Angkasa Pura 2

Bisnis Pelayaran Lesu, Permintaan Sertifikasi Kapal Terjun Bebas

DermagaSabtu, 12 Agustus 2017
20140227_140655

BALIKPAPAN (BeritaTrans.com) – Bisnis pelayaran saat ini terus mengalami kelesuan, setidaknya terjadi di Kalimantan Timur. Akibatnya, permintaan sertifikasi kapal alami terjun bebas.

Catatan PT Biro Klasifikasi Indonesia (Persero), memperlihatkan permintaan sertifikasi klasifikasi kapal di Bumi Etam terjun bebas sejak tahun 2014.

Kepala Cabang Utama BKI Kaltim Mohamad Cholil mengatakan, tahun 2014, permintaan sertifikasi klasifikasi kapal baru dan naik kelas di Kaltim mencapai 354 sertifikasi.

Namun, seiring main sector Kaltim, batu bara dan migas anjlok, memasuki tahun 2015 hingga 2017 semester ini sertifikasi yang dikeluarkan perseroan ini mengikuti kondisi tersebut.

“Tahun 2015, kami merealisasikan 245 sertifikasi. Tahun 2016 kembali tergerus menjadi 205 sertifikasi. Sampai semester 1 ini bahkan hanya 65 sertifikasi. Itu pun semuanya hanya sisa-sisa saja, yakni kapal yang sudah dibuat sudah lama namun baru selesainya baru-baru ini,” ucapnya kemarin (10/8) saat menyambut anggota Komisi VI DPR RI Bambang Haryo Soekartono di kantornya di Sepinggan, Balikpapan.

Dijelaskannya, realisasi sertifikasi ini bergantung kepada si pemilik kapal. Kapan mereka selesai membuat kapal.

“Banyak proses dalam pembuatan kapal. Biasa lamanya mereka melakukan sertifikasi karena pengerjaannya lama dengan alasan pekerja dan kondisi keuangannya,” tambahnya.

Cholil juga menyebutkan, kondisi sekarang ini jauh berbeda dengan dahulu. Dulu, orang membuat kapal untuk dijual. Sekarang membuat kapal untuk kebutuhan.

“Jangankan membuat, kapal yang menganggur saja banyak. Dari sertifikasi reparasi kapal tahun 2014 permintaan mencapai 3.452. Tetapi, sekarang hanya berjumlah 1.954. Jika banyak kapal yang digunakan, tentu permintaan pengecekan sertifikasi reparasi kapal tinggi. Pengecekan ini dilakukan berkala jika kapal tersebut aktif digunakan. Kapal penumpang tiap satu tahun sekali. Dan tiga tahun sekali untuk kapal logistik,” jelasnya.

Umumnya, lanjut dia, yang disertifikasi BKI Kaltim kapal jenis kapal self propelled oil barge (SPOB), landing craft tank (LCT), anchor handling tug supply (AHTS), dan kapal-kapal kecil.

Bisnis perkapalan, sejak batu bara dan migas lesu mengalami masa sulit. Dua sektor ini paling mendominasi. Perseroan ini sebenarnya telah memberikan keringanan ke beberapa pihak terkait piutang.

“Upaya ini agar mereka tidak terbebani dalam menuntaskan kewajiban dengan baik,” bebernya.

Akibat kondisi tersebut, kinerja perusahaan milik negara ini turun sekitar 30 persen. Sementara itu, anggota Komisi VI DPR RI Bambang Haryo Soekartono mendorong, agar BUMN dapat menjadi salah satu motor penggerak ekonomi daerah. Stimulusnya harus bisa dirasakan masyarakat.

“Paling tidak, BKI bisa masuk anggota sertifikasi kapal internasional. Jadi beban, pemilik kapan yang berlayar hingga ke luar negeri tidak terbebani cukup berat,” tutupnya.