Angkasa Pura 2

Gelapkan Uang Sewa Kapal TB Kelong 1 dan TK Numbing 3, Pria Divonis 2,5 Tahun Penjara

DermagaKamis, 31 Agustus 2017
TB Kelong 1

TANJUNGPINANG (BeritaTrans.com) – Randi E Putro (36), terdakwa penggelapan uang sewa kapal senilai Rp 1.103.352.421, dihukum selama dua tahun dan enam bulan penjara pada sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Rabu (30/8/2017).

“Atas perbuatannya, terdakwa dijatuhi hukuman selama dua tahun dan enam bulan penjara,” papar majelis hakim yang dipimpin Marolop Simamora ini membacakan amar putusannya.

Hakim menilai terdakwa terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana yang diatur dalam pasal 378 jo pasal 64 KUHP tentang penggelapan.

Vonis tersebut lebih ringan dari tuntutan jaksa yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan hukuman selama tiga tahun penjara.
Atas putusan ini, terdakwa menerima, sementara jaksa mengutarakan masih pikir-pikir.

Kasus ini sendiri dilakukan terdakwa dengan meminjam nama perusahaan PT. Gilang Galang Kencana milik Junaidi yang berkedudukan di Kota Batam.

Lalu kali pertama, bulan Januari tahun 2016 terdakwa melalui telepon menghubungi Ferdy Yohanes, Komisaris PT Bintang Kartika (perusahaan ini bergerak di Bidang Pelayaran dan Jasa Angkutan Laut).

Terdakwa yang mengaku sebagai Direktur PT Gilang Galang Kencana dengan maksud dan tujuan untuk menyewa kapal.

“Ini kita ada angkutan memuat pupuk dari Belawan ke Sambas, berapa budget kalau mau sewa kapal?,“ kata terdakwa saat itu.

Setelah itu, kemudian terjadilah negoisasi antara Ferdy dengan terdakwa dan sepakat dengan harga sewa angkut kapal sebesar Rp810 juta. Surat kesepakatan sewa menyewa pun dibuatkan.

Setelah perjanjian ditandatangani oleh kedua belah pihak baru lah Kapal TB Kelong 1 dan TK Numbing 3 berikut dengan kru kapal disiapkan Fredy.

Pengangkutan barang kemudian selesai dilakukan. Fredy kemudian menagih uang sewa. Akan tetapi, terdakwa hanya membayar Rp202.500.000 saja, sedangkan sisanya akan dibayar kemudian.

Walaupun biaya sewa kapal pertama belum lunas, kemudian terdakwa kembali menyewa kapal kepada Fredy mengangkut besi scrub dari Batam menuju Jakarta.

Perjanjian sewa menyewa pun disepakati dengan biaya Rp320 juta. Untuk kedua kali ini, biaya sewa hanya dibayarkan setengah saja yakni Rp 160 juta. Terdakwa belum melunasi sisa pembayaran karena ia beralasan, jika uang sewa belum dibayar penuh oleh pihak pemilik barang.

Selanjutnya untuk yang ketiga kalinya, terdakwa kembali menyewa kapal untuk mengangkut mesin Genset PLN dari Jakarta menuju Balikpapan kepada Ferdy.

Karena percaya sama terdakwa akan melunasi uang sewa kapal pertama dan kedua, lalu Ferdy kembali menyepakatinya dengan biaya sewa kapal senilai Rp. 325.000.000.

Terdakwa hanya membayar Rp 75 juta untuk sewa kapal yang ketiga ini, ia kembali beralasan jika uang sewa belum dibayar penuh oleh pemilik barang.

Seiring berjalan waktu, Ferdy kemudian terus menangih sisa uang sewa kepada terdakwa, akan tetapi terdakwa tidak sanggup melunasinya hingga akhirnya terdakwa dilaporkan ke pihak kepolisian.

Terdakwa mengaku jika sebagian uang sewa yang telah diterimanya dari pemilik barang sudah digunakannya untuk keperluan lain. Akibat ulah terdakwa ini, Ferdy (korban) menderita kerugian senilai Rp 1.103.352.421. (lia).

Sumber: sidaknews.com

loading...
Terbaru
Terpopuler
Terkomentari