Angkasa Pura 2

Ratusan Kapal Cantrang Belum Lepaskan Cantrang

Dermaga Kelautan & PerikananSelasa, 31 Oktober 2017
images

BREBES (BeritaTrans.com) – Menjelang penutupan batas akhir penggunaan alat tangkap cantrang pada akhir Desember mendatang, ratusan kapal di Kabupaten Brebes justru enggan untuk mengganti alat tangkap mereka.

Dari 221 kapal yang ada, hanya dua kapal yang sudah mengganti alat tangkap yang disesuaikan oleh pemerintah. Sebab, nelayan tidak mampu untuk mengganti alat tangkap karena tingginya biaya yang harus dikeluarkan.

Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Brebes, Tandi mengungkapkan, dari 221 kapal dengan ukuran di atas 30 gross ton (GT) milik nelayan Brebes, hingga kini diketahui baru dua unit yang telah berganti dengan alat tangkap ramah lingkungan.

Yakni, dari jaring cantrang beralih ke jaring gilnet. Sementara untuk jenis kapal dengan ukuran di bawah 10 GT dari total sebanyak 341 unit jaring, yang baru berganti sebanyak 75 unit. “Kapal yang muatannya di 30 GT baru dua yang sudah mengganti alat tangkap yang ramah lingkungan,” ujarnya, Senin (30/10).

Dia mengatakan, khusus untuk kapal berukuran di bawah 10 GT, pihaknya menargetkan bulan depan semua penggantian alat tangkap ramah lingkungan akan terlealisasikan. Pasalnya, bagi jenis kapal penggani alat tangkap itu akan mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat.

“Semua jaring yang kita serahkan ke nelayan jenis kapal itu (di bawah 10 GT) merupakan bantuan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), namun secara bertahap. Tahap pertama sudah disalurkan ke Prapag Kidul, Losari,” ungkapnya.

Dari total keseluruhan jumlah kapal di bawah 10 GT sebanyak 314, kata dia, semuanya sudah didata oleh pihaknya. Di mana dari pendataan tersebut diajukan ke pemerintah pusat untuk mendapatkan bantuan. Sedangkan untuk kapal ukuran 30 GT, penggantian jaring menjadi tanggung jawab pemilik kapal.

“Nelayan yang memiliki kapal di bawah 10 GT merupakan nelayan kecil, sehingga dibantu oleh pemerintah. Bagi yang belum terdata nantinya akan diusulkan tahun depan,” ujarnya.

Tandi mengakui saat ini kendala yang dihadapi di lapangan adalah pengarahan kepada pemilik kapal di atas 30GT untuk ganti alat tangkap. Meski telah disosialisasikan, namun realisasi di lapangan masih minim (penggantian alat tangkap).

Selain karena biayanya yang sangat mahal, pemilik kapal juga terbentur beban hutang di bank. Sehingga, ketika dibantu dengan sistem pengucuran bantuan kredit lunak, meraka keberatan.

“Memang sangat mahal. Dana yang digunakan untuk menganti jaring di kapal di atas 30 GT itu harus mengeluarkan dana sebesar Rp75 juta jadi tidak heran kalau baru dua yang menggantinya,” terang dia.

Lebih lanjut dia menambahkan, pihaknya akan terus mensosialisasikan aturan tersebut. Menginggat jika tidak dipenuhi, nelayan bisa dikenai sanksi tegas. “Kalau untuk ukuran kapal di atas 30 GT ini, kami tidak bisa berbuat banyak karena biayanya yang mahal,” pungkasnya. (lia/sumber: radartegal.com)