Angkasa Pura 2

BRT DI TARAKAN KALTARA KURANG SOSIALISASI

Koridor SDMSabtu, 4 November 2017
IMG-20171104-WA0017

IMG-20171104-WA0014

JAKARTA (Beritatrans.com) – Awal Oktober 2017, sebanyak 10 bus bantuan Ditjen Perhubungan Darat (Ditjen Hubdat) Kementerian Perhubungan (Kemhub) di Tarakan, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara). Kemhub mulai dioperasikan di Kota Tarakan.

“Rencananya akan dioperasikan sembilan rute bus rapit transit (BRT),” kata Kepala Lab Transportasi Unika Spegijopranoto Semarang Djoko Setijowarno, ST, MT kepada Beritatrans.com di Jakarta, Sabtu (4/11/2017).

Data yang dihimpun dari Dishub Kota Tarakan menyebutkan, (1) Rute Komuter/Rute Kota (Pasar Tenguyu PP), (2) Pasar Tenguyu-P. Amal Lama PP, (3) Pasar Tenguyu -Terminal Gusher PP (via Kampung Bugis Perumnas), (4) Pasar Tenguyu-Gusher PP (via Sebengkok),

Selanjutnya, (5) Terminal Gusher – Juata Laut PP, (6) Pasar Tenguyu – Tanjung Pasir PP (Terminal Juata Laut), (7) Pasar Tenguyu – Tanjung Pasir (via Karungan), (8) Pasar Tenguyu – Tanjung Pasir (via Pepabri), dan (9) Pasar Tenguyu Binabung PP (Terminal Gusher -RSUD Mantri Raga).

Sayang, jelas Djoko, sejauh ini banyak warga Tarakan belum tahu rute dan besar tarif naik BRT ini untuk umum. “Kecuali para pelajar yang digratiskan,” jelas dia.

IMG-20171104-WA0008

Terlambat Masuk Sekolah

Namun karena masih kurang armada, menurut Djoko, waktu menunggu di halte bisa lebih dari 30 menit. Namun, pelajar yang terlambat masuk sekolah menggunakan BRT tidak dikenakan sanksi keterlambatan dari pihak sekolah.

Pengemudi mendapat gaji tetap Rp1,7 juta sebulan, masih dibawah upah mininum kota (UMK) Kota Tarakan. “Keterbatasan APBD yang berimbas minimnya anggaran subsidi transportasi umum menjadi kendala tersendiri,” kilah Djoko.

Belum lagi kendala lain, papar Djoko, yaitu sumber daya manusia (SDM) dan kelembagaan yang mengelola masih perlu dapat perhatian.

Pemerintah pusat melalui Kemhub, tambah Djoko, seharusnya lebih intensif dan terencana untuk memberikan pembinaan dan bantuan operasional secara rutin.

Jika tidak, menurut Djoko, jangan berharap dua tahun ke depan warga Kota Tarakan masih menyaksikan kondisi bus yang masih bagus seperti sekarang.(helmi)

loading...