Angkasa Pura 2

Akibat Angkutan Daring, Nyaris Separuh Angkot Bandung Tak Operasi

KoridorKamis, 12 Oktober 2017
foto-demo-angkot

BANDUNG (beritatrans.com) – Gencarnya perkembangan angkutan penumpang berbasis dalam jaringan (daring) atau on line, membuat nyaris separuh angkutan kota di Bandung Raya sudah tidak beroperasi.

“Jumlah angkot yang ada di Bandung raya 15.000 angkot, hampir 50 persen tidak operasional karena sudah tidak masuk ke hitungan usahanya,” kata Ketua harian Wadah Aliansi Aspirasi Transportasi (WAAT) Jawa Barat Anton Ahmad Fauzi, di Bandung, Kamis (12/18/2017).

Anton mengatakan penurunan operasi angkot terjadi dalam setahun terakhir, seiring dengan makin banyaknya layanan pemesanan transportasi via daring, yang umumnya bertarif lebih rendah ketimbang angkutan umum konvensional.

Penurunan pendapatan angkot, menurut dia, membuat para sopir tidak bisa menutup biaya setoran ke pengusaha angkot sehingga mobil-mobil angkutan terpaksa harus dikandangkan.

“Boro-boro untuk setor, untuk dibawa pulang ke rumah juga mereka ketar-ketir,” kata Antos seperti dilansir Antara.

Ia melanjutkan kehadiran layanan transportasi berbasis aplikasi tidak hanya mengancam angkot saja, namun juga moda transportasi lain seperti ojek, dan becak.

“Efeknya ke transportasi yang sudah eksis duluan, bukan hanya angkot saja,” kata dia.

Dia berharap pemerintah pusat segera mengeluarkan kebijakan mengenai layanan transportasi berbasis aplikasi.

“Kita tidak anti terhadap online, tapi yang harus ditekankan adalah regulasinya harus jelas,” kata dia.

Sementara itu, pengamat transportasi Djoko Setijowarno memandang kehadiran layanan pemesanan transportasi daring tidak berbanding lurus dengan pembukaan lapangan kerja baru, namun justru mematikan usaha yang sudah berlangsung.

“Alhasil menimbulkan pengangguran baru,” katanya.

Ia mengatakan warga memilih layanan itu karena menawarkan tarif lebih rendah dan kenyamanan.

“Perlu ada perhitungan sebetulnya biaya atau cost yang wajar jika transportasi online dijalankan. Tanpa subsidi dan gimmick marketing tak mungkin bisa harga menjadi sangat murah,” kata dia.

“Nampaknya perlu ada upaya untuk mengaudit model bisnis semacam ini. Sebab pada kenyataannya, di luar negeri tarif taksi online tak banyak beda dengan taksi resmi,” kata dia. (aliy)