Angkasa Pura 2

Bekerja Di Kapal MOL, Deri Warsidi Bergaji Rp35,1 Juta/Bulan

Figur SDMSelasa, 8 Agustus 2017
IMG-20170808-WA0109

.IMG-20170808-WA0090

JAKARTA (Beritatrans.com) – Deri Warsidi adalah alumni STIP Jakarta Angkatan 53 yang cukup sukses. Dia menjadi orang ketiga diangkatannya yang sudah mengambil Diklat Pelaut (DP) II tahun 2017 ini.

Artinya Deri sudah lebih dua tahun berlayar dan diberikan izin untuk sekolah mengambil ijazah kelas II di STIP.

Deri Warsidi adalah putra Klungkung, Bali Timur. Putra pasangan I Nyoman Sadia dan Ny. IGA Danakerti semula hanya ingin menjadi pelaut di kapal-kapal cruise atau kapal wisata layaknya orang Bali lainnya.

Tapi, atas saran dan pertimbangan ayahnya, kalau memang bisa menjadi perwira di kapal dengan gaji dan kesejahteraan yang lebih tinggi, mengapa tidak? Sebagai pelaut di kapal-kapal niaga juga menjanjikan dan peluang kerjanya lebih luas.

“Dari sanalah akhirnya saya mendaftarkan ke STIP Jakarta. Sedang peluang masuk ke Akpol, IPDN dan perguruan tinggi kedinasan lainnya ditinggalkan,” kata Deri Warsidi dalam perbincangan dengan Beritatrans.com di Jakarta, Selasa (8/8/2017).

Deri masuk STIP di Angkatan 53. Setelah lulus bulan Oktober 2014, sebulan berikutnya langsung naik kapal Mitsui OSK Lines (MOL), perusahaan asal Jepang. Sejak cadet di MOL, Deri sudah mendapatkan beasiswa dan langsung tanda tangan kontrak kerja begitu turun dari praktik laut (prala) di kapal MOL.

Setelah dua tahun berlayar, aku Deri ia meminta izin ke kantor untuk sekolah lagi. Selain untuk menambah ilmu dan pengalaman, saya juga ingin promosi sebagai Mualim II. Meski di MOL saat ini masih bisa menggunakan ijazah kelas III seperti sekarang.

IMG-20170808-WA0091

Promosi ke Mualim II

Senin besok (14/8/2017) saya akan ujian DP II di STIP Jakarta. Sekitar dua minggu ijazah keluar sudah jadi dan bisa diambil. “Setelah itu kembali ke habitat sebagai pelaut dan berlayar kembali,” aku Deri.

Ke depan, papar Deri, untuk perwira dengan jabatan Mualim II di kapal MOL harus dengan ijazah jelas II. “Itulah salah satu alasan, mengapa sekolah lagi. Selain itu juga untuk meningkatkan posisi dan kesejahteraan sebagai pelaut tentunya,” jelas Deri.

Sebagai pelaut di MOL, aku Deri, dengan posisinya sebagai Mualim III menerima gaji US$2.700 per bulan atau setara dengan Rp35,1 juta dengan kurs Rp13.000 per US Dolar.

Selain itu, tambah Deri, selama tidak berlayar masih mendapatkan uang stand by (gaji selama tidak berlayar) sebesar US$1.000 atau setara dengan Rp13 juta per bulan.

Namun begitu, menurut Deri, bekerja di perusahaan Jepang seperti MOL harus mengedepankan aspek profesionalisme dan tanggung jawab yang tinggi. Selain itu, persaingan antar pelaut di dunia termasuk para perwira di kapal ekstra ketat. Itulah tangangan yang mesti dihadapi.

“Sebagai karyawan MOL, kita harus siap jika sewaktu-waktu dipanggil dan harus naik kapal. Selama ini, masa kontrak kerjanya setiap enam bulan. Dengan masa off atau libur tidak berlayar maksimal setengah waktu kontrak atau tiga bulan,” papar Deri.

Disiplin dan Profesional

Sebagai pelaut di kapal MOL Jepang, menurut Deri harus kerja keras, disiplin tinggi dan profesional. “Kita sejak cadet sudah dipantau ketat. Jika dianggap tidak perform, maka akan ditegur bahkan bisa jadi tidak diterima bekerja lagi,” kata dia mengenang.

Sebaliknya, menurut Deri, jika kita bekerja baik dan profesional di atas kapal, maka akan dinilai baik. “Promosi jabatan di kapal juga lancar dan tentunya dengan tugas dan tanggung jawab yang sebanding. Sebagai perwira di kapal memang mendapatkan hak-hak yang besar. Tapi dibalik itu ada beban dan tanggung jawab yang berat harus dilaksanakan,” terang dia.

Oleh karena itu, saran Deri, jika nanti ingin menjadi cadet bahkan bekerja di MOL, maka harus profesional, disiplin dan tentunya menguasai Bahasa Inggris aktif, baik lisan atau tulis.

“Bahasa komunikasi kerja di kapal adalah Bahasa Inggris. Oleh karena itu, terus tingkatkan kemampuan Bahasa Inggris sejak dini jika ingin bergabung ke perusahaan MOL,” tandas Deri. (helmi)