Angkasa Pura 2

Air Muara Mendangkal, Puluhan Kapal Gagal Melaut Dari Pelabuhan Kambang Pesisir Selatan

Dermaga Kelautan & PerikananJumat, 11 Agustus 2017
images (14)

PESISIR SELATAN (BeritaTrans.com) – Puluhan kapal Besar penangkap ikan milik masyarakat nelayan di Pelabuhan Pelelangan Ikan (PPI) Kambang, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, urung melaut.

Hal ini terjadi akibat akibat air pintu muara mengalami pendangkalan sejak enam bulan terakhir.

Hal ini diungkap Jamal (42), seorang nelayan pemilik kapal penangkap ikan yang kandas di PPI Kambang itu saat dihubungi Haluan, di Painan, Kamis (10/8/2017).

Menurutnya, ia bersama para nelayan lainnya saat ini memang tidak melaut, dikarenakan air muara mengalami pendangkalan. Namun, ia tetap bersyukur karena di Kecamatan itu, telah dibangun PPI oleh pemerintah daerah setempat.

“Ya, keberadaan PPI Kambang dengan berbagai fasilitas yang dimiliki, memang sangat kami syukuri saat ini. Sebab, telah mampu meningkatkan ekonomi masyarakat nelayan setempat. Namun, kalau air muara mengalami pendangkalan, tentu kami juga tidak bisa melaut,” ungkapnya.

Menurutnya, akibat pendangkalan yang terjadi di pintu muara tersebut, membuat kapal nelayan tidak bisa bersandar ditepi dermaga. Hal itu dikarenakan, sebelum kapal sampai ke lokasi PPI, kapal nelayan banyak yang kandas, akibat berbobot besar, parahnya lagi ketika musim pasang surut.

“Kalaupun ada yang masuk ke dermaga PPI, mereka harus berlabuh pada saat air pasang naik. Kalau tidak, terpaksa harus menunggu hingga beberapa hari, kemudian baru bisa kembali turun dan melaut,” jelasnya.

Menurutnya, ia bersama para nelayan lainnya saat ini memang tidak melaut, dikarenakan air muara mengalami pendangkalan. Namun, ia tetap bersyukur karena di Kecamatan itu, telah dibangun PPI oleh pemerintah daerah setempat.

“Ya, keberadaan PPI Kambang dengan berbagai fasilitas yang dimiliki, memang sangat kami syukuri saat ini. Sebab, telah mampu meningkatkan ekonomi masyarakat nelayan setempat. Namun, kalau air muara mengalami pendangkalan, tentu kami juga tidak bisa melaut,” ungkapnya.

Menurutnya, akibat pendangkalan yang terjadi di pintu muara tersebut, membuat kapal nelayan tidak bisa bersandar ditepi dermaga. Hal itu dikarenakan, sebelum kapal sampai ke lokasi PPI, kapal nelayan banyak yang kandas, akibat berbobot besar, parahnya lagi ketika musim pasang surut.

“Kalaupun ada yang masuk ke dermaga PPI, mereka harus berlabuh pada saat air pasang naik. Kalau tidak, terpaksa harus menunggu hingga beberapa hari, kemudian baru bisa kembali turun dan melaut,” jelasnya.

Akibatnya, sebagian besar kapal nelayan di kecamatan itu terpaksa berlabuh di dermaga lainnya yang ada di Pessel. Kondisi itu tentunya berdampak kepada daya beli masyarakat nelayan yang selama ini melakukan transaksi di PPI Kambang.

Sementara itu, Walinagari Kambang Barat, Awaludin kepada Haluan mengatakan, bahwa pendangkalan yang terjadi di pintu Muara Kambang itu, akibat pasir laut yang terdorong ombak ke pintu muara sejak satu tahun terakhir. Kondisi itu, kata dia, memang sudah lama dikeluhkan, sebab berdampak terhadap pendangkalan dan ekonomi masyarakat setempat.

“Benar. Sebab, sebagian kapal-kapal berukuran besar yang akan bersandar ke dermaga PPI Muara Kambang sering kandas. Terutama sekali disaat musim pasang surut terjadi. Hal itu mereka rasakan sejak beberapa bulan terakhir. Akibatnya banyak kapal nelayan yang pecah dan karam. Karena selain dangkal, di dasar muara juga terdapat batu-batu besar yang siap membentur lambung kapal,” terangnya.

Menurutnya, waspada dan hati-hati saja, tidaklah cukup bagi para kapten kapal yang akan melintasi pintu Muara Kambang tersebut. Sebab, batu-batu besar yang terdapat di dasar pintu muara itu, tidak bisa dideteksi keberadaanya.

“Karena kondisi itu, sehingga saya sebagai Walinagari sangat berharap kepada pihak terkait, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA), untuk segera melakukan penanganan. Harapan itu juga disampaikan, karena kapal yang bersandar di PPI Kambang saat ini, bukan saja kapal milik masyarakat lokal, namun sebagian ada juga kapal dari daerah tetangga,” jelasnya.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas PSDA Pessel, Doni Gusrizal, mengatakan saat ini persoalan pantai sudah sepenuhnya menjadi tanggung jawab Balai Wilayah Sungai Sumatera V di Padang, dan pihaknya hanya melakukan koordinasi berbagai persoalan dan pengaduan yang disampaikan oleh masyarakat.

“Benar, pendangkalan yang terjadi di pintu muara PPI Kambang itu, sudah dilaporkan masyarakat kepada saya. Namun, itu adalah wewenang pihak Balai Wilayah Sungai Sumatera V di Padang. Kita akan kordinasikan kepada mereka agar melakukan survey ke lokasi,” ungkapnya.

Menurutnya, berdasarkan survey dilapangan, memang sangat perlu dilakukan penanganan secara konstruksi teknis. Hal itu bertujuan untuk menghindari agar pasir dari laut tidak lagi masuk dari pintu muara. Sehingga berdasarkan kajian teknis, setidaknya dibutuhkan anggaran sebesar Rp5 miliar untuk penanganan tersebut.

“Untuk penanganan ini, setidaknya membutuhkan biaya sebesar Rp5 miliar. Oleh pihak balai berdasarkan koordinasi yang kita lakukan, kalau tidak melalui perubahan, bisa diupayakan melalui APBN tahun 2018,” tutupnya. (ani).

Sumber harianhaluan.com