Angkasa Pura 2

ARPI: Indonesia Kekurangan Rantai Pendingin Untuk Komoditas Pertanian dan Perikanan

Dermaga Koridor LitbangSelasa, 7 November 2017
IMG-20171107-WA0007

JAKARTA (Beritatrans.com) – Indonesia membutuhan fasilitas dan rantai pendingin untuk mendukung angkutan kargo nasional. Akibatnya, komoditas perdagangan khususnya hasil pertanian dan perikanan di Indonesia belum maksimal.

“Untuk matra darat misalnya,  kapasitas truk yang dilengkapi pendingin  hanya sekitar 3.000 unit atau kapasitas 15.000 ton per hari. Jumlah itu hanya sebesar 10% dari kehutuhan,” kata Ketua Assosiasi Rantai  Pendingin Indonesia (ARPI) Hassanudin  pada acara FGD  yang digelar Badan Litbang Perhubungan di Jakarta, Selasa (7/11/2017).

Sementara, lanjut dia,  kebutuhan di Indonesia rata-rata mencapai 150.000 ton per hari. Komoditas yang butuh rantai pendingin terutama hasil pertanian dan perikanan yang cepat rusak atau busuk. Jika  tak dilengkapi rantai pendingin dalam proses distribusinya bisa rusak.

Kebutuhan fasilitas dan alat pendingin bukan7 hanya di moda  darat,  laut dan udara. “Produk perikanan misalnya banyak dihasilkan di Indonesia timur. Sedang konsumen atau industrinya di barat khususnya Jawa,” jelas Hasanudin.

Produk perikanan dari Papua atau Maluku misalnya,  papar Hasanudin, jika tak dilengkapi  petikemas berpendingin  maka bisa rusak. “Oleh karena itu, semua butuh fasilitas pendingin yang baik dan meliputi seluruh moda,” terang Hasanudin.

Untuk meningkatkan kualitas barang lndonesia baik untuk ekspor atau kebutuhan dalam negeri, menurut Hasanudin,  harus didukung fasilitas pendingin yang bagus. Mulai dari depo pengumpul, rantai distrubusi baik di moda darat, laut, udara serta kereta api (KA).

Dikatakan, butuh investasi besar dan disinilah perlu peran serta semua  pihak baik Pemerintah atau swasta. “Untuk daerah yang sudah ekonomi dan pangsa muatan besar, mungkin swasta berani masuk. Sementara di daerah remote area maka butuh  peran pemerintah,” papar Hasanudin.

Dia menambahkan, fasilitas  pendingin juga bervariasi mulai produk impor atau buatan dalam negeri. “Yang pasti, ada alat pendingin produksi dalam negeri dengan harga bersahabat,” tukas Hasanudin.(helmi)