Angkasa Pura 2

Ini Dia Gerbang Tol Bebas Transaksi Tunai

KoridorSenin, 4 September 2017
2017-09-04 13.34.47

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Mulai Oktober 2017, transaksi non tunai bakal diberlakukan secara nasional. Dwimawan Heru, AVP Corporate Communication PT Jasa Marga, menuturkan ada beberapa gerbang di ruas jalan tol Jasa Marga yang sudah 100 persen memberlakukan transaksi non tunai.

Di antaranya adalah Gerbang Tol Cengkareng 3, Gerbang Tol Kunciran 1 (Arah Merak), Gerbang Tol Kunciran 2 (Arah Jakarta), Gerbang Tol Karawaci 2 (Arah Jakarta), dan Gerbang Tol Bekasi Barat 3.

“Penggunaan uang elektronik gerbang tol akan mempersingkat waktu transaksi. Jika dibandingkan dengan transaksi manual, penggunaan uang eletronik ini akan memangkas waktu separuh dari transaksi manual. Selain itu pengguna jalan juga lebih mudah dan praktis,” bilang Heru, melalui keterangan tertulisnya.

CIKARANG UTAMA
Sementara itu, Kementerian Perhubungan mengungkapkan hasil kajian sementara pihaknya terhadap wacana penonaktifan Gerbang Tol Cikarang Utama, Kabupaten Bekasi, berdampak pada penumpukan kendaraan di gerbang Cikopo-Palimanan (Cipali) akibat penyempitan jalan.

“Kalau semua transaksi di gardu Cikarang Utama kita tiadakan, berportensi terjadi penumpukan di pengendara di Cipali,” kata Sekretaris Jendral Kementerian Perhubungan Bambang Sugihardjo di Cikarang, Sabtu.

Menurut dia, kajian tersebut dilakukan sebagai opsi bagi penanggulangan kemacetan di lintasan tol Jakarta-Cikampek yang selama ini kerap menumpuk di GT Cikarang Utama.

Jumlah gardu transaksi tol di Cikarang Utama saat ini berjumlah 20 gardu untuk dua jalurnya, sehingga aktivitas perekaman perjalanan melalui pengambilan kartu atau perekaman e-tol di lokasi itu kerap menimbulkan kepadatan kendaraan pada saat liburan maupun jam sibuk pengendara.

“Pengamatan kami pada libur Idul Adha, kepadatan nampak terjadi pada dini hari mulai pukul 22.00-02.00 WIB dengan antrean kendaraan mencapai 200 unit per lajurnya,” katanya.

Opsi penonaktifan GT Cikarang Utama, kata dia, hanya dirasa efektif mengurai kepadatan kendaraan yang melaju dari arah Jakarta, namun selepas Cikarang Utama, justru terjadi kemacetan di sejumlah GT keluar menuju jalur arteri dalam kota akibat penyempitan badan jalan.

“Saat masuk Cipali, di sana hanya ada dua lajur gerbang tol. Kalau di Cikarang Utama dibuka (tanpa transaksi perekaman perjalanan), petugas di Tol Cipali bisa kewalahan,” katanya.

Direktur Utama PT Jasa Marga Desi Aryani menambahkan, wacana penonaktifan GT Cikarang Utama hingga kini masih dalam kajian pihaknya terhadap dampak positif dan negatif yang terjadi.

“Sebab wacana itu berkaitan erat dengan jalur arteri yang menyempit. GT Cikarang Utama saat ini menampung tiga hingga tujuh rute perjalanan mulai dari Jakarta, Bekasi, Cipali, Cipularang, semua menumpuk di Cikarang Utama,” katanya.

Penonaktifan GT Cikarang Utama, kata Desi, diyakini dirinya mampu memperlancar koridor Jakarta-Cikampek, namun hal itu perlu kajian lebih matang lagi melalui sinergi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkait dan operator jalan tol.

“Dibutuhkan sinergi yang lebih matang lagi antar-BUMN terkait dengan operator. Kita masih melakukan kajian teknisnya,” katanya. (lia).