Angkasa Pura 2

Din Syamsuddin: Kemiskinan dan Buta Aksara Masalah Peradaban Dunia Yang Krusial

Another News SDMMinggu, 6 Agustus 2017
din syamsuddin

JAKARTA (Beritatrans.com) – Prof. Dr. Din Syamsuddin menjadi pembicara tentang Peran Agama dalam Pengentasan Kemiskinan dan Pengembangan Pendidikan di Daerah Terpencil. Dalam presentasinya dia mengatakan bahwa kemiskinan dan buta aksara merupakan masalah peradaban dunia yang krusial.

“Umat beragama harus merasa terpanggil untuk mengatasinya, karena itu adalah tanggung jawab kemanusiaan dan keagamaan sekaligus,” kata Din Syamsudin   bersama puluhan tokoh agama dunia pada International Peace Prayer di Mount Hie, Kyoto, Jepang, melalui siaran pers yang diterima  Beritatrans.com di Jakarta, Minggu (6/8/2017).

Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu sudah tiga kali diundang pada peringatan tahunan peristiwa tersebut yang selalu diawali dengan sebuah simposium tentang tema di seputar isu perdamaian, kerukunan, dan penanggulangan kekerasan.

Pada Peringatan 30 Tahun Pertemuan Puncak Tokoh-Tokoh Agama Dunia di Mount Hie  ini digelar simposium mengambil tema tentang :Menjauhi Perpecahan dan Kebencian serta Mengatasi Masalah Kemanusiaan”.

Agama-agama, jelas Din Syamsuddin yang juga Ketua Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju, sebenarnya sudah berperan nyata seperti yang terjadi di Indonesia. Ikut berbicara pada sesi yang sama: Kardinal John Oyinaken (tokoh Kristen dari Nigeria), Ela Ghandi (cucu Mahatma Gandi), Supreme Patriach Kamboja, dan utusan Vatikan.

Acara Doa Bersama bagi Perdamaian Dunia berlangsung di Mount Hie, sebuah gunung berketinggian 800 meter di luar kota Kyoto. Acara diisi doa bersama dan penyampaian pesan dari para wakil agama-agama.(helmi)