Angkasa Pura 2

Balitbanghub Geber FGD Sarana dan Prasarana Jalur Penerbangan di Selatan Pulau Jawa

LitbangJumat, 6 Oktober 2017
Balitbanghub FGD Yogya

YOGYKARTA (BeritaTrans.com) – Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) menggelar Focus Group Discussion “Sarana dan Prasarana Jalur Penerbangan di Selatan Pulau Jawa.”

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dalam sambutan yang dibacakan Kepala Balitbanghub Ir. Umiyatun Hayati Triastuti, mengutarakan transportasi udara, sebagai bagian dari jaringan besar transportasi nasional, diakui sebagai kontributor penunjang utama terhadap perkembangan ekonomi dan sosial.

“Selain itu, pendorong konektivitas wilayah,serta memfasilitasi pergerakan dan rantai pasok produk komoditas baik dalam skala nasional, regional, maupun internasional,” ungkapnya dalam diskusi, yang dihadiri antara lain Kepala Pusat Penelitian Transportasi Udara Balitbanghub Ir. Moh Alwi, MM, Mantan Menteri Perhubungan dan Dirjen Perhubungan Budi Mulyawan, serta pakar Narendra.

Balitbanghub FGD Yogya1

Balitbanghub FGD Yogya2

Seiring meningkatnya demand terhadap jasa transportasi udara, saat ini angka statistik telah menunjukkan bahwa pergerakan pesawat udara mencapai 1,2 juta per tahun yang mengangkut lebih dari 150 juta penumpang dan 1 juta ton kargo. Pembangunan infrastruktur pun terus berlanjut dimana dalam 10 hingga 20 tahun kedepan kita akan memiliki lebih dari 300 bandar udara.

Transportasi udara sebagai salah satu heavily regulated sector sudah selayaknya setiap penyelenggaraan, perkembangan, dan perubahan yang ada harus mengacu kepada peraturan dan pedoman yang berlaku. Hal ini bertujuan selain untuk mengupayakan peningkatan bisnis dan operasi dalam koridor yang terarah, juga untuk mempertahankan tingkat keselamatan penerbangan yang menjadikan transportasi udara sebagai moda transportasi yangpaling “safe”.

Indonesia sebagai negara kepulauan merupakan salah satu negara di dunia dengan wilayah terluas. Dengan luas wilayah daratan sebesar 1.476.049 km2, ruang udara yang kita layani jauh lebih besar lagi yaitu 2.219.629 km2 yang terbagi kedalam dua Flight Information Region.

Sebagai salah satu sumber devisa negara, ruang udara kita menjadi primadona bagi pesawat-pesawat yang melakukan perjalanan antara bagian utara Samudera Hindia dan bagian selatan Samudera Pasifik, di samping juga tingginya dan terus bertumbuhnya pergerakan pesawat domestik.

Dalam tatanannya, ruang udara ditetapkan untuk mewujudkan penyelenggaraan pelayanan navigasi penerbangan yang andal dalam rangka keselamatan penerbangan yang mengacu kepada peraturan-peraturan terkait dengan penetapan dan penggunaan ruang udara.

Selain banyak menitikberatkan pelayanan navigasi kepada penerbangan sipil, kita ketahui juga bahwa dalam ruang udara nasional terdapat Special Use Airspace yang digunakan oleh Tentara Nasional Indonesia khususnya TNI Angkatan Udara.Walaupun ruang udara khusus tersebut berstatus prohibited dan atau restricted untuk penerbangan sipil, menjadi kesadaran bagi kita semua mengenai pentingnya penggunaan ruang udara khusus dalam rangka kebutuhan TNI untuk mempertahankan dan meningkatkan kesiapan Angkatan Udara serta upaya menjaga pertahanan dan keamanan Indonesia.

Namun demikian, jika selama ini penggunaan ruang udara nasional ditujukan secara terpisah baik untuk sipil maupun militer maka terbitnya AIP Supplement no. 39/17 menjadi pioneer dalam pengimplementasian Flexible Use of Airspace dimana ruang udara dapat digunakan bersama seoptimal mungkin.Seperti yang kita ketahui sebelumnya, bahwa ICAO telah memfasilitasi kerangka kerja sama dan koordinasi antara sipil dan militer dalam pengunaan ruang udara bersama serta mendorong negara anggota untuk dapat mengimplementasikan Flexible Use of Airspace tersebut.

JALUR TERBUKA
Dengan adanya AIP Supplement no. 39/17 tersebut maka saat ini jalur penerbangan sipil terbuka untuk wilayah selatan Pulau Jawa yang melintasi sebagian dari ruang udara khusus WA(R)-1 dengan batasan-batasan tertentu.

Meskipun bertujuan untuk menyelaraskan antara pertumbuhan transportasi udara dengan kapasitas ruang udara, pengelolaan ruang udara dalam Flexible Use of Airspace menjadi tanggung jawabbersama; dibutuhkan komunikasi, kepercayaan, dan kolaborasi yang baik sehingga target keselamatan, keamanan, dan operasional masing-masing pihak dapat tercapai.

Selain itu, unsur-unsur penunjang dan pendukung lainnya perlu diperhatikan dengan seksama mengingat jalur penerbangan yang telah dibuka tersebut merupakan jalur baru yang selama ini belum pernah diterbangi secara reguler oleh penerbangan sipil. Oleh karena itu, fasilitas dan prasarana yang diperlukan dalam menunjang operasi penerbangan harus direncanakan dan disiapkan mulai dari sekarang.

Melalui FGD ini, dia berharap dapat membangun peluang dan sekaligus menjawab tantangan tersebut dan membahas prioritas-prioritas yang diperlukan dalam upaya penggunaan jalur penerbangan dalam ruang udara bersama di selatan Pulau Jawa.

Menteri juga mendorong anda semua untuk dapat memanfaatkan FGD ini sebaik-baiknya dan berperan aktif dalam diskusi yang akan dilakukan karena dalam acara seperti ini lah manfaat bekerja bersama dapat kita raih. Dengan partisipasi yang aktif tersebut, saya percaya bahwa setiap dari kita akan kembali dengan membawa perspektif yang lebih jelas dalam komitmen dan upaya kita untuk saling berkontribusi terhadap peningkatan penerbangan Indonesia. (awe).