Angkasa Pura 2

ABK KM Baku Sayang 03 Ini Diserang Ikan Saat Terombang-ambing Di Laut

DermagaSelasa, 22 Agustus 2017
Sitaro_22081730

BITUNG (BeritaTrans.com) – Heri Sikome satu di antara 22 ABK KM Baku Sayang yang jadi korban kecelakaan. Heri bersama 11 teman lainnya sudah ditemukan. Sebanyak 12 ABK lainnya masih dalam pencarian.

Heri mengaku, penyelamatannya bersama rekan-rekan ABK lain adalah mukjizat. Nelayan asal Kota Bitung ini terombang-ambing di tenga perairan Kepulauan Sitaro. Saat itu dia bersama 10 rekannya.

Dalam pengakuan Heri, life raft menjadi satu-satunya harapan hidup dari 10 pria yang berprofesi nelayan itu. “Kami terus berbicara untuk saling menjaga satu sama lain. Kami tak berhenti berdoa pada Tuhan, agar diberikan kekuatan dan keselamatan,” kenangnya.

Kaki kanan Heri, nyaris putus. “Waktu itu sakitnya tidak terasa karena kami terus berupaya memikirkan keselamatan seluruh rekan. Saya juga sempat bingung, dari mana munculnya luka tersebut. Seingat saya, kemungkinan waktu masih posisi dalam air, ada beberapa ikan atau mungkin cumi yang menempel,” kenangnya, dengan ekspresi ngeri.

Ia mengaku, kekuatan ekstra dia dapatkan dari keluarganya di rumah. Seolah memberikan alasan untuk bisa bertahan.

“Saya terus berdoa dan mengenang, keluarga saya kumpul bersama. Sehingga memotivasi saya tetap hidup dan kembali pada mereka dengan selamat,” ucapnya.

Heri berharap, 12 rekannya yang masih hilang segera ditemukan, dalam keadaan sehat. Serta dapat kembali berkumpul bersama keluarga.

“Meski sudah mengalami hal seperti ini, saya akan kembali melaut. Sebab hanya itu cara saya mencari nafkah. Ini merupakan teguran, namun tidak membuat saya takut untuk melaut lagi. Sebab hidup dan mati itu diatur Tuhan,” tutupnya.

Sementara itu, Ancu Marimalang salah satu ABK yang selamat mengungkapkan, penyebab tenggelamnya kapal karena salah satu papan bagian belakang kapal terlepas saat dihantam ombak.

“Kami berusaha melimas dan melakukan perbaikan. Namun sulit. Sehingga air masuk ke dalam kamar mesin, membuat mesin kapal mati. Kami terombang-ambing hingga kapal akhirnya tenggelam,” ujarnya lemas.

“Saat kapal tenggelam, hujan serta angin kencang membuat kami terpisah-pisah. Sulit untuk tetap bersama. Saya berharap seluruh tim pencari dapat menemukan teman-teman saya,” pungkasnya, meneteskan airmata.

Diketahui, cuaca buruk yang melanda perairan di sekitar wilayah Kabupaten Kepulauan Sitaro beberapa pekan terakhir, membuat perahu penampung ikan asal Bitung, yakni KM Baku Sayang tenggelam, Sabtu (19/8), pekan lalu.

Danpos AL Siau M Burhanudin mengungkapkan berdasarkan informasi dari Badan SAR, kapal tersebut bertolak dari Bitung menuju Siau. Diduga tenggelam pada koordinat 02.8,08 Lintang Utara, 125.8,84 Bujur Timur dengan jumlah penumpang atau awak kapal 22 orang.

“12 sudah ditemukan. Saat ini sedang menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Sawang Siau. Kita sudah berkoordinasi dengan badan SAR, upaya pencarian, masih terus dilakukan. Personil juga sudah diturunkan penuh dan saat ini telah meminta bantuan, baik dari Lanal Tahuna, maupun Bitung,” singkatnya.

Plt Kepala Kesyabandaran Sitaro Laurens Luminda mengungkapkan, cuaca buruk seperti ini hal biasa memasuki pertengahan tahun.

“Ketinggian ombak mencapai 1,5-2 meter. Namun kami sudah memberikan peringatan, serta melarang aktivitas di laut jika ombak berada di atas 3 meter,” tandasnya. (lay).

Sumber dan foto: manadopostonline.com