Angkasa Pura 2

Paradigma Transportasi Umum Harus Berubah

Koridor SDMJumat, 13 Oktober 2017
Kemacetan Parah di Gatot Subroto

JAKARTA (Beritatrans.com) – Kegagalan menata transportasi umum di berbagai daerah di Indonesia telah menimbulkan kegaduhan sekarang.

“Salah satunya dengan menuculnya transportasi umum daring yang kini merebak sekaligus mengundang pro dan kontra di masyarakat,” kata Kepala Lab Transportasi Unika Soegijopranoto Semarang Djoko Setijowarno, ST, MT kepada Beritatrans.com di Jakarta, Jumat (13/10/2017).

Publik Indonesia, lanjut dia, menginginkan layanan transportasi umum mendekat kawasan permukiman. Sementara, transportasi umum di Indonesia belum sepenuhnya memenhui kebutuhan masyarakat tersebut.

“Andai berjalan kaki, tidak lebih dari 500 meter. Transportasi umum daring menawarkan solusi itu,” jelas Djoko.

Kebutuhan layanan itu, lanjut dia, sangat lambat diantisipasi pemerintah. Ketika sepeda motor mudah dan murah mendapatkannya, jadilah sepeda motor menjadi sarana transportasi umum.

“Walau tidak masuk kategori transportasi umum dalam UU No.22/2009 LLAJ,” kilah Djoko.

Grab car

Pendekatan Harus Berubah

Oleh karena itu, menurut Djoko, Paradigma pendekatan membangun transportasi umum harus berubah.

Semula bisnis transportasi umum dengan mengandalkan setoran, sekarang harus membeli layanan (buy the service).

Transportasi umum ke depan, menurut Djoko, bukan lagi berorientasi pada pendapatan tapi pada pengguna. Rute menyesuaikan dengan kebutuhan publik.

Rute transportasi umum harus menjangkau penumpang yang berada di area permukiman.

Kendalanya, program transportasi umum tidak mendatangkan profit, tapi memberikan benefit.

Sayang, pembangunan transportasi umum seperti itu kurang disukai kepala daerah.

“Mereka lebih suka program bangun jalan yang jelas menghadirkan profit dalam jangka pendek,” tegas Djoko.(helmi)