Angkasa Pura 2

Istana Bantah Pesawat Kepresidenan Penyebab Garuda Batal Terbang Dari Bali

KokpitSenin, 7 Agustus 2017
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (keenam kanan) bersama Ibu Negara Ny. Ani Yudhoyono (kedua kanan), Menko Polhukam Djoko Suyanto (kedelapan kanan), Menko Kesra Agung Laksono (keempat kanan), Seskab Dipo Alam (kelima kanan), Menko Perekonomian Hatta Rajasa

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Penerbangan Pesawat Kepresidenan kembali disebut sebagai penyebab batalnya penerbangan lain. Kali ini, pesawat Garuda Indonesia dengan nomor penerbangan GA 425 rute Bandara Ngurah Rai, Bali – Bandara Soekarno-Hatta, dinyatakan batal terbang.

Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin mengatakan, batalnya penebangan Garuda Indonesia tak terkait kegiatan Presiden Jokowi, karena jadwal penerbangan Jokowi ini berbeda jauh dengan waktu penerbangan Garuda Indonesia.

“Berita yang menyebutkan penerbangan Pesawat Kepresidenan Indonesia-1 membuat penerbangan Garuda batal adalah tidak benar,” tegas Bey melalui siaran pers, Minggu (6/8/2017).

Bey menjelaskan, Garuda Indonesia GA 245 seharusnya berangkat dari Bandara I Gusti Ngurah Rai pada Jumat, 4 Agustus 2017 pada pukul 21.30 Wita. Sedangkan Pesawat Kepresidenan Indonesia-1, kata Bey, sudah lepas landas sejak pukul 18.20 Wita dan tiba di Lanud Halim PK pukul 19.00 WIB.

“Selisih waktu yang cukup lebar, jelas menunjukkan tidak ada hubungan antara penundaan penerbangan Garuda dengan pesawat Kepresidenan,” kata dia.

Sebelumnya penumpang mengeluhkan batalnya penerbangan pesawat Garuda Indonesia rute Jakarta – Bali. Sebagian warga menyebut, gagalnya pesawat terbang karena adanya kegiatan Presiden.

Sementara, Communication Manager Garuda Indonesia, Ikhsan Rosan, mengatakan delay peberbangan bukan karena adanya pesawat Presiden yang sedang melintas. Tapi karena ada gangguan teknis pesawat.

Gangguan teknis ini memerlukan perbaikan selama dua jam. Ditambah adanya notice to airman (notam) tentang adanya kegiatan pesawat kepresidenan.

“Jadi bukan karena Pak Jokowi,” kata Ikhsan.

Dengan adanya delay dan notem, kata Ikhsan, awak penerbangan sudah melewati batas terbang. Sehingga diputuskan batal terbang dan dialihkan menjadi penerbangan pagi.

Ikhsan mengatakan, pihaknya sudah menawarkan solusi bagi penumpang yang akan beralih ke penerbangan maskapai lain. Bila, tetap ingin terbang pagi, Garuda Indonesia juga sudah memberikan kompensasi uang delay dan hotel.

“Kami mohon maaf atas ketidaknyamanan tersebut,” Ikhsan menegaskan. (moy/sumber liputan6.com).