Angkasa Pura 2

Perlu Mencari Formulasi Yang Tepat Atasi Kemacetan di Jakarta

Koridor SDMSenin, 11 September 2017
Ahmad Wildan KNKT

Kemacetan Parah di Gatot Subroto

JAKARTA (Beritatrans.com) – Sudah saatnya kita bekerja keras untuk masa depan anak cucu kita yang lebih baik. Jangan saling serang apalagi hanya beretorika atau menyelamatkan sumber penghasilan kita.

Perlu segera mencari formulasi yang tepat untuk mengatasi kemacetan yang parah di Kota Jakarta dan beberapa kota besar di Tanah Air yang kian parah ini.

Batasi penggunaan kendaraan pribadi, bukan dengan cara membatasi jumlah penumpangnya (3 in 1). Hasilnya tidak maksimal, nahkan hanya menjadi alasan pihak tertentu untuk mengelak bahkan memperkaya diri sendiri.

“Tapi membatasi kendaraannya (batas usia kendaraan) ataupun membayar pada jalan umum (ERP/ electronic road pricing),” kata akademisi STTD dan investigastor KNKT Ahmad Wildah, ST, MT menjawab Beriatrans.com di Jakarta, Senin (11/9/2017).

Seperti dikutip dari akun facebook Ahmwad Wildan, dia menyebutkan, batasi kendaraan dengan cara yang elegan dan hentikan perilaku bodoh dalam penyelenggaraan sistem transport.

Pertama, kata Wildan, seleksi pengemudi yang layak di jalan (melalui mekanisme lisensi mengemudi), buang jauh-jauh sistem penerbitan SIM saat ini.

Kedua, seleksi kendaraan yang layak di jalan (melalui mekanisme uji kendaraan), bangun sistem operasional dan pengawasan Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) yang efektif,

Ketiga, buat kebijakan parkir yang proporsional. Jalan umum adalah ruang lalu lintas, bukan ruang parkir.

Parkir badan jalan dibolehkan tapi dengan biaya yang sangat mahal.

Keempat, buat sistem pengawasan dan penegakkan hukum yang efektif dan efisien (gunakan law camera enforcement) dan denda yang tinggi.

Selanjutnya, buang jauh-jauh istilah penyidik, PPNS, tilang dalam pelanggaran lalin. Sudah cukup bermain-mainnya, kasihan anak cucu kita kelak.

Kelima, buat sistem angkutan umum yang berkualitas sebagai substitusi dan bukan komplementer jika ingin transportasi jalan kita bagus.(helmi)