Angkasa Pura 2

Terbang Dari Pondok Cabe, Pesawat Aviat Husky Diduga Tekor BBM, Akhirnya Mendarat Di Persawahan Di Ponorogo

KokpitMinggu, 13 Agustus 2017
59902a3346cfe-kehabisan-bbm-pesawat-koni-mendarat-darurat-di-sawah_663_382

PONOROGO (BeritaTrans.com) – Pesawat milik Komite Olahraga Nasional Indonesia DKI Jakarta dilaporkan mendarat darurat di kawasan persawahan Desa Carangrejo, Kecamatan Sampung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, pada Minggu siang, 13 Agustus 2017.

pesawat-yang-mendarat-di-areal-persawahan-jadi-tontonan-warga-OoD

Pesawat jenis Aviat Husky itu diduga kehabisan bahan bakar.

Informasi awal dari Kepolisian menyebutkan, pesawat nahas itu membawa dua penumpang, yakni pilot pensiunan TNI Angkatan Udara bernama bernama Sukandar (73 tahun), warga Bekasi, dan kopilot Joko Hardono (69), pensiunan Duta Besar RI.

Pesawat itu lepas landas dari lapangan terbang Pondok Cabe, Jakarta Selatan, pada Minggu pagi, sekira pukul 07.00 WIB menuju Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Sesampai di langit Pacitan, pesawat batal mendarat karena cuaca buruk dan awan tebal menyelimuti langit Pacitan.

Sang pilot lalu memutuskan mengubah tujuan menuju Solo, Jawa Tengah, untuk mengisi bahan bakar Avgas. Sekitar pukul 12.30 WIB, pesawat mengudara di langit Kabupaten Ponorogo. Nah, saat itulah lampu indikator bahan bakar menyala, menandakan bahan bakar menipis.

Dirasa bahan bakar tidak akan cukup dibawa terbang hingga Solo, pilot dan kopilot memutuskan mendarat darurat di kawasan persawahan di Desa Carangrejo, Kecamatan Sampung. Beruntung, pendaratan berjalan sempurna.

“Tidak ada korban jiwa,” kata Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jatim, Komisaris Besar Polisi Frans Barung Mangera.

Hingga Minggu (13/8/2017) malam, pesawat itu memang belum dievakuasi. Ratusan warga desa setempat pun berbondong-bondong mendatangi tempat kejadian perkara (TKP) untuk melihat langsung kondisi pesawat berikut awaknya.

Kapolres Ponorogo, AKBP Suryo Sudarmadi mengaku sudah berkoordinasi dengan jajaran terkait untuk pemulangan pesawat tersebut. Hasilnya, ada dua pilihan. Pertama, menggunakan area persawahan di sekitar lokasi sepanjang 400 meter untuk landasan pacu. Sementara bahan bakarnya akan dikirim dari landasan terbang Kabupaten Pacitan.

“Opsi kedua adalah membongkar beberapa bagian pesawat untuk kemudian diangkut dengan truk trailer yang didatangkan dari Jakarta,” kata Suryo (lia).

Sunber dan foto: viva.co.id dan MNC Media