Angkasa Pura 2

839 Warga Bekasi Daftar Jadi Warganegara Asgardia Di Luar Angkasa

Another NewsSenin, 7 Agustus 2017
images

_97102804_54b85aca-6692-453f-ad7b-b24bcae20bb4

BEKASI (BeritaTrans.com) – – Negara luar angkasa ternyata bukan hanya sekadar impian. Ilmuwan asal Rusia Igor Ashurbeyli tengah mewujudkannya melalui, proyek yang dikenal dengan nama negara luar angkasa Asgardia.

Percaya enggak percaya, ternyata hampir 1.000 orang Bekasi sudah mendaftar menjadi warga negara Asgardia. Hingga artikel ini ditulis, data di asgardia.space menunjukkan bahwa sudah ada 293.773 pendaftar.

Di Indonesia sendiri, sudah sebanyak 18.730 orang mendaftar. Dari jumlah itu, 839 di antaranya dari Bekasi, baik Kabupaten atau Kota Bekasi.

Sementara itu, tercatat pendaftar terbanyak berasal dari Turki dengan jumlah 42.733, disusul Tiongkok dan Amerika Serikat. Sementara Indonesia berada pada urutan keempat.

Ashurbeyli menyebut Asgardia akan menjadi negara yang mengusung demokrasi. Layaknya negara-negara di Bumi, Asgardia juga akan membentuk pemerintahan demokrasi berdasarkan hukum.

Warga negara Asgardia pun nanti diminta untuk turut andil memberikan suara demi sistem perumusan dasar konstitusi negara tersebut.

Tujuan dibangunnya Asgardia didasari 3 asas utama dari aspek ilmu alam dan teknologi. Pertama, Asgardia didirikan untuk menjamin kehidupan antariksa secara damai. Kedua, Asgardia hadir untuk melindungi Bumi dari ancaman objek luar angkasa, seperti komet, badai matahari, dan masih banyak lagi.

Seperti dijelaskan Ashurbeyli, Asgardia akan bertempat di sebuah wahana antariksa. Dia menggambarkannya seperti sebiuah stasiun luar angkasa internasional (ISS), dengan ukuran yang lebih megah layaknya pesawat luar angkasa di film-film fiksi ilmiah.

Dia mengambil konsep desain futuristik yang dirancang oleh para pakar dari Kanada, Rumania, Rusia, dan Amerika Serikat (AS).

Wahana bisa menampung setidaknya 150 ribu jiwa. Namun, ke depannya Ashurbeyli ingin menambah ruang wahana Asgardia agar bisa menampung hingga 1,5 juta jiwa.

Ashurbeyli mengatakan, Asgardia diambil dari wilayah hunian para dewa Nors, yakni Asgard. Nama ini juga hadir sebagai kota fiktif yang ada di film Thor.

Lena de Winne, manajemen Asgardia, yang sebelumnya bekerja selama 15 tahun di European Space Agency. mengatakan sangat gembira banyak yang mendaftar menjadi komunitas negara ruang angkasa pertama ini.
“Di sejumlah negara, responsnya lebih banyak, dan kami sangat senang, orang Indonesia menjawab tawaran promosi tentang Asgardia,” kata De Winne kepada wartawan BBC Indonesia, Endang Nurdin.

Moedji Raharto, astronom di Observatorium Bosscha Lembang, Jawa Barat mengatakan cukup tingginya respons orang Indonesia karena banyaknya peristiwa alam.

“Di Indonesia banyak terjadi peristiwa langit, seperti gerhana, jadi kedekatan manusia dengan langit akan menjadi jalan dengan merespons setiap kali ada tawaran tentang perjalanan ke ruang angkasa, atau ada event yang menarik,” kata Moedji.

Tentunya dengan mendaftar, orang tak serta merta bisa langsung tinggal di ruang angkasa. Mereka masih harus tetap tinggal di Bumi.

Apa dan bagaimana proyek bangsa ruang angkasa, Asgardia? Inilah lima hal yang kami rangkum untuk Anda.

Bangsa independen ruang angkasa

Proyek ini pertama kali diumumkan pada Oktober 2016, oleh ilmuwan Rusia, Igor Ashurbeyli, yang menyebut Asgardia sebagai bangsa independen pertama yang beroperasi di ruang angkasa.

Dalam 40 jam setelah diumumkan, ratusan ribu orang mendaftarkan kewarganegaraan di situs Asgardia.

Siapa pun yang berusia di atas 18 tahun dan memiliki alamat email, apa pun kebangsaannya, gender, ras, agama dan kondisi keuangan, bisa mendaftar.
Bekas narapidana juga bisa mendaftar, sepanjang mereka bebas dari dakwaan saat pendaftaran.

Satelit diluncurkan tahun ini

Kehadiran pertama di ruang angkasa akan dilakukan tahun ini dengan mengirimkan satelit melalui wahana ruang angkasa milik NASA yang akan dibawa ke stasiun ruang angkasa, International Space Station, milik badan luar angkasa Amerika Serikat itu.

Lena de Winne mengatakan foto-foto atau data dari mereka yang mendaftar akan dibawa serta dalam satelit ini. Dari ISS, baru satelit ini akan diorbit.

Namun De Winne belum bisa menyebutkan tanggal pasti karena jadwal peluncuran menunggu dari NASA.

Tanggapan orang

Banyak yang menyambut proyek ini dalam berbagai komentar melalui akun Facebook Asgardia, termasuk akun atas nama Vishal Swami yang menulis, “Asgardia adalah tujuan yang hebat. Saya berterima kasih kepada mereka yang membuat bangsa menyenangkan ini.”

Pengguna lain, Yanaka Putra menulis, “Saya bergabung karena saya ingin tinggal di ruang angkasa… Apakah ada perkiraan waktu kapan warga Asgardia mulai pindah ke ruang angkasa? Bukan bangsa ruang angkasa bila tidak tinggal di ruang angkasa.”

Seorang spesialis marketing yang mengatur pertemuan bulanan untuk warga Asgardia yang tinggal di Hong Kong, John Spiro, mengatakan data atau barang pribadi yang dikirim ke ruang angkasa ini yang membuatnya tertarik mendaftar.

“Saya menyimpan sutra Buddha sebagai hobi dan mengirim salah satu barang keagamaan ini dalam bentuk teks elektronik ‘ke surga’ merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan,” kata Spiro seperti dikutip CNN.

Anjungan di ruang angkasa

Tim Asgardia akan membangun anjungan di ruang angkasa pada orbit rendah sekitar 100 sampai 600 kilometer dari permukaan Bumi. ISS juga terletak di orbit rendah.

_97102810_51e7ae75-b336-4115-b1ae-6830ac85af84

Penerbangan pertama ‘manusia’ akan dilakukan dalam delapan tahun namun pada awalnya akan dibatasi pada “mereka yang profesional” termasuk pilot pesawat ruang angkasa, dan pakar navigasi, kata Lena de Winne.

Sementara proyek turis ruang angkasa yang diterbangkan ke anjungan Asgardia akan memerlukan waktu lebih lama lagi untuk persiapannya, tambah De Winne.

Pendiri Asgardia

Ilmuwan Rusia Igor Ashurbeyli mengatakan pada saat peluncuran proyek Oktober lalu, bahwa langkah ini, “Bukan fantasi. Pergi ke Mars dan lain-lain itu palsu. Saya ingin sesuatu yang lebih nyata.”

Ilmuwan berusia 53 tahun ini mendanai proyek ini sendiri namun tak disebutkan jumlahnya.

Ia dilaporkan sebagai miliuner namun tak pernah muncul di daftar orang terkaya versi majalah Forbes.

Pakar roket yang lahir di Azerbaijan ini lulus dari Akademi Perminyakan di negara tempat dia lahir pada 1985 dan tiga tahun kemudian mendirikan Socium, perusahaan perangkat lunak dengan lebih dari 10.000 karyawan, menurut situs perusahaan itu.

Setelah pindah ke Moskow pada 1990-an, ia berpengaruh dalam bidang industri sains dan pernah mendapatkan penghargaan negara untuk sains dan teknologi.

Ashurbeyli mengatakan Asgardia akan didaftarkan untuk mendapatkan pengajuan PBB sebagai bangsa pada 2018.

Namun profesor Sa’id Mosteshar, direktur London Institute of Space Policy and Law, meragukan apakah Asgardia dapat diakui berdasarkan undang-undang internasional.

“Traktat ruang angkasa … yang diterima oleh semua orang menyebutkan dengan jelas bahwa tidak ada bagian dari ruang angkasa yang dapat diklaim oleh negara manapun,” kata Mosteshar.

(gus/sumber jpnn.com dan BBC Indonesia.