Angkasa Pura 2

Inilah Tips Capt. Novy Tetap Bugar Sebagai Pilot Aerobatik

Kokpit SDMSenin, 13 November 2017
IMG-20171109-WA0005

Capt. Novy terbang aerobatik

CURUG (Beritratrans.com) – Ketua Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Capt. Novyanto Widadi, SAP, MM adalah salah satu pilot aerobatik terbaik di negeri ini. Ia biasa tampil di berbagai perhelatan, termasuk ikut meramaikan ajang Bandung Airshow 2007, di Lanud Husein Sastranegara, Bandung akhir pekan lalu.

Bukan pekerjaan mudah menjadi pilot aerobatik itu. Oleh karenanya, Capt. Novy mempunyai resep tersendiri untuk menjaga kebugaran tubuh agar senantiasa fit dalam melakukan aerobatik udara.

Ia memilih olah raga lari untuk menunjang hal tersebut. “Saya membiasakan diri lari, minimal tujuh kilometer. Syukur bisa lebih kalau waktunya cukup,” ujarnya kepada Angkasa Review beberapa waktu lalu.

Resep lainnya, adalah mengatur pola makan demi menjaga tekanan darah serta istirahat yang cukup apabila besok akan terbang.

Berbeda dengan pilot pesawat komersial yang bertugas menerbangkan penumpang dengan nyaman dari satu bandara ke bandara lainnya.

Pilot aerobatik bergelut dengan manuver-manuver ekstrem di udara. Pilot dihadapkan pada perubahan gaya gravitasi dan efek yang ditimbulkannya.

Ketika mengalami gaya G seiring terjadinya peningkatan kecepatan terbang pesawat (akselerasi) atau disebut gravitasi positif (+G), menurut Capt. Novy, pilot akan mengalami peningkatan beban tubuh beberapa kali lipat sesuai besaran gravitasi yang dialami.

Misalnya, pilot mengalami tarikan 5G, maka beban tubuh yang dirasakan adalah lima kali berat tubuh aslinya. Dari 60 kg menjadi 300 kg.

Pada saat mengalami +G, pilot juga akan mengalami sirkulasi darah yang dipaksa mengalir ke bagian bawah tubuh termasuk abdomen (perut). Akibatnya, pasokan darah ke otak dan mata berkurang sehingga pada kondisi yang tidak terkendali bisa menyebabkan hipoksia (kekurangan pasokan oksigen).

Capt. Novy terbang akrobatikk

Grey-out (penglihatan menjadi kabur keabu-abuan), black-out (penglihatan menjadi kabur kehitaman), dan bahkan bisa mengalami kehilangan kesadaran atau G-LOC (Gravity induced Loss of Consciousness).

Sementara ketika pilot mengalami gravitasi negatif (-G) seiring terjadinya pengurangan kecepatan terbang (deselerasi), maka yang dirasakan pilot adalah timbulnya sirkulasi darah yang tiba-tiba dipaksa mengalir ke tubuh bagian atas termasuk kepala.

Hal ini akan menimbulkan hiperemia atau berkumpulnya darah di bagian tertentu. Bila di kepala maka kepala pun akan terasa berat dan sakit.

Hiperemia di kepala juga akan menyebabkan mata menjadi merah dan penglihatan menjadi kabur kemerahan (red-out). Pada kondisi yang terlalu lama mengalami hal itu, pilot bisa mengalami kehilangan kesadaran.

Untuk itulah, para penerbang tempur maupun para pilot tim aerobatik, dilengkapi dengan pakaian antigravitasi (G-Suit) guna mencegah efek G. Terlebih karena mereka melakukan kegiatannya secara kontinyu dan berulang-ulang.
STPI.(helmi)