Angkasa Pura 2

20 Tahun Impor Garam, Tertinggi 2016 Sebanyak 3 Juta Ton

Kelautan & PerikananJumat, 13 Oktober 2017
garam-impor_20150818_133744

JAKARTA (beritatrans.com) – Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (Kiara) menyampaikan bahwa impor Indonesia telah puluhan tahun melakukan impor garam. Impor garam tertinggi terjadi pada tahun 2016 lalu yang mencapai 3 juta ton. Ironinya, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki garis pantai terpanjang di dunia dengan matahari yang cukup sepanjang tahun.

“Indonesia ternyata sudah 20 tahun melakukan impor garam, ironinya, angka impor garam tertinggi terjadi di tahun 2016 yaitu mencapai 3.000.000 ton,” kata Sekjen Kiara Susan H Romica di Jakarta, kemarin.

Romica mengatakan, tahun ini impor garam sebanyak 75.000 ton dari Australia. Hal ini dimaknai Kiara merupakan dampak dari mandeknya tata kelola garam Indonesia selama berpuluh-puluh tahun.

“Ironinya, untuk pertama kali Indonesia dalam 5 tahun terakhir melakukan impor garam konsumsi,” kata Romica

Pemerintah seharusnya menjadikan anomali impor ini menjadi catatan. Garam seharusnya jadi komoditas strategis bangsa ini. Artinya, garam harus dibenahi mulai dari tata kelola hingga pasar.

Melalui UU No. 7 Tahun 2016 Pemerintah seharusnya memiliki political will untuk menghentikan impor garam karena praktik ini berlangsung sejak lama.

Pusat Data dan Informasi KIARA mencatat, setidaknya sejak tahun 1990 Impor garam telah dilakukan sebanyak 349.042 ton lebih dengan total nilai USD 16.976.536. Impor garam terus dilakukan sampai hari ini dengan berlindung di balik alasan kelangkaan stok garam sebagai dampak dari kerusakan iklim dan anomali cuaca.

“Selain itu, impor garam sebanyak 75 ribu ton dari Negeri Kangguru yang dilakukan oleh Kementerian Perdagangan baru-baru ini jelas-jelas mengangkangi Undang-Undang No. 7 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Nelayan, Pembudidaya Ikan, dan Petambak Garam,” kata Amin Abdullah dari Persatuan Petambak Garam Indonesia.

Kiara juga mencatat, permasalahan substansi yang dihadapi oleh petambak garam Indonesia adalah: minimnya sarana dan prasarana di tambak garam; buruknya akses air bersih dan sanitasi di tambak garam; minimnya intervensi teknologi berbiaya murah untuk produksi dan pengolahan garam; besarnya peran tengkulak di dalam rantai distribusi dan pemasaran garam; dan harga garam yang rendah.

Kelima permasalahan yang dihadapi oleh petambak garam di atas semakin diperburuk dengan adanya ketentuan impor garam industri tidak dikenakan bea masuk melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 125 Tahun 2015 tentang Ketentuan Impor Garam yang berlaku sejak Desember 2015. (aliy)