Angkasa Pura 2

Ratusan Buruh Bongkar Muat Petikemas Di Tanjung Priok Belum Terima Upah

DermagaSenin, 21 Agustus 2017
20170821_133535-600x400

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Sebanyak 600 lebih buruh bongkar muat petikemas yang dialokasikan ke Terminal JICT, TPK Koja, NPCT 1 dan TPS Graha Segara merasa kesal karena sudah seminggu upah kerja mereka belum dibayar oleh Koperasi TKBM Pelabuhan Tanjung Priok.

Demikian sejumlah TKBM dan mandor yang dialokasikan di Terminal Petikemas JICT dan TPK Koja kepada BeritaTrans.com, Senin (21/8/2017).

Sementara Ketua Serikat Pekerja Tenaga Kerja Bongkar Muat Indonesia (SP STKBMI) Ali Sumarto dihubungi terpisah mengatakan sejak April 2017 sistem upah bongkar muat petikemas di tiga terminal petikemas tersebut dan TPS Graha Segara dilaksanakan dengan sistem upah borongan.

Dengan sistem ini Terminal Petikemas membayar langsung hasil produktifitas (box) × upah/box + uang kesejahteraan (HIK) ke Koperasi TKBM. Sementara upah buruh dibayar oleh Koperasi TKBM.

Sebelum diberlakukan sistem upah borong, katanya, koperasi dapat uang HIK saat terminal memesan buruh. Sementara upah TKBM dibayar langsung oleh terminal petikemas dan TPS pemakai buruh.

“Mestinya dengan upah borong, Koperasi siap menalangi upah buruh kalau belum dapat bayaran dari Terminal Petikemas,” tutur Ali Sumarto.

Suriadi, seorang mandor JICT mengatakan sejak diberlakukan sistem upah borong inilah pembayaran upah buruh mulai sering tersendat.

“Kami nggak peduli koperasi mau pakai sistem upah borong atau sistem apa namanya tapi pembayaran upah buruh jangan ditunda. Karena upah harian itu untuk makan anak isteri di rumah,” ujar mereka.

Sejumlah mandor dan TKBM di JICT dan Koja kepada BeritaTrans.com, mengatakan mereka benar benar kesal karena belum menerima upah kerja sejak beberapa hari lalu.

20170821_134612-600x400
Suriadi mengatakan dia bersama rekannya susah 9 shift kerja sampai sekarang belum dibayar Koperasi TKBM.

“Kita juga sulit menanyakan kenapa pembayaran upah tertunda kepada pengurus koperasi karena ketuanya H Suparma tidak ada di tempat. Sementara Sekretaris Koperasi Suparmin masih naik haji,” tutur Suriadi.

Hal yang sama juga diungkapkan Nurhani seorang mandor di TPK Koja. Upah kerja dia bersama temannya sejak beberapa hari lalu belum dibayar oleh Koperasi TKBM.

“Kami ini punya keluarga kalau gini anak isteri kami makan apa?” tutur Nurhani dengan nada tinggi. (wilam)