Angkasa Pura 2

GINSI: Tarif Kesepakatan Pemakaian GLC Di Pelabuhan Tanjung Priok Lebih Ringan

DermagaSabtu, 30 September 2017
IMG-20170929-WA0001-600x400

JAKARTA (BeritaTrans.com) – Tarif kesepakatan pemakaian alat Dermaga Gantry Luffing Crane (GLC) di Pelabuhan Tanjung Priok lebih ringan bagi pemilik barang dibanding tarif sebelumnya.

Hal itu dikatakan Ketua BPD Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) DKI Capt Subandi dalam bincang bincang dengan BeritaTrans.com, Sabtu (30/9/2017).

Menurut Subandi, kalau sebelumnya tidak peduli apakah kapal dilengkapi crane/derek atau tidak, pemilik barang/ wakilnya wajib memakai GLC Pelindo II dengan tarif sebesar Rp 17.500/metrik ton (MT).

35143e830e4c9046e3751aca5e884e76-600x400-600x400

Tapi Jumat (29/9/2017) kemarin ditandatangani tarif kesepakatan pemakaian GLC dan tarif behandle oleh GM Pelabuhan Cabang Tanjung Priok, GINSI, Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALF), Asosiasi Perusahaan Bongkar Muat Indonesia (APBMI) dan Indonesian National Shipowner’s Association (INSA).

Tarif kesepakatan untuk GLC
meliputi kalau kapal dilengkapi
derek (ship’s gear) dan bisa beroperasi, penggunaan GLC hanya 25% dari volume barang dengan tarif Rp 11.500/ MT.

Kalau kapal tidak ada dereknya (ship’s gearless) tarif pemakaian GLC Rp.20.000/MT, dan kalau karena sesuatu hal crane/derek kapal mengalami kerusakan, tarif GLC Rp 17.500/MT. Sedangkan tarif behandle, kata Subandi, sama dengan tarif yang berlaku di TPS Graha Segara.

SIARAN PERS PTP

Siaran pers PT Pelabuhan Tanjung Priok sebagai operator Cabang Pelabuhan Tanjung Priok kemarin mengatakan tarif kesepakatan tersebut berkaitan dengan penyesuaian tarif behandle karantina dan tarif penggunaan alat dermaga Gantry Luffing Crane (GLC).

Kepala Otoritas Pelabuhan Tanjung Priok, I Nyoman Gede Saputra mengatakan kesepakatan tarif ini bukan merupakan penurunan maupun kenaikkan tarif.

Tapi sebagai kepastian tarif behandle di Terminal Operasi 3 PTP yang sebelumnya tidak ada. Selain itu membuat payung hukum terhadap tarif penggunaan GLC agar jelas dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

“Berdasarkan kesepakatan, tarif behandle karantina Terminal Operasi 3 akan disamakan dengan tarif behandle yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Bea dan Cukaiā€, ujar Nyoman. (wilam)

loading...