Angkasa Pura 2

Guam Bekas Koloni Spanyol Yang Pernah Diduduki Jepang

Dermaga HankamKamis, 10 Agustus 2017
APL Guam being loaded with cargo at Yokohama before heading for Guam and Saipan-700x394

WASHINGTON (BeritaTrans com) – Ancaman Korea Utara terhadap Guam menyorot wilayah Amerika Pasifik barat yang tampak besar sebagai aset militer, meskipun lebih kecil dari Singapura.

Guam bekas koloni Spanyol, telah berada di tangan Amerika sejak akhir abad ke-19. Ini adalah salah satu dari 17 wilayah yang tidak memiliki pemerintahan sendiri di Amerika Serikat.

Guam berfungsi strategis sebagai pangkalan militer utama Amerika, dengan instalasi Angkatan Udara dan Angkatan Laut Amerika, menempati 29 persen luas seluruh daratan pulau itu.

Ini juga merupakan pusat utama untuk kabel komunikasi bawah laut antara Amerika Serikat bagian barat, Hawaii, Australia, dan Asia.

Guam, dengan luas hanya 544 kilometer persegi, menampung kehadiran militer yang terdiri dari hampir 7.000 personel militer dan diperkirakan akan menampung ribuan orang lagi dalam waktu dekat, ketika Amerika memindahkan aset dan personel militer yang saat ini ditempatkan di pulau Okinawa, Jepang.

Guam telah menjadi pangkalan utama bagi pesawat militer Amerika sejak Perang Dunia Kedua.

Amerika membangun pangkalan udara di Guam pada tahun 1944 untuk melakukan misi pengeboman terhadap Jepang, dan telah mempertahankan keberadaannya di Guam sejak itu.

Pangkalan Angkatan Udara Andersen di Guam menjadi tempat skuadron helikopter Angkatan Laut dan pesawat-pesawat pembom Angkatan Udara. Pangkalan itu memiliki dua landasan pacu sepanjang tiga kilometer, dan fasilitas penyimpanan besar untuk bahan bakar dan amunisi.

Pangkalan Angkatan Laut Guam adalah pelabuhan bagi empat kapal selam cepat bertenaga nuklir dan dua kapal pembantu kapal selam.

Dekatnya jarak antara Guam dan semenanjung Korea juga menjadikannya sasaran yang menarik bagi Korea Utara. Pyongyang hanya 3.380 kilometer di barat laut Guam, jarak yang mudah ditempuh. Tokyo berada 2.400 kilometer di utara, dan Taipei 2.700 kilometer di barat.

PERANG DI GUAM
Guam adalah aset penting di Pasifik selama Perang Vietnam, sebagai basis bagi pesawat-pesawat pembom B- 52 yang melakukan tugas di Asia Tenggara. Guam juga digunakan sebagai tempat transit untuk mengevakuasi para pengungsi Vietnam.

Secara geografis Guam merupakan pulau terbesar dari jajaran Kepulauan Mariana. Pulau sepanjang 48 km dan lebar 14 km ini seperti diketahui masuk dalam jajahan AS setelah direbut dari Spanyol pada 1898.

Jepang sendiri dapat dengan mudah menduduki Guam tak lama setelah serangan ke Pearl Harbor dilancarkan, Desember 1941. Sampai menjelang 1944, bisa dibilang Jepang tak membangun sistem partahanan yang begitu kuat seperti di Saipan. Kondisi ini mulai berubah tatkala AS mulai mendepak posisi jepang dari kepulauan di Pasifik satu demi satu. Guam menjadi salah satu pulau yang diisi garnisun Jepang dalam jumlah besar.

Peta serangan AS di Pulau Guam
Bagi AS, Guam menjadi salah satu target yang harus dikuasai kembali. Ada dua alasan yang mendasarinya. Pertama pulau ini memiliki sejumlah lapangan terbang yang secara teknis dianggap mampu menampung raksasa AS, B-29 Superfortress.

Kedua, Guam memiliki pelabuhan laut dalam (deep harbor) yang terletak di Semenanjung Apra. Secara teknis pelabuhan model begini bisa dipakai untuk sandar kapal-kapal perang bertonase besar. Dengan dua aset tadi maka Guam memiliki nilai strategis sebagai pangkalan aju bagi unsur udara dan laut AS yang bakal bergerak ke arah Filipina dan Formosa (sekarang Taiwan).

Operasi amfibi ke Guam akan digelar dengan selang cuma tiga hari setelah Marinir AS mendarat di Saipan, 15 Juni 1944. Begitulah rencana awal yang disusun para petinggi militer AS. Namun pada kenyataannya, operasi amfibi diundur sampai sebulan.

Secara teknis operasi pendaratan amfibi ke Guam tertahan karena sebagian besar kekuatan laut AS terlibat dalam pertempuran laut Battle of the Philippine Sea. Hal ini masih ditambah pertempuran merebut Saipan aik di darat maupun laut, berlangsung dengan alot sehingga membuat AS terpaksa mengalihkan sebagian kekuatan yang disiapkan untuk pelaksanaan operasi ke Guam.

Walau molor dari jadwal yang telah ditentukan namun di atas kertas AS telah memiliki jabaran pelaksanaan di lapangan. Sebagai gambaran, untuk membuka serangan AS bakal melakukan bombardermen lewat udara. Pengeboman dilakukan oleh pesawat tempur yang berpangkalan di kapal induk maupun dari pangkalan yang terletak di Kepulauan Marshall. Serangan udara ini kemudian dilanjutkan bombardermen laut dari meriam kapal perang sekelas battleship.

Rampung urusan unsur pembuka, kini giliran lokasi pendaratan yang dipilih. Hasil analisa dari sejumlah data intelijen awal diputuskan kalau AS akan menyerang Guam dari arah Barat. Ada dua titik pendaratan yang dipilih yaitu di dekat Agana di sisi utara dan Agat di sisi selatan. Kedua titik berjarak sekitar lima mil (setara delapan kilometer).

Bila disimak, kedua lokasi mengapit Semenanjung Orote yang notabene merupakan pelabuhan sekaligus juga lapangan terbang. Dengan pilihan tempat pendaratan seperti ini, diharapkan kedua kekuatan tadi bisa saling mendukung, menggunting kekuatan lawan sehingga dapat dengan mudah menguasai dua objek sasaran.

Tentu saja buat menggelar operasi amfibi, Marinir tak bisa melenggang bebas. Jepang yang sejak awal mencium rencana AS buat menguasai Kepulauan Mariana, buru-buru mengirim perkuatan. Sebagian perkuatan dikirim dari Korea. Sampai menjelang serangan, tercatat Guam dipertahankan oleh 18.500 prajurit baik dari AD maupun dari AL Jepang.

Masalah kedua datang dari kondisi alam. Perairan disekitar Guam didominasi batu-batu karang yang kerap kali tersamar oleh permukaan laut. Beruntung kendala ini bisa diatasi oleh tim demolisi bawah air AL AS (UDT – Underwater Demolition Team).

Pada dua lokasi yang dipilih sebagai tempat pendaratan, tercatat tim ini meledakkan lebih dari 1.000 bahan peledak untuk menghancurkan beragam rintangan, baik alam maupun buatan. Pekerjaan pembersihan dilakukan selama empat hari dan berakhir sehari sebelum operasi digelar.

Sebagai langkah awal menguasai pulau seluas kurang lebih 550 km persegi itu, AS menggelar operasi amfibi dengan mengerahkan lima resimen infanteri Marinir. Satuan yang dilibatkan antara lain 3rd, 9th, dan 21st Marines, ketiganya berasal dari 3d Marines Division serta 4th dan 22nd Marines.

Keduanya merupakan bagian dari kekuatan 1st Provisional Marine Brigade. Pasukan-pasukan dari 3d Marines Division kebagian jatah mendarat di utara (Agana), sedang di selatan merupakan lokasi pendaratan bagi 1st Prvisional Marine Brigade.

Sebelum pasukan Marinir menginjakkan kakinya di pantai Guam, AS terlebih dahulu mengerahkan 84 pesawat pemburu plus 16 pengebom torpedo untuk memberikan perlindungan udara. Tercatat ranpur amfibi Amtrac pertama menginjak daratan Guam pada pukul 08.32 waktu setempat.

Pasukan Jepang yang masih bertahan cuma memberikan waktu jeda 60 detik sebelum akhirnya menghujani Marinir dengan peluru mortir atau meriam antikapal. Sebagian serpihan metal proyektil Jepang merobek sejumlah Marinir yang baru saja turun dari Amtrac.

Mereka langsung tersungkur tak bergerak. Di lokasi yang didarati 9th Marines saja, AS mesti rela kehilangan lebih dari 200 personel. Dua orang tewas diantaranya adalah komandan kompi serta seorang komandan batalion terluka.

Tak hanya membuat kocar-kacir pasukan penyerang, sejumlah proyektil mortir bahkan sempat menghantam telak beberapa Amtrac. Ketika pendaratan usai, tercatat dari dua lokasi pendaratan tadi Marinir kehilangan sedikitnya 20 unit Amtrac hancur berantakan akibat tembakan lawan.

Tembakan yang begitu gencar selanjutnya juga sempat menahan Marinir di pantai selama hampir setengah jam. Mereka akhirnya baru bisa bergerak setelah mendapat perlindungan dari armada tank. 3rd Marines yang bergerak di sisi kiri serbuan 3rd Marine Division langsung berhadapan dengan perbukitan Chonito Cliff.

Wilayah ini baru bisa dikuasai tengah hari dengan susah payah. Dari sini Marinir berhasil menyita 14 pucuk senapan mesin berat dan ringan, enam tabung mortir, plu sejumlah amunisi milik Jepang. Sampai menjelang malam, rata-rata setiap satuan Marinir mampu membangun garis parameter pertahanan sejauh 2.000 m dari tepi pantai.

Seperti sebelumnya, upaya menghancurkan kekuatan Marinir pada malam hari juga dilakukan Jepang di Guam. Serangan pertama dilakukan pukul 24.00 waktu setempat terhadap lambung kanan dari 4th Marines.

Serangan terlebih dahulu dibuka dengan tembakan mortir yang terkonsentrasi disusul gelombang serangan pasukan Jepang. Uniknya, setiap personel penyerbu dibekali dengan sejumlah bahan peledak macam granat dan ranjau berukuran kecil. Dengan semangat banzai, mereka tak ragu untuk meledakkan diri bersama target yang dipilihnya.

Beberapa penyerang berhasil dibungkam sebelum sampai sasaran. Namun ada juga sekelompok kecil pasukan Jepang yang berhasil menyusup sampai lokasi Baterai A meriam Howitzer 4th Marines.

Ancaman serius justru ada pada Kompi B, 1st Battalion, 4th Marines. Sekitar pukul 02.30 (22 Juli) waktu setempat, empat tank, sebuah meriam yang ditempatkan pada truk plus dukungan pasukan infanteri Jepang mencoba menembus parameter Kompi B melalui Harmon Road.

Bila kelompok lapis baja Jepang ini berhasil mencapai perkampungan di Agat, maka bisa dipastikan pusat kekuatan Marinir di pantai terancam. Beruntung gerakan ini dipergoki Private First Class Bruno Oribiletti. Berbekal senjata antitank Bazooka, personel 4th Marines ini berusaha menghentikannya.

Dua tank pertama berhasil dilumpuhkan, sebelum akhirnya Oribiletti tewas tertembak peluru Jepang. Sisa dua tank Jepang yang sempat lolos pada akhirnya berhasil dihancurkan oleh Peleton A tank Sherman pimpinan Letnan James R. Williams. Sebagai tambahan info, senjata antitank Bazooka pertama kali dipakai di Front Pasifik ketika AS melancarkan serbuan ke Guam.

Bergeser ke situasi yang dihadapi 3rd Marine Division, sampai hari kedua setelah pendaratan, kontak senjata masih terfokus di Bundschu Ridge, salah satu titik pertahanan vital bagi Jepang.

Selain pasukan Jepang yang bertempur secara fanatik, Marinir juga dihadapkan pada kondisi alam yang berbukit-bukit dan sulit ditembus. Guna mencegah kemungkinan musuh melakukan gerakan melambung melewati daerah perbukitan untuk menusuk pusat kekuatan divisi, maka Marinir sengaja memasang 21st Marines dalam posisi statis.

Posisi ini tetap dipertahankan hampir selama seharian penuh. Kemajuan bagi divisi justru bisa dituai oleh gerak maju 9th Marines yang tanpa kesulitan mampu melindas kekuatan Jepang.

Bahkan lebih jauh lagi pada hari itu juga, salah satu batalion (2nd Battalion) dari 9th Marines mampu menguasai Piti Navy Yard. Tempat ini merupakan salah satu target utama divisi dan selanjutnya digunakan sebagai salah satu titik kunci jalur pasokan logistik ke Guam.

Keesokan harinya (23 Juli 1944), Marinir bersikukuh untuk terlebih dahulu menduduki Bunschu Ridge sebelum melaju menuju target berikutnya, Fonte Plateau. Untuk menguasai Bunschu Ridge, Marinir terpaksa mengerahkan sedikitnya dua batalion dari 3rd Marines plus dukungan bantuan tembakan berskala besar dari artileri medan, artileri kapal, dan juga pesawat udara.

Ironisnya tak ada darah yang mengucur dari lokasi ini lantaran Jepang telah meninggalkan posisi pertahanan tersebut.

Pada sisi selatan titik pendaratan Marinir, dalam waktu singkat kekuatan yang semula berada dalam tingkatan brigade, dalam waktu singkat terdongkrak menjadi divisi. Hal ini berkat adanya kekuatan dari satuan AD AS. Kampanye militer yang digelar di wilayah ini dikonsentrasikan untuk merebut posisi-posisi pasukan Jepang di Semenanjung Orote. Lereng-lereng yang dipenuhi pepohonan merupakan hambatan utama yang mesti diatasi Marinir.

Kondisi seperti itu bisa ditemui sampai wilayah Mount Alifan, dimana secara intensif pasukan Jepang menghujani posisi Marinir dengan beragam senjata. Posisi musuh yang lebih tinggi membuat Marinir mesti bergerak dengan sangat hati-hati.

Pertempuran besar merebut Semenanjung Orote terjadi pada 24 Juli 1944. Satuan dari 1st Provisional Marine Brigade bergerak dengan dukungan bombardermen skala besar dari unsur-unsur artileri medan, artileri kapal dan pesawat udara.

Ketika prajurit dari 1st Battalion, 22nd Marines mulai maju untuk mulai mengunci pangkal Semenanjung Orote, Jepang langsung menjawab gerakan ini dengan tembakan gencar artileri berat, mortir dan senapan mesin. Kompi lapis baja berlakon sebagai elemen pelindung terdepan gerak maju Marinir.

Dalam pertempuran armada tank medium M4 Sherman yang dimilki kompi ini mampu merontokkan lima tank Jepang. Tak hanya itu, proyektil meriam kaliber 75 mm milik Sherman juga dimanfaatkan untuk dinding-dinding pertahanan bahkan juga pillbox beton Jepang guna membersihkan jalur bagi 1st Battalion, 22nd Marines.

Selain tank, bantuan tembakan berat juga datang dari kanon kaliber 20 mm dan 40 mm dari kapal LCI (G) serta meriam kaliber 5 inci dari destroyer AL AS yang merapat ke pantai.

Ketika 1st Battalion, 22nd Marines melaju beradu muka dengan lawan, dalam waktu yang hampir bersamaan unsur lain yaitu 3rd Battalion, 22nd Marines melakukan gerakan melambung. Langkah ini membawa hikmah tersendiri. Banyak titik perkuatan Jepang yang dilindas 3rd Battalion, 22nd Marines.

Hal serupa juga dilakukan oleh 2nd Battalion, 22nd Marines namun pada sisi yang berlawanan dari 3rd Battalion, 22nd Marines. Dengan demikian kekuatan Jepang di Semenanjung Orote berhasil dihabisi dari tiga titik serangan.

Menerima hantaman dari segala sisi tak lantas membuat Jepang mundur begitu saja. Jelang tengah malam, tepatnya tanggal 25 Juli, Jepang menggelar serangan balik berskala masif. Langkah ini diambil dengan memanfaatkan celah osong yang terjadi antara posisi 3rd Battalion, 21st Marines dan 1st Battalion, 9th Marines. Selain itu serangan juga turut menghantam konsentrasi kekuatan 3rd Marines Division lainnya.

Buat mengatasi serangan, Marinir memanfaatkan keunggulan bantuan tembakan (fire support) dari artileri medan maupun meriam kapal perang. Walau demikian pada beberapa serangan sempat membuat pertahanan Marinir goyah.

Hal itu terutama terjadi ketika jumlah penyerang lebih banyak ketimbang jumlah Marinir yang bertahan. Serangan ini begitu masif, sampai-sampai membuat 9th Marines mesti menarik pasukannya untuk mendukung 3rd Battalion, 21st Marines yang posisinya benar-benar terdesak.

Dalam serangan besar ini Marinir mesti rela kehilangan salah satu perwira lapangannya yaitu komandan 2nd Battalion, 3rd Marines.

Sayang serangan besar ini tak bisa menuai hasil optimal. Pasalnya banyak serbuan yang dilakukan Jepang tanpa koordinasi yang matang dan tak mampu mengkonsentrasikan kekuatan serangan pada titik-titik terlemah pertahanan Marinir. Akibatnya Jepang banyak kehilangan kesempatan dan segala inisiatif yang dilakukan menjadi basi.

Kelemahan ini tergambar pada kegagalan Jepang dalam pengerahan armada tank miliknya. Dalam serbuan semua tank Jepang hancur berantakan. Ironisnya tak ada satupun tank yang mampu mencapai garis terdepan pertempuran.

Bisa dibilang seluruh tenaga yang dimiliki Jepang telah terkuras habis dalam serangan masif 25-26 Juli 1944. Demikian pula dengan Marinir yang sudah mulai kehabisan napas hingga membuatnya mesti berbagi lahan operasi dengan infanteri AD AS yang tadinya cuma dipatok sebagai kekuatan cadangan.

Biarpun sudah kehilangan taringnya, kampanye militer AS di Guam tetap tak bisa berlangsung dengan singkat. Wilayah utara Guam misalnya, baru jatuh pada tanggal 11 Agustus 1944. Sementara Semenanjung Orote yang dianggap sebagai target paling vital baru bisa dikuasai oleh 4th dan 22d Marines pada 29 Juli 1944.

Selama operasi militer dilaksanakan di Guam, tercatat Marinir AS kehilangan lebih kurang 1.600 prajuritnya. Jumlah itu masih ditambah lagi dengan 177 prajurit AD AS, lebih dari 5.300 personel Marinir dan lebih 660 personel militer AS dari kesatuan lain yang terluka.

Dalam operasi, empat anggota Marinir dianugerahi penghargaan Medal of Honor. Di sisi lain pihak Jepang kehilangan sedikitnya 11.000 prajurit. Termasuk di dalamnya dua perwira tinggi yaitu Letnan Jenderal Takeshi Takashina yang tewas pada 28 Juli 1944 dan penggantinya Letnan Jenderal Hideyoshi Obata.

Obata sendiri akhirnya mengakhiri hidup dengan melakukan Seppuku pada 11 Agustus 1944 setelah memerintahkan anak buahnya bertempur sampai mati.
(lia).

Sumber: voaindonesia.com dan sumber lain.