Angkasa Pura 2

Balitbanghub: Sangat Mahalnya Biaya Angkutan Barang Hambat Daya Saing Industri & Perdagangan

Dermaga Kokpit LitbangJumat, 6 Oktober 2017
2017-10-06 16.58.35

YOGYAKARTA (BeritaTrans.com) – Buruknya kinerja logistik Indonesia terefleksi dari biaya angkutan barang yang sangat mahal, yang menjadi salah satu penghambat daya saing industri dan perdagangan Indonesia di tingkat internasional.

Hal itu dikemukakan Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Perhubungan (Balitbanghub) Kementerian Perhubungan Ir. Umiyatun Hayati Triastuti, M.Sc., ketika membuka Focus Group Discussion bertema ‘Pengukuran Kinerja Logistik Indonesia, di Yogyakarta, Jumat (6/10/2017).

Dalam FGD, yang menghadirkan sejumlah pakar antara lain mantan Menteri Perhubungan dan Dirjen Perhubungan Budi Mulyawan serta dari kalangan asosiasi, pelaku usaha logistik dan perguruan tinggi itu, Umiyatun mengutarakan laporan Bank Dunia memperlihatkan performansi logistik Indonesia mengalami perkembangan fluktuatif.

2017-10-06 17.08.36

2017-10-06 16.59.28

Hasil survey World Bank dalam Logistics Performance Index (LPI) terbaru tahun 2016 menunjukkan bahwa kinerja sektor logistik Indonesia mengalami penurunan dibandingkan tahun 2014.

Pada tahun 2014 kinerja logistik Indonesia mendapatkan skor 3,08 dan berada pada peringkat ke-53 dari 160 negara, sedangkan pada tahun 2016 Indonesia berada pada peringkat ke-63 dari 160 negara dengan skor 2,98.

Penurunan skor LPI Indonesia terjadi pada semua dimensi, kecuali international shipment dan tracking & tracing. Dari enam dimensi LPI Indonesia 2016, tiga dimensi (kompetensi dan kualitas jasa logistik, tracking & tracing, dan timeliness) mempunyai skor di atas 3 dan tiga dimensi lainnya (customs, infrastruktur, dan pengiriman internasional) di bawah 3.

Salah satu dimensi yang perlu mendapatkan perhatian adalah infrastruktur yang mempunyai skor terendah, yaitu 2,65. Infrastruktur menjadi salah satu masalah utama di Indonesia, terutama menyangkut jumlah, kapasitas, dan penyebarannya.

Umiyatun menuturkan kinerja logistik suatu negara dalam mendukung perdagangan, baik domestik maupun internasional sangat penting bagi pertumbuhan ekonomi dan daya saing. Saat ini sektor logistik sudah dianggap sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi. Tantangan dan pengembangan masa depan yang dihadapi oleh berbagai negara di dunia adalah: globalisasi, konektivitas, digitisasi, dan environment.

Pembangunan infrastruktur perhubungan yang ramah lingkungan dan kebutuhan data real time sangat cepat menjadi tuntutan guna mewujudkan layanan sektor transportasi yang prima. Berbagai upaya dilakukan pemerintah Indonesia untuk meningkatkan konektivitas baik dalam pulau, antar pulau maupun antar negara.

Indonesia berkomitmen untuk jadi poros maritim dunia dan membangun konektivitas dengan terus membangun infrastruktur maritim, mengembangkan tol laut, menambah armada dan meningkatkan pengelolaan pelabuhan.

Pembangunan infrastruktur transportasi membutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemangku kepentingan. Dalam hal ini termasuk komunikasi dengan para pelanggan selalu dilakukan guna mengakomodir masukan dan keluhan dalam rangka kebutuhan peningkatan pelayanan.

Indikator logistik merupakan variabel-variabel yang dapat digunakan untuk mengevaluasi keadaan yang memungkinkan terjadinya pengukuran dan perubahan mengenai sistem logistik yang ada pada suatu wilayah.

Untuk itu, dia menuturkan dari penelitian ini diharapkan dapat dihasilkan beberapa informasi dan kebijakan terkait dengan peningkatan kualitas infrastruktur dalam menunjang kinerja logistik di Indonesia, faktor-faktor atau variabel yang berpengaruh terhadap kinerja logistik di Indonesia serta pengaruh kinerja logistik terhadap PDRB.

“Dan yang terakhir adalah kebijakan yang diperlukan untuk meningkatkan kinerja logistik di Indonesia,” jelas Kabalitbanghub.

Badan Litbang Perhubungan pada tahun ini sedang melaksanakan satu penelitian yang terkait dengan performansi logistik Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan variabel dan indikator yang berpengaruh terhadap kinerja logistik sesuai dengan karakteristik Indonesia.

Melalui FGD, dia mengharapkan peserta dapat berpartisipasi aktif dengan memberikan saran dan masukan yang berguna bagi penyusunan penelitian ini, sehingga nantinya dapat diformulasikan menjadi rumusan kebijakan yang implementatif. (awe).