Angkasa Pura 2

Kemhub Libatkan Pihak Ketiga Kaji Pengelolaan Jembatan Timbang

KoridorRabu, 20 September 2017
IMG-20170920-WA0010

JAKARTA (beritatrans.com) – Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan melibatkan pihak ketiga untuk mengkaji pola pengelolaan jembatan timbang yang ideal.

“Kementerian Perhubungan melibatkan pihak ketiga untuk melakukan kajian dalam rangka mencari bagaimana wujud pengelolaan Jembatan Timbang yang ideal,” kata Plt. Direktur Pembinaan Keselamatan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Pandu Yunianto melalui keterangan tertulis yang diterima beritatrans.com dan Tabloid Mingguan Berita Trans di Jakarta, Rabu (20/9/2017).

Pandu mengatakan, saat ini ada 141 jembatan timbang di seluruh Indonesia. Dioperasikan 26 jembatan timbang, dan 9 diantaranya dijadikan pilot project.

“Ada 7 lokasi Jembatan Timbang yang dijadikan pilot project oleh pihak ketiga, yaitu Losarang, Wanareja, Widang, Widodaren, Seumadam, Sarolangun, Senawar Jaya. Kemudian 2 pilot project jembatan timbang dilaksanakan oleh Ditjen Perhubungan Darat yaitu Balonggandu dan Macoppa,” jelas Pandu.

Pandu mengaku secara pribadi punya gagasan untuk memberi efek jera yaitu kendaraan yang melakukan pelanggaran muatan lebih tidak boleh melanjutkan perjalanan dan ditahan.

“Selama kendaraannya ditahan di area Jembatan Timbang, dia dikenakan charge (biaya), mungkin perjam atau gimana, ini kan kalau diakumulasi jumlahnya besar juga. Saya pikir akan membuat jera,” ujarnya.

Menurutnya, terdapat 3 fungsi Jembatan Timbang, yaitu fungsi pengawasan, pencatatan dan penindakan. Fungsi pengawasan dan pencatatan akan dilakukan oleh pihak ketiga. Sedangkan fungsi penindakan tetap dilakukan oleh petugas jembatan timbang dalam hal ini PPNS. Dengan pola ini, pengelolaan Jembatan Timbang tetap dikomandani oleh Kepala Jembatan Timbang, sedangkan pengoperasiannya dilakukan bersama sama dengan pihak ketiga.

Diharapkan dengan pilot project ini nantinya dapat dihasilkan rekomendasi untuk menyusun bagimana konsep SOP (Standar Operasi Prosedur) pengelolaan Jembatan Timbang yang ideal.

“Kalau sudah dihasilkan SOP, nanti desain dari jembatan timbang ini akan seperti apa, luas area yang dibutuhkan berapa, jenis fasilitas yang dibutuhkan apa saja. Termasuk juga mengevaluasi lokasi Jembatan Timbang, apakah masih layak, masih sesuai. Kalau tidak sesuai apakah harus ditutup atau harus direlokasi,” lanjut Pandu. (aliy)