluarga. ”Yusuf baru nikah sebelum berangkat melaut,” ungkapnya.

Wanita 57 tahun itu berharap ada kepedulian dari Pemkot Tegal, utamanya wali kota ataupun KUD. Sebab, anaknya juga anggota nelayan. (lia/sumber radartegal.com).

Foto: ilustrasi kapal tenggelam