Angkasa Pura 2

Marsandy, Cadet STIP Yang Jatuh Cinta Pada Kapal Supply

Dermaga SDMMinggu, 24 September 2017
IMG-20170915-WA0018

JAKARTA (Beritatrans.com) – Berlayar di kapal supply migas tak selamanya menyedihkan. Kapal yang melayani pengeboran lepas pantai di berbagai belahan dunia itu ternyata masih menjanjikan harapan bagi masyarakat.

“Harga minyak sedang jatuh, tapi tidak selamanya begini. Harga minyak pun akan kembali naik. Saat ini kita harus berbenah diri, bekerja yang lebih efisien dan mempersiapkan agar lebih baik lagi,” kata cadet STIP Marsandy Revendi Aguw kepada beritatrans.com di Jakata, kemarin.

Dia baru turun praktik laut (prala) di Deep Sea Supllay Management PTE. LTD Singapura. Cadet Nautika STIP itu baru turun kapal setelah setahun berlayar di perusahaan yang berbasis di Sungapura itu.

Diakui Marsandy, memang tak terlalu banyak order untuk kapal-kapal supply saat ini. “Tapi, sebagai cadet aku justru banyak belajar dan kebetulan nakhoda Capt. Dendy Bernard adalah alumni STIP Angkatan XXXI yang sangat peduli pada cadet,” kata Marsndy.

Putra pasangan Capt. Darwil Aguw dan Victoria Taroreh itu tetap konsisten pada niatnya semula untuk sukses menjadi pelaut. Saat cadet dan praktik di kapal pun, berhasil dijalani dan dilakukan dengan baik, tekun dan semua dipahami dan dipelajari dengan baik.

“Saat berlayar, banyak yang diajarkan dilatih oleh nakhoda dan para perwira di kapal lainnya. Saat kapal sandar, kita juga diperbantukan bahkan ikut membantu dibagian mesin. Jadi, menjadi cadet saat ini justru menguntungkan karena bisa belajar semua, baik di deck atau di mesin,” jelas Marsandy.

Saat ini, menurut Marsendy, dia sudah menyelesaikan penulisan skripsi atau tugas akhir pascalayar. Judul skripsi yang diangkat adalah “Optimalisasi Perawatan Anchor Handling di kapal AHTS Sea Ocelot”.

Dalam proses penulisan skripsi, Marsandy dibimbing oleh Capt. E.Purnomo, MM dan Drs. Sugiyanto, MM. Kalau dari sisi skripsi, tukas Marsandy, sudah tak ada masalah. Penulisan sudah selesai meski ujian baru akan dilakukan smester VIII nanti.

“Selama smester VII dan VIII ini tetap mengikuti kuliah dan ujian ketrampilan pelaut. Tapi, skripsi sudah selesai dan tinggal menunggu waktu ujian,” kilah putra Manado, kelahiran Jakarta itu.
Kerja di kapal Supply

Cita-cita Marsandy pun cukup realistis, ia ingin secepatnya lulus dan bisa bekerja dengan ijazah pelaut dari STIP Jakarta. “Saya tetap ingin bekerja di kapal supply bahkan saya sudah catuh cinta pada tipe kapal tersebut. Kapal itu mempunyai masa berlayar pendek, kontrak kerja juga pendek dengan hasil atau gaji tidak terlalu mengecewakan,” kilah dia.

Kerja di kapal supply, menurut Marsandy, kesejahteraannya akan sangat tergantung pada jenis dan ukuran kapal. Tapi sebagai perbandingan, selama berlayar sebagai cadet saya sudah mendapatkan uang saku US$500 per bulan.

“Jadi, sama dengan perusahaan pelayaran asing lain, meski diakui pelayaran dan pengalaman berlayarnya juga tidak terlalu jauh,” aku Marsandy.

Selama prala, papar Marsandy, paling banyak berlayar dari Batam, Singapura ke Belawan. Yang tak jauh-jauh dari Tanah Air.

Menurut Marsandy, dia ingin segera mandiri dan bebas dari bebas beban orang tua. “Jangan sampai membebani orang tua secepatnya. Oleh karena itu, kalau sudah kerja dan uang cukup akan membeli rumah. Bila Tuhan mengizinkan bisa kerja di darat sebagai PNS, pegawai BUMN atau lainnya,” terang Marsandy.

Bukan hanya itu, dia menambahkan, sebagai manusia normal tentu ingin berkeluarga. “Tapi, kalau nanti berkeluarga harus dipastikan sudah bisa mendiri dan tidak membebani orang tua atau keluarga,” tandas Marsandy.(helmi)