Angkasa Pura 2

KNKT Keluarkan 6 Rekomendasi Kasus Tabrakan Beruntun di Bawen dan Karangploso

KoridorSelasa, 19 September 2017
IMG-20170919-WA0013

JAKARTA (beritatrans.com) – Komite Nasional Kecelakaan Transportasi (KNKT) mengeluarkan 6 rekomendasi dalam tabrakan beruntun di Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang dan Kecamatan Karangploso di Kabupaten Malang.

Rekomandasi segera ini ditujukan kepada Menteri Perhubungan dengan surat nomor KTJ/2/17 KNKT 2017 tanggal 5 September 2017.

Ketua KNKT Dr. Ir. Surjanto Tjahjono menyatakan bahwa KNKT memandang perlu untuk memberikan rekomendasi yang bersifat segera sebagai upaya untuk meningkatkan keselamatan transportasi angkutan jalan serta upaya pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

“Rekomendasi disusun berdasarkan temuan awal hasil investigasi kecelakaan transportasi” kata Soerjanto di Jakarta, Selasa (19/9/2017).

Kecelakaan tabrakan beruntun di Kecamatan Bawen Kabupaten Semarang Jawa Tengah terjadi pada hari selasa 29 Agustus 2017 ketika mobil barang truk semi trailer H-1636-BP berjalan dari arah Bawen menuju Ungaran dengan membawa kontainer 40 ft berisi sepatu.

Sekitar pukul 13.40 WIB, Truk Semi Trailer yang semula berada di jalur cepat kemudian bergerak ke median jalan sehingga membentur pambatas jalan dan oleng ke kiri serta menabrak mobil Truk Kayu H-1578-RG dan Mobil Truk Box H-1847-HD serta terhenti setelah menabrak 3 warung dan 7 sepeda motor. Kecelakaan ini terjadi di Jalan Soekarno hatta KM 32 dengan kondisi jalan yang menurun cukup ekstrim.

Sedangkan tabrakan beruntun di Kecamatan Karangploso Kabupaten Malang Jawa Tengah terjadi pada tanggal 26 Agustus 2017 ketika truk crane yang bermuatan blok mesin berangkat dari bengkel yang berlokasi di JL. Panglima Sudirman Malang ke arah garasi Wijaya Tranport yang berlokasi di JL. Raya Mendit Bar No. 7 Sumber Pasir Pakis Malang Jawa Timur.

Kecelakaan terjadi pada pukul 16.45 WIB, ketika Truk crane menuruni jalan Ketranegara yang menyempit dari 11 meter ke 9 meter dengan kemiringan 5,8%. Pada saat itu, dari arah kiri masuk sepeda motor dan kemudian menabrak 1 unit angkutan umum, 2 sepeda motor dan 1 pejalan kaki serta berhenti ketika menabrak ruko di bahu jalan sebelah kiri.

KNKT sangat prihatin mengingat masih banyaknya kecelakaan yang diakibatkan kegagalan fungsi rem.

“Kegagalan fungsi rem terus berulang serta masih terdapatnya hazard atau kondisi yang membahayakan operasional mobil barang, maka KNKT perlu mengeluarkan rekomendasi segera kepada regulator dan operator angkutan barang untuk dilakukan perbaikan,” tegas Soerjanto.

Selain itu Ketua KNKT meminta kepada Menteri Perhubungan untuk dengan segera membuat kebijakan terkait penggantian fleksibel rem dan pemakaian sistem pengereman yang independen.

“Upaya ini diharapkan dapat meminimalkan tabrakan beruntun yang diakibatkan kegagalan sistem pengereman pada kendaraan,” ujarnya.

Adapun 6 rekomendasi KNKT tersebut adalah:

1. Agar meningkatkan pengawasan terhadap pelaksanaan maintenance kendaraan dimana operator angkutan mobil barang harus melakukan pemeriksaan dan perawatan sistem rem kendaraan secara periodik sesuai dengan prosedur dari pabrikan. Hal ini diperlukan untuk mencegah terjadinya kegagalan fungsi rem ketika kendaraan sedang beroperasi di jalan, khususnya pada kondisi jalan menurun dan tanjakan. Keadaan ini sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan baik kecelakaan tunggal maupun kecelakaan yang melibatkan kendaraan lain atau pengguna jalan lainnya;

2. Perlu dibuat Standar Operasional dan Prosedur (SOP) bagi pelaksana. Pengujian kendaraan bermotor untuk kedepannya agar lebih komprehensif dalam melaksanakan pengujian dan sertifikasi laik jalan kendaraan. Hal ini harus dilakukan agar kendaraan yang tidak laik jalan dan berpotensi menyebabkan terjadinya kecelakaan tidak lagi diijinkan dioperasikan di jalan;

3. Meminta kepada Dinas Perhubungan Propinsi, Kabupaten/Kota untuk meningkatkan pelaksanaan pemeriksaan kendaraan bermotor di jalan, pelabuhan atau tempat-tempat lain agar dapat dilakukan penindakkan terhadap kendaraan-kendaraan yang tidak laik sesuai dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 80 tahun 2012 Tentang Tata Cara Pemeriksaan Kendaraan Bermotor di jalan dan Penindakkan Pelanggaran Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;

4. Membuat regulasi mengenai penetapan umur selang fleksibel rem kendaraan. Sesuai standar praktis, penggunaan selang fleksibel pada sistem rem tidak boleh melebihi 5 tahun atau jika didapati sudah retak/sobek (penuaan/aging) harus segera diganti. Dengan demikian, kegagalan fungsi rem akibat selang yang rusak dapat dicegah;

5. Kendaraan baru baik untuk angkutan penumpang maupun barang agar segera diwajibkan memiliki sistem pengereman yang dapat bekerja secara mandiri (independen) pada masing-masing sumbu roda;

6. Kendaraan lama (sebelum tahun 2017) baik untuk angkutan penumpang maupun barang agar dapat dipasang/dirubah sistem pengeremannya menjadi sistem yang independen pada masing-masing sumbu roda dalam jangka waktu tertentu agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

(aliy)

loading...